Jayapura, Jubi – Weynand Watory dari Dewan Adat Papua atau DAP menyebut almahrum Thom Beanal, sebagai representasi anak adat Papua sejati.
Watory mengatakan, Thom Beanal dibentuk dengan nilai-nilai budaya yang kuat sejak kecil, sebelum ia diperkaya oleh agama, pendidikan, dan pengalaman politik.
“Intinya tetap [dibentuk dengan nilai-nilai] adat, nilai luar hanya pelengkap,” kata Weynand Watory dalam peluncuran dan bedah buku tiga seri tentang Thom Beanal di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Papua, Kamis (26/2/2026).
Katanya, Thom Beanal adalah sosok karismatik dalam kepemimpinannya. Tenang, dan tidak banyak bicara. Lebih sering menyampaikan gagasan dengan narasi adat serta hikmat budaya.
Keberaniannya sama seperti tokoh Papua lainnya, almahrum Theys Hiyi Eluay. Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi bangsanya.
“Kedua pemimpin adat itu lahir dari keberanian mempertahankan martabat dan jati diri [orang] Papua,” ujarnya.
Watory mengatakan, bagi bangsa Papua Thom Beanal bukan sekadar jejak sejarah, melainkan semangat kebebasan dan jati diri Papua yang akan terus hidup di tengah masyarakat.
“Tokoh seperti Bapak Thom [Beanal] harus terus dikenang, nilai-nilai perjuangannya harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ucapnya.
Thom Beanal dikenang bukan hanya sebagai pemimpin adat dan tokoh perjuangan Papua, juga sebagai bapak yang mewariskan nilai kebebasan dan jati diri kepada keluarga serta masyarakat luas.
Tantangan terbesar saat ini lanjut Watory, adalah menjaga identitas generasi muda Papua di tengah derasnya arus teknologi dan budaya luar.
Sebab menurutnya, banyak generasi muda asli Papua mulai kehilangan bahasa daerah dan semakin jauh dari akar budayanya.
Padahal Tanah Papua memiliki lebih dari 300 suku bangsa dengan kekayaan budaya dan alam yang luar biasa. Karena itulah Dewan Adat Papua mendorong pentingnya pendidikan hak asasi manusia dan demokrasi yang tetap menanamkan nilai-nilai adat.
Sementara itu, Florentinus Beanal anak dari almarhum Thom Beanal mengatakan kepemimpinan bapaknya tidak melalui proses yang cepat atau instan dalam perjuangannya.
Thom Beanal dibesarkan sebagai anak kepala suku, yang sejak kecil telah dididik memahami tanggung jawab atas adat mulai dari tradisi bakar batu, membangun rumah, hingga belajar memimpin komunitasnya.
Katanya, inilah yang membuatnya belajar dari sikap ayahnya. Thom Beanal tidak hanya sekadar berkata-kata, juga berani memperjuangkan kebenaran.
“Bapak adalah teladan keteguhan hati bagi keluarga dan juga contoh bagi kami. Bapak mengajarkan kekuatan, kesetiaan, dan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran bagi bangsa Papua,” kata Florentinus Beanal.
Menurutnya, perjalanan hidup membawa Thom Beanal keluar dari lingkungan adat menuju gereja. Di sanalah Thom Beanal menemukan ruang pembinaan yang disebut sebagai rumah kedua baginya.
Meski beberapa kali tidak menyelesaikan pendidikan formal, gereja tetap menerima dan membimbingnya. Pertemuan nilai adat dan gereja inilah yang membentuk karakter juga pandangan hidupnya.
Nilai-nilai itu yang terus ia bawa ketika Thom Beanal memasuki dunia modern dan membangun keluarga. Ia juga dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi kebebasan.
“Bapak biasa bilang bahwa manusia tidak boleh terus-menerus diperintah, tetapi harus hidup bebas dan merdeka,” ucapnya.
Menurutnya, prinsip itu yang menjadi dasar perjuangan Thom Beanal bagi masyarakat Papua. Namun dibalik perannya sebagai tokoh publik, keluarga merasakan konsekuensi dari panggilan hidup tersebut.
Florentinus Beanal mengakui bahwa semasa kuliah di Jakarta, ia pernah menyampaikan protes kepada bapaknya karena merasa perhatian terhadap keluarga sering kali kalah dengan urusan perjuangan di luar rumah.
“Saya merasa bapak lebih fokus pada masyarakat, sedangkan kami jarang mendapat perhatian langsung,” ujarnya
Katanya, meski begitu ayahnya tidak banyak memberikan penjelasan panjang. Ia lebih memilih menunjukkan sikap hidup melalui tindakan nyata.
Dari situlah keluarga belajar memahami bahwa pengorbanan tersebut merupakan bagian dari panggilan sebagai seorang pejuang.
“Kami baru mengerti setelah kepergiannya. Kami melihat perjuangan itu sebagai kebanggaan. Hingga kini dan selamanya, bapak tetap menjadi figur utama dalam kehidupan kami karena keteladanan hidupnya menjadi inspirasi yang terus kami kenang,” kata Florentinus Beanal. (*)




Discussion about this post