Dogiyai, Jubi – Penggagas Noken Papua di UNESCO, Titus Pekei, menegaskan pembicaraan soal Noken berarti mesti bermula dari bagaimana potensi dan kesiapan bahan baku atau bahan mentah, sehingga noken bisa dianyam oleh tangan-tangan terampil perempuan, para Mama dan Bapak perajin Noken Papua.
“Bahan Noken beragam, bukan satu dua [jenis], karena setiap suku kenal bahan baku pohon [untuk dianyam menjadi] Noken, bahan noken [masih] sangat menjanjikan, berlimpah di Tanah Papua,” kata Titus Pekei kepada Jubi melalui layanan pesan, Kamis (5/12/2024).
Dia menyebutkan bahan baku noken yang dikenal semua suku di Tanah Papua adalah berasal dari serat kayu pohon ganemo atau genemon atau Gnetum gnemon yang di Pulau Jawa dikenal sebagai pohon melinjo. Dalam bahasa daerah Suku Mee, Papua disebut Damiyo.

Menurut Pekei hampir semua wilayah adat di Tanah Papua memiliki pohon ganemo, namun upaya pembudidayaannya oleh pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup & Kehutanan setempat masih kurang. “Mestinya ada upaya persiapkan bibit untuk dibagi ke masyarakat luas, ditanam di lokasi lahan atau tanah kosong, ditanam di halaman kantor, tanam di halaman sekolah, tanam di halaman rumah ibadah, tanam di halaman balai desa serbaguna kampung, distrik, kabupaten/kota, provinsi di Tanah Papua, sangat potensial namun diterlantarkan seakan-akan miskin bahan baku,” kata Pekei.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pekei mengatakan, dirinya tak lagi aktif di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk terlibat dalam pelaporan periodik perlindungan Noken ke UNESCO. Menurutnya hal itu disebabkan karena usulannya untuk budidaya bahan baku noken tidak kunjung diakomodir.
“Setelah tidak ada lagi yang mendorong terkait budidaya bahan baku noken, ada pihak ASN yang mengklaim diri sebagai pegiat noken adakan program dari kementerian yang ada di Jayapura untuk meng-klaim komunitas Mama-mama noken Papua,” katanya.
Pekei menyesalkan tindakan-tindakan klaim terhadap noken. Mestinya, menurut dia, pihak-pihak memahami bahwa noken ditetapkan untuk ilmu pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan yang berbasiskan komunitas perajin noken di tujuh wilayah adat budaya Papua.
“Sampai kapanpun tidak bisa diklaim … tanpa memerhatikan … budi daya bahan warisan budaya noken,” katanya.
“Sehingga saya berharap agar tidak boleh lagi ada klaim mengklaim program, …biarkan masyarakat sendiri yang menjadi objek dari program tersebut demi pembudidayaan bahan baku noken Papua,” katanya.
Peringatan 12 tahun Noken Papua warisan budaya dunia
Titus Pekei mengatakan tema Hari Noken oleh UNESCO ke -12 yang jatuh pada 4 Desember 2024 yakni, “Masyarakat Noken Papua Kembali ke Kearifan Lokal,”. Pilihan tema ini menurutnya bukan kebetulan, melainkan telah dipikirkan matang-matang, termasuk mempertimbangkan kondisi lingkungan dan budaya yang tengah dialami masyarakat Papua saat ini.
“Makin hari, kita merasakan bahwa perkembangan dunia berlari begitu cepat yang membuat kita masyarakat Papua juga kelimpungan menghadapinya. Kita mulai meninggalkan kearifan yang kita punya, tapi saat yang sama kita juga belum menemukan titik pijak yang sesungguhnya agar kita bisa melangkah bersama dalam perubahan ini,” katanya.
Pekei mengatakan, setelah 12 tahun UNESCO mengakui Noken sebagai warisan budaya tak benda dunia, sebenarnya menjadi titik masuk masyarakat adat Papua untuk kembali pada kearifan lokal itu sebagai pegangan menghadapi perubahan.

