Jayapura, Jubi – Tim Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) tiba di lokasi pengungsian di halaman Gereja Kingmi Yeriko Halihalo, Kampung Yeleas, Distrik Tangma, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (10/7/2025) pukul 13.30 WP. Mereka memfasilitasi prosesi pemulangan ratusan pengungsi ke kampung masing-masing, yang diawali dengan ibadah bersama dan ditutup dengan tradisi bakar batu sebagai wujud syukur dan rekonsiliasi warga bersama tokoh masyarakat setempat.
“Kami lakukan bakar batu supaya mereka bisa pulang ke kampung masing-masing, berkebun, beraktivitas seperti biasa,” kata Hesegem dalam rilis yang diterima Jubi Jumat (11/7/2025).
Prosesi adat ini dilakukan sebagai penanda bahwa masing-masing pihak, TNI maupun TPNPB tidak melakukan kontak tembak di dalam kampung lagi.
“Dengan demikian di kemudian hari tidak boleh ada masyarakat yang menerima kelompok TPNPB-OPM dan TNI di daerah Tangma. Kalau mau berperang, di hutan-hutan sana! Bukan di dalam kampung, sehingga Masyarakat jadi korban,” katanya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Selanjutnya, YKKMP akan melakukan advokasi dan upaya pendekatan kepada para pengambil kebijakan, terutama tentang penarikan pasukan nonorganik di gunung Ongolo, Distrik Tangma Kabupaten Yahukimo.
Ketua Klasis Tangma, Pdt. Yanius Hesegem S.Th juga memberikan penguatan kepada para pengungsi.
“Benteng keselamatan terakhir kami ada di Gereja. Dengan demikian kita semua harus ada di gereja. Baik TPNPB-OPM dan TNI. Terlebih Masyarakat sipil di Tangma.Jika terjadi konflik bersenjata, umat Tuhan harus ada dalam Gereja. Dan paragembala harus melindungi umat dalam situasi kritis,” kata Ketua Klasis Tangma.
Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada umat Tuhan yang sudah dan mau bertahan dalam keadalan yang sulit.
“Kami sebagai gereja juga mengingatkan dan mengimbau agar umat Tuhan agar boleh lagi menanam ganja karena ganja merusak masa depan generasi di Tanah Papua,” pesan dia.

Pada kesempatan itu, Perwakilan solidaritas Mahasiswa Peduli Kemanusiaan menyampaikan bahwa mereka juga akan akan melakukan upaya advokasi ke semua pihak baik melalui media maupun dalam aksi demonstrasi agar tidak ada lagi warga Tangma yang jadi korban konflik bersenja.
“Kami juga mengajak generasi muda untuk tidak mengkonsumsi Ganja. Termasuk miras, narkoba, seks bebas dan narkoba. Harapan kami: Kita semua berjuang sama-sama untuk kesehatan, pendidikan dan ekonomi untuk kehidupan berkelanjutan,” katanya.
Kepala Kampung Yeleas, Emaus Asipalek menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan sehingga terhindar dari celaka selama operasi berlangsung di kampungnya.
“Saya juga menyampaikan terimakasih kepada Theo Hesegem selaku Pembela HAM dan ketua Tim untuk melakukan negosiasi dan pengamanan. Saya juga sampaikan Terimakasih kepada para mahasiswa dan wartawan yang selalu hadir untuk memastikan dan meliputi berita dan memastikan keadaan kami dalam keadaan aman,” katanya.
Tim YKKMP secara resmi mengantar para pengungsi kembali ke rumah masing-masing. Mereka lalu memasang baliho sebagai tanda larang untuk pertumpahan darah dan terjadi kontak senjata di daerah itu.
Sebelumnya, terjadi kontak senjata antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) pada 15 Juni 2025 di Kampung Aruli, Desa Yeleas, Distrik Tangma, Kabupaten Yahukimo, mengakibatkan jatuhnya dua korban jiwa dan memicu gelombang pengungsian sekitar 600 warga ke Gereja Yeriko, Halihalo.
Insiden kontak tembak yang terjadi sejak pukul 11.00 hingga 01.00 WP itu menewaskan Mesak Asipalek (45), seorang warga sipil, akibat luka tembak di bagian kepala, serta anggota TPNPB bernama Prek Sarera. Peristiwa tersebut menimbulkan ketakutan di kalangan warga, menyebabkan seperempat dari total populasi Distrik Tangma mengungsi ke dalam kompleks gereja.
Tim YKKMP yang dipimpin oleh Theo Hesegem, membentuk tim investigasi dan melakukan pemantauan lapangan sejak 17 Juni lalu. Rombongan Hesegem berangkat menuju lokasi pengungsian dan lokasi kejadian konflik untuk menghimpun informasi serta memastikan kondisi masyarakat sipil.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post