Gereja Kristen Injili atau GKI di Tanah Papua, genap berusia 68 tahun pada Sabtu kemarin. Berbagi fase perkembangan telah dilewati denominasi ini dalam mewartakan Injil di Tanah Papua.
GKI Tanah Papua merupakan kelompok jemaat Kristen beraliran Calvin. Kasih Kristus Menggerakkan Kemandirian Gereja, Mewujudkan Keadilan, Perdamaian, dan Kesejahteraan, menjadi tema sentral Hari Jadi ke-68 GKI Tanah Papua. Tema tersebut merupakan nukilan dari bnd II Korintus 5:18-19; Mazmur 72:2-3. Adapun subtemanya ialah Kasih dan Keadilan Bersinar di Tanah Injil-Papua.
Fase awal sejarah GKI di Tanah Papua ditandai kedatangan Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler di Pulau Mansinam, Manokwari pada 5 Februari 1855. Kedatangan dua misionaris Jerman tersebut kemudian dikenang dan diperingati sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua.
Penyebaran Kristen dan kaderisasi penginjil di Tanah Papua berlanjut hingga pendirian Sekolah Theologi RAZ di Serui, Kepulauan Yapen. Sekolah bagi para penginjil itu dirintis Izaac Samuel Kijne bersama FC Kamma. Kijne dikenal sebagai tokoh pendidikan di Tanah Papua. Dia juga Direktur Besturs Institute Pribumi di Yoka, Jayapura pada 1949–1953.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Sekolah Theologi RAZ banyak melahirkan pemimpin Sinode GKI di Tanah Papua. Mereka, di antaranya Ds Jan Mamoribo, Mesack Koibur, Ds W Maloali, dan Ds Silas Chaay.
Selama di Serui, Kijne bersama Kamma, dan rekan-rekan mereka juga mempersiapkan pendirian GKI di Papua. Denominasi tersebut akhirnya terbentuk pada 26 Oktober 1956.
Pembentukan denominasi pertama tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Jadi GKI di Tanah Papua. Penetapannya merupakan keputusan Badan Pekerja Harian Sinode Umum GKI di Tanah Papua pada 1965
Adapun sinode pertama GKI di Tanah Papua terbentuk di Abepura atau Hollandia Binnen. Di massa pemerintahan Belanda, GKI tersebut dikenal dengan nama Kerk der Hoop.
Para zending, dan guru jemaat, serta berbagai utusan GKI menghadiri Sidang Sinode Umum perdana di GKI Abepura. Persidangan tersebut berlangsung pada 18–28 Oktober 1956.
GKI di Tanah Papua selalu menghormati dan menjalani prinsip kemajemukan, sesuai ajaran Kristus. Karena itu, jemaat mereka berasal dari berbagai kelompok dengan latar belakang budaya berbeda, Orang Asli Papua (OAP) maupun Non-OAP.
Pesan keberagaman tersebut juga tersirat pada Hymne GKI di Tanah Papua. Salah satu baris syairnya menyebut, Terhimpun jemaat dari seluruh penjuru Tanah Papua yang mendiami pulau-pulau, pesisir pantai, kampung, kota, sampai ke pedalaman. Kemudian, baris berikutnya menyebut, Menjadi satu persekutuan Gereja Kristen Injili yang berdiri kokoh dan mandiri. Menunaikan Amanat Agung bagi jemaat dan dunia.
Peringatan Hari Jadi ke 68 GKI di Tanah Papua, sejatinya juga mengingatkan jemaat tentang petuah Kijne. Dia pernah berpesan, ‘Barang siapa yang bekerja di Tanah ini [Papua] dengan setia, jujur, dan dengar-dengaran maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.’
Selamat Ulang Tahun GKI! Teruslah menyinari Tanah Papua dengan kasih dan keadilan. (*)
*Dominggus Mampioper ialah Redaktur Senior dan mantan Pemimpin Redaksi Jubi
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post