Sentani, Jubi – Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas Harapan, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua melayani 462 peserta cek kesehatan gratis atau CKG, sejak program itu diluncurkan pada Februari 2025.
Kepala Puskesmas Harapan dr Hanofer Budiyanto kepada Jubi mengatakan, program itu berlaku untuk masyarakat umum tanpa batas usia, dan bertujuan mendeteksi dini faktor risiko penyakit, sehingga bisa dilakukan pencegahan atau tidakan lebih lanjut.
Menurutnya, dengan program CKG pihaknya terbantu memperluas cakupan atau temuan kasus penyakit lain, seperti penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi, gizi, dan sebagainya.
“Semua program yang berkaitan mendapatkan temuan baru untuk menambah cakupan dari kegiatan CKG,” kata dr Hanofer Budiyanto saat ditemui di Kampung Harapan, Sabtu (4/10/2025).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Namun menurutnya, kurangnya sosialisasi terhadap program ini menyebabkan masih banyak warga yang tidak datang ke Puskesmas untuk pemeriksaan dini. Mereka hanya le Puskesmas ketika sedang sakit. Pihaknya pun berinovasi dengan turun langsung ke kampung-kampung untuk melaksanakan CKG.
“Kami utamakan kampung yang jauh, karena masyarakat agak susah datang [ke puskesmas untuk memanfaatkan program CKG],” ucapnya.
Beberapa kampung yang telah didatangi yaitu Kampung Yokiwa dan Puay. Rencananya akhir Oktober 2025 petugas kesehatan Puskesmas Harapan akan ke Kampung Ayapo.
Dokter Hanofer memastikan kualitas pelayanan di kampung sama dengan di dengan puskesmas, karena pihaknya membawa peralatan lengkap.
“Jadi tim, sekitar 10 orang pergi untuk [pelaksanaan] CKG, alat semua kami bawa termasuk alat pemeriksaan jantung kami bawa ke sana,” ujarnya.
Akan tetapi dalam pelaksanaan program ini, pihak Puskesmas Harapan menemui beberapa kendala di lapangan, misalnya ada nomor induk kependudukan (NIK) yang tidak sesuai, sehingga tidak bisa dilaporkan ke dalam sistem (apliaksi). Meski begitu, pemeriksaan tetap dilaksanakan, agar masyarakat bisa memanfaatkan program itu.
“Iya, kendalanya NIK, jadi tidak bisa dimasukkan. Nah, kami kerja, tapi karena tidak bisa dimasukkan [dilaporkan ke dalam sistem], jadi secara data tidak kelihatan signifikan,” katanya.
Sementara itu, Penanggung Jawab CKG, Yunita Ardianto Iriansyah menjelaskan berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan hampir semua dalam kondisi sehat.
Namun, untuk gangguan kesehatan yang paling banyak ditemukan antara lain kolesterol tinggi, asam urat, dan hipertensi (tekanan darah tinggi). (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post