Jayapura, Jubi – Tak jauh dari Jais Aben Resort atau seringkali warga lokal menyebutnya Jais Aben ada resor tepi laut yang terletak di semenanjung, sekitar 15-20 km utara Madang, Papua Nugini.
Sudah beberapa kali jurnalis jubi.id tinggal di resor ini sejak 2002, 2018 dan 2023 dalam pertemuan di sana.
Karena resor di Madang berada di tepi laut, sehingga banyak ikan-ikan karang bermain termasuk gurita (octopus), para pengunjung selalu membuang roti ke laut dan ikan-ikan bergetar di permukaan air laut berebut roti dan makanan lainnya.
“Ikan-ikan di sini mungkin masih bodoh, maklum tak banyak yang memancing di sini,” ujar salah satu teman dari Jayapura mendiang Lyndon Pangkali, pengurus Forest Wacht Papua kala itu.
Untuk menuju ke resor ini cukup memakan waktu, 2 jam dari Kota Madang. Para pengunjung akan melewati salah satu pabrik ikan tuna terbesar di Papua Nugini yang berdekatan dengan resor mewah milik pengusaha asal Australia yang bekerja sama dengan pengusaha lokal pemilik tanah di situ.
Keinn aktivis lingkungan dan kehutanan dari Papua Nugini mengatakan bahwa pabrik pengolahan tuna utama yang beroperasi di Madang, Papua Nugini, adalah RD Tuna Canners Ltd , yang telah aktif sejak 1980-an.
“Perusahaan pengalengan ikan tuna ini punya perusahan asal Filipina yang bekerja sama dengan perusahan lokal PNG,” kata Keinn saat itu seraya menambahkan banyak pekerja lokal terutama kaum perempuan sebagai karyawan perusahan ikan tuna kaleng.
Pabrik pengalengan ikan tuna ini terletak di dekat Vidar, di sebelah utara Kota Madang, dan memiliki armada penangkap ikan serta dermaga sendiri.
Direktur Pelaksana RD Tuna Canners, Pete Celso berbicara tentang pembentukan operasi penangkapan dan pengalengan tuna terintegrasi pertama dan satu-satunya di PNG, yang dimulai oleh perusahaan milik Filipina di Madang di pantai utara PNG hampir 20 tahun yang lalu, bersama dengan perusahaan afiliasinya, RD Fishing.
Laman internet,www.
Celso memperkirakan bahwa RD Tuna Canners telah meningkatkan perekonomian sekitar K600 juta, sekaligus bekerja sama dengan 90% bisnis lokal.
Rincian penting mengenai industri tuna di Madang per tahun 2026 dari perusahaan RD Tuna Canners Ltd telah memproduksi sekitar 150 metrik ton per hari, mengolah ikan untuk pasar lokal dan ekspor, terutama ke Asia dan Eropa.
Zona industri Kelautan Pasifik (PMIZ)
Potensi ikan tuna yang melimpah di Samudera Melanesia Pasifik membuat pemerintah Papua Nugini memprakarsai ditetapkannya, Zona Industri Kelautan Pasifik (PMIZ) di Utara Kota Madang berdekatan dengan Pabrik Pengalengan Ikan Tuna pertama di Papua Nugini.
Ini merupakan,sebuah proyek pemerintah jangka panjang yang besar, dengan fase pertama bertujuan untuk membangun kawasan industri baru yang lebih besar di sebelah utara kota Madang.
Usaha Patungan (2025): Pemerintah PNG bermitra dengan RD Tuna untuk mengembangkan PMIZ, dengan target kepemilikan saham 50:50 di bawah struktur baru “Kumul Fisheries Limited”.
Walau demikian kehadiran kawasan industri ini tak lepas pula dari kritik para aktivis lingkungan di Papua Nugini dan Pasifik, tentang kekhawatiran lingkungan.
Pabrik tersebut telah menghadapi kritik lokal terkait pengelolaan limbah, termasuk masalah pembuangan ikan busuk dan polusi di perairan sekitar.
Belum lagi keluhan nelayan disekitarnya yang merasa terganggu dengan limbah ikan busuk dan juga hasil pancingan yang berkurang.
Fasilitas ini merupakan perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan orang di Madang, meskipun kota ini sering mengalami polusi industri (bau menyengat) pada dini hari.
Pemerintah Papua Nugini telah berencana menjadikan PMIZ (Protected Market Industrial Zone) sebagai lokasi bagi banyak pabrik pengalengan di masa mendatang, sehingga mengubah area tersebut menjadi pusat industri utama.
Potensi ikan dan illegal fishing
Papua Nugini (PNG) adalah sumber tuna utama dunia, yang memproduksi sekitar14–18% dari pasokan dunia dan lebih dari 100.000 ton ekspor setiap tahunnya, yang sebagian besar diolah menjadi tuna utuh beku, tuna kalengan, dan tepung ikan.
Terdapat enam pabrik pengolahan tuna utama di negara ini, dengan nilai ekspor lebih dari K1,3 miliar pada tahun 2019.Produk Tuna Utama dan Data Ekspor:Produk Utama: Tuna utuh beku (sekitar 80% dari ekspor), tuna kalengan (sekitar 16%), dan tepung tuna kering/tepung ikan (sekitar 3%).
Berdasarkan laporan Jubi.id, otoritas Papua Nugini (PNG) kembali menangkap tiga kapal nelayan asal Merauke, Papua Selatan, pada Maret 2025 karena melanggar batas perairan.
Sebanyak 40 nelayan ditahan, dijatuhi hukuman 5 tahun penjara, dan denda miliaran rupiah.
Tak hanya itu saja, pada 22 Agustus 2022, salah seorang kapten kapal nelayan Indonesia bernama Sugeng (KM Kelvin 02) tewas tertembak oleh tentara Papua Nugini (PNGDF) di perairan Torasi, perbatasan PNG.
Kapal tersebut diberondong tembakan karena diduga masuk wilayah PNG. Insiden ini memicu protes keras dari pemerintah Indonesia.
Pelanggaran batas laut antara PNG dan Indonesia di Papua Selatan karena diduga navigasi kapal dipadamkan saat memasuki wilayah PNG, dan didorong pula oleh potensi ikan yang besar di wilayah tersebut.
Memang Pemerintah Daerah Merauke telah mengimbau nelayan untuk tidak lagi memasuki perairan negara tetangga (PNG dan Australia).Kasus serupa pernah terjadi di perairan PNG, dengan catatan kasus sebelumnya pada 2022 dan 2023.
Memang tak bisa disangkal bahwa, nelayan Indonesia yang berada di Merauke, misalnya, selalu menangkap ikan secara ilegal ke Papua Nugini guna menargetkan hasil tangkapan berupa gelembung ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Harga gelembung renang ikan gulama golongan 10 gram dapat mencapai Rp20 juta per kilogram, sedangkan golongan 40 gram bisa mencapai Rp50 juta per kilogram. Gelembung renang ikan duri dapat dihargai Rp150 ribu per kilogram. (*)




Discussion about this post