Keerom, Jubi – Pedagang asal Wamena yang menjual bunga kurulu atau bunga plastik (Chrysanthemum indicum L) khas Wamena, pada pameran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) ke-XIV se-Tanah Papua di Kabupaten Keerom, mengaku bahwa stan UMKM yang mereka tempati sepi pembeli.
Pedagang Lerina Jikwa yang berjualan bunga kurulu, madu asli Wamena, dan produk budaya kearifan lokal Papua khas Wamena, mengatakan stan mereka sepi pengunjung padahal dagangannya sudah jauh-jauh dibawa dari Wamena.
“Kami bawa jualan jauh-jauh dari Wamena, mulai jualan dari hari pertama sampai sekarang [sejak 2–8 Desember] hanya bunga plastik yang laku Rp200 ribu, jualan madu, gelang, dan noken belum laku sama sekali. Pengunjung lebih banyak masuk di stan yang jualan barang-barang toko,” katanya, di stan UMKM Lapangan Swakarsa Arso, Kabupaten Keerom, Papua, pada Minggu (8/12/2024).
Jikwa mengatakan, bunga kurulu Wamena padahal memiliki keunikan tersendiri, karena tidak mudah mengering meski telah dipetik dari pohonnya selama sepekan. Itulah kenapa bunga kurulu kerap kali disebut sebagai bunga plastik.
“Bunga kurulu awalnya banyak ditemukan di Kecamatan Kurulu, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Orang-orang biasanya ambil atau beli untuk dipajang di meja tamu, karena bunga itu tahan lama,” katanya.
Bunga kurulu yang dijualnya, untuk setiap ikatan ada 15–20 tangkai dihargai Rp20 ribu, sedangkan madu asli Wamena per botolnya dihargai Rp100 ribu sampai Rp300 ribu tergantung ukuran kemasan botolnya. Kemudian, noken Wamena dihargai Rp50 ribu sampai Rp500 ribu tergantung ukuran, dan aksesori budaya ciri khas Wamena seperti gelang dihargai Rp10 ribu sampai Rp30 ribu per gelang tergantung ukuran.
“Noken, gelang, dan madu asli Wamena belum laku satu pun, hanya bunga kurulu yang sudah terjual, tapi tidak setiap hari orang datang beli, selama kami di sini, kami punya stan baru dikunjungi dalam tiga hari terakhir,” katanya.
Sementara itu, pedagang lainnya Lena Tabuni mengatakan bahwa minat dari para pengunjung pameran UMKM Pesparawi terhadap produk budaya kurang. Pengunjung lebih tertarik pada produk jualan seperti makanan, minuman, atau pakaian.
“Itu pilihan yang tidak bisa diatur, kami tetap syukuri apa yang sudah kami dapatkan,” katanya. (*)




Discussion about this post