Jayapura, Jubi – Program Studi Seni Musik ISBI (Institut Seni Budaya Indonesia) Tanah Papua, menjadi salah satu peserta perayaan musik global dan apresiasi lingkungan atau IDEF (Internasional Djogja Earthsound Fest tahun 2024. Kegiatan itu berlangsung pada 18–20 Oktober 2024, dengan tema “Global Beats, Local Earth”.
Dalam kegiatan itu ISBI Tanah Papua terlibat aktif dalam konferensi akademik, yang diikuti oleh dosen prodi musik ISBI Tanah Papua dan pertunjukkan musik global oleh mahasiswa prodi musik ISBