Jayapura, Jubi – Mahasiswa asal Waropen di Kota Jayapura, Papua, mengharapkan bantuan Pemerintah Kabupaten Waropen agar membangun asrama yang layak untuk mahasiswa.
Menurut catatan pengurus Ikatan Mahasiswa Waropen (Imawar) Jayapura, jumlah mahasiswa/i Waropen di Kota Jayapura per tahun 2020 sampai 2024 sekitar dua ribuan orang.
Para mahasiswa menghuni asrama putri (aspuri) Waropen di Jalan Proyek, Perumnas Dua, Distrik Heram, Kota Jayapura. Sementara para mahasiswa, pada awalnya mereka menghuni asrama putra (aspura) Waropen di Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua.
Namun, pada tahun 2019 Pemda Waropen membongkar gedung aspura, karena akan direhab dan menambah jumlah kamar, mengingat jumlah mahasiswa meningkat setiap tahun.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Setelah dibongkarnya gedung aspura, para mahasiswa itu dipindahkan ke pondokan yang disewa Pemda Waropen. Pondokan itu bersebelahan dengan gedung aspuri di Jalan Proyek, Perumnas Dua.
Namun, kapasitas kamar di pondokan yang tidak mampu menampung seluruh mahasiswa pada satu hunian, menyebabkan sebagian besar dari mahasiswa meninggalkan pondokan dan menyewa kos-kosan atau menumpang di rumah keluarga.
Meski begitu, nasib baik tidak selalu berpihak kepada mereka yang menyewa kos-kosan. Banyak di antara mereka yang tidak melanjutkan pemembayaran rumah kos karena keterbatasan ekonomi orangtua dan keluarga.
Daniel Kerukowe, mahasiswa Waropen yang berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Cenderawasih (Uncen), mengaku sangat terkendala biaya sewa kos-kosan dan uang bulanan dari orangtuanya.
Orang tua tidak mengirimkannya uang setiap bulan, tetapi sekitar dua sampai tiga bulan. Itu pun dikirim sekitar Rp150 ribu atau Rp300 ribu sampai Rp 500 ribu.
“Karena kondisi ekonomi bapak dan mama sangat rendah seperti itu saya tidak bisa sewa kos-kosan yang dekat dengan kampus, sa tidak ingin tambah mereka punya beban. Saya lebih berharap kepada bantuan pemda sekiranya ada asrama atau pemondokan yang layak supaya meringankan orang tua punya beban. Mereka hanya tanggung biaya makan setiap bulan dan saya fokus kuliah,” kata Kerukowe saat ditemui Jubi pada Kamis (27/2/2025) di Pemondokan Dua mahasiswa Waropen di Padang Bulan, Kota Jayapura.
Kerukowe mengatakan orangtuanya sedikit diringankan karena tidak menanggung biaya studinya. Menurutnya biaya studi, seperti, biaya semester dan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) ditanggung pemerintah melalui kebijakan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
“Paling tidak, orangtua tidak repot dengan biaya studi, mereka hanya upayakan uang makan bulanan atau sa punya kebutuhan lainnya,” katanya.
Mahasiswa Waropen lainnya, Yosep Koridama menceritakan kendala dana yang dihadapinya.
“Mama dan bapa sangat bersusah payah di kampung, mereka bawa jualan ke pasar kadang-kadang tidak laku dan mereka bawa pulang, dibagikan kepada keluarga atau makan sendiri di rumah,” kata mahasiswa asal Distrik Demba, Waropen itu.
Koridama merupakan mahasiswa FKIP pada jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah semester empat di Uncen. Menurut dia, adanya Pemondokan Dua mahasiswa Waropen di Padang Bulan meringankan beban orang tuanya, karena tidak menanggung biaya sewa kos-kosan yang tentunya menguras keuangan mereka.
Menurut Koridama, Pemda Waropen harus lebih fokus memperhatikan kondisi pendidikan di Waropen, mulai dari daerah terpencil di Waropen hingga Kota Jayapura, yang menjadi salah satu pilihan generasi muda Waropen untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi.
“Kondisi perekonomian yang melemah di kampung benar-benar bikin orangtua kami terpaksa `ikat perut`. Itu dirasakan setiap mahasiswa-mahasiswi di Kota [Jayapura] ini yang orangtua bukan Pegawai Negeri Sipil [PNS]. Karena orangtua bukan PNS, banyak saudara-saudari kami yang juga ingin lanjut sekolah, terpaksa harus tinggal di kampung supaya orangtua tidak repot karena hanya tanggung satu orang anak yang sekolah,” katanya.
Mahasiswa lainnya, Marten Wairara yang juga berkuliah di FKIP pada jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Jurusan Ilmu Pendidikan (JIP), Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Uncen, menyampaikan harapannya kepada Pemda Waropen agar membijaki kondisi Asrama Putra Waropen yang baru selesai dibangun pada tahun 2024. Namun, gedung tersebut belum diresmikan Pemda dan terancam tanah longsor.
“Adanya asrama putra itu yang kami tunggu supaya kami tempati dan tidak khawatir seperti saat ini. Kami tinggal di Pemondokan Dua selalu khawatir tentang biaya sewa pemondokan, karena tidak dibayar pasti diusir pemilik pemondokan yang disewa untuk kami tinggal dan berkuliah,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post