Jayapura, Jubi – Pengamat sepak bola sekaligus mantan kapten Persipura era 1990-an, Ferdinando Fairyo, menilai skuad Mutiara Hitam yang akan berlaga di Liga 2 musim 2025/2026 harus memprioritaskan pemain muda. Menurutnya, sangat riskan jika tim masih mengandalkan pemain senior berusia di atas 30 tahun. Kalau pun ada, cukup dua pemain saja.
“Penting mengutamakan pemain muda karena sepak bola saat ini menuntut kecepatan, taktik, dan strategi. Pergerakan bola berlangsung cepat, sehingga fisik dan daya tahan pemain sangat menentukan. Pemain yang kurang prima justru akan memperlambat tempo permainan,” ujar Ferdinando kepada Jubi.id di sela perayaan Halal Bi Halal jurnalis di Jayapura, Sabtu (14/6/2025).
Ia menyebutkan bahwa pemain berusia antara 20 hingga 28 tahun merupakan usia emas untuk tampil kompetitif di Liga 2. “Kalau pun membutuhkan pemain berusia di atas 30 tahun, cukup dua orang saja agar tidak mengurangi energi kolektif tim di setiap pertandingan,” tambahnya.
Ferdinando juga menekankan bahwa konsistensi selama Liga 2 adalah tanggung jawab manajemen tim. Manajer tim, sebagai penanggung jawab pendanaan, menurutnya harus menyediakan amunisi yang memadai agar pelatih leluasa menyusun strategi demi memenuhi harapan para pendukung Persipura dan Persipuramania di tanah Papua.
Ondoafi Abisai Rollo Berperan Penting

Kehadiran manajemen dari pihak swasta sebagai sponsor, kata Ferdinando, tidak akan mengurangi peran Ondoafi Kampung Skouw Sae yang juga menjabat sebagai Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, sebagai calon Ketua Umum Persipura yang baru.
“Saya melihat peran Ondoafi Rollo sangat besar untuk mengembalikan kejayaan Mutiara Hitam, baik sebagai tokoh adat maupun sebagai Wali Kota Jayapura,” ujarnya.
Ferdinando menambahkan bahwa ketokohan seorang ondoafi akan menjadi marwah penting dalam perjalanan Persipura kembali ke Liga 1 maupun kompetisi Asia—sebagaimana pernah dicapai di masa kepemimpinan M.R. Kambu sebagai Ketua Umum Persipura.
Kehadiran sponsor baru, PT Nusa Tuna, menurut Ferdinando juga memberi suntikan energi baru bagi tim. “Masuknya PSBS Biak ke Liga 1 bersama Nusa Tuna bisa menjadi energi tambahan. Apa yang dibangun di PSBS bisa direplikasi di Persipura agar kembali ke Liga 1 musim depan,” katanya.
Liga 2 Terapkan Teknologi VAR
Menjelang penerapan teknologi Video Assistant Referee (VAR) di Liga 2 musim 2025/2026, PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru (LIB) menggelar pelatihan intensif tahap kedua bagi calon operator VAR, wasit VAR, dan asisten wasit (AVAR).
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari seleksi tahap pertama yang menjaring 29 operator replay (RO) serta 65 wasit dan asisten wasit dari berbagai daerah. Pelatihan tahap kedua digelar di Jakarta dan dibagi dalam tiga gelombang.
Materi pelatihan mencakup simulasi dengan simulator VAR, penerapan protokol pertandingan, hingga analisis situasi kompleks dalam pertandingan langsung maupun rekaman video. Program ini dirancang agar para peserta menguasai koordinasi teknis antara operator dan wasit di lapangan.
Sebanyak 22 RO yang lolos seleksi tahap pertama juga dibagi menjadi dua kelompok untuk mengikuti pelatihan lanjutan.
Direktur Operasional LIB, Asep Saputra, menyatakan bahwa kerja sama dengan PSSI ini bertujuan membentuk sumber daya manusia sepak bola yang andal, khususnya dalam penggunaan teknologi VAR. “Kami optimistis Liga 2 akan semakin berkualitas dan transparan,” ujarnya.
Pelatihan ini menjadi tahap akhir dalam mempersiapkan para operator dan wasit VAR yang akan bertugas di Liga 2 musim 2025/2026. (*)




















Discussion about this post