“Namun, yang terjadi, hanya sekali-sekali kita menengok ke warisan budaya ini, dan memperlakukannya tak lebih dari seremonial yang tak bermakna. Kearifan lokal bukan sekedar cara untuk membuat kita bernilai secara budaya, tapi yang terpenting nilai-nilai itu dipraktikan untuk menjaga hidup bersama yang harmonis, menghargai lingkungan dan menghargai cara hidup yang berbeda dari masyarakat Papua,” katanya.
Pekei menambahkan, saat ini Orang Papua tidak bisa lagi hidup di masa lampau, pun juga tidak bisa menjadikan semua yang terjadi di masa lalu dipraktikan saat ini. “Tetapi kita bisa mencari hal yang baik untuk diteruskan. Ini hanya bisa tercapai kalau orang terus berkarya dalam kebudayaan karena di sana dia akan terus melakukan refleksi dan transformasi,” katanya.
Pekei mengajak semua pihak untuk mendukung kegiatan-kegiatan Mama dan Bapa Noken, memberi tempat pada penggunaan noken, serta menyambut dengan riang gembira perayaan hari Noken UNESCO ini.
“Kita terus berkreasi dan terus mendukung setiap usaha yang menjadikan kearifan lokal sebagai cara melakukan transformasi sosial. Apa yang kita tanam saat ini, itulah yang kita panen nantinya. Apa yang tidak kita tanam, kita juga tidak akan menjadi bagian dari panen itu kendati panennya berlimpah banyak,” tutupnya.
Hari Noken Papua adalah penghargaan
Pekei mengatakan, peringatan Hari Noken UNESCO setiap 4 Desember sejak 2012 sebagai sesuatu yg tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Pekei mengatakan, Pemerintah Indonesia, Pemerintah-pemerintah provinsi di Tanah Papua dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sudah saatnya menaruh perhatian pada penyelamatan tanah penghasil bahan baku dan manusia perajin noken di Tanah Papua.

“Ekosistem alam ekologis Papua saatnya diselamatkan dari ambisi ekonomi global yang memusnahkan kehidupan di tanah ini, Mama Tanah Papua,” katanya.
Pekei mengingatkan peringatan 4 Desember sekaligus melambangkan hari pemajuan kebudayaan, yang berasaskan toleransi, keberagaman, kelokalan, lintas wilayah, partisipatif, manfaat, keberlanjutan, kebebasan berekspresi, keterpaduan, kesederajatan, dan gotong-royong.
“Dalam pemajuan kebudayaan, noken bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, memperteguh jati diri bangsa, memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan citra bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, melestarikan warisan budaya bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia, sehingga kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional,” katanya.
Hari pemajuan kebudayaan
Pegiat Budaya Papua dan Pendiri Belantara Papua, Max Binur mengapresiasi kerja keras Mama-mama Papua dimanapun yang selama ini telah mewariskan noken.
“Rajutan noken mu adalah identitas kita. Tuhan jaga, lindungi Mama dorang semua. Yang selama ini menjaga dan merawat Noken kehidupan sehingga bisa dikenal dunia,” katanya.
Max Binur berharap pada Hari Noken Sedunia ke-12 ini masyarakat semakin terdorong untuk kembali pada kearifan lokal.
“Ko jaga hutan, ko lestarikan noken dan kehidupan di Tanah Papua. Sebab hutan adalah sumber segala sumber kehidupan dari Orang Asli Papua dan sumber inspirasi kehidupan orang asli Papua,” katanya.
Warga Dogiyai, Agus Dogomo mengatakan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah seharusnya mempunyai strategi yang baik dalam pembudidayaan Noken.
“Strateginya adalah bahwa setiap orang Papua yang mempunyai hutan harus dilindungi, pemerintah juga harus bantu untuk pemetaan secara daring agar tanah-tanah adat bisa dipantau, dan di hutan adat itu perlu didata ada tanaman hewan apa saja yang ada,” katanya.
Menurut Dogomo, kalau ada pemetaan maka jika ada potensi kerusakan hutan kita bisa deteksi. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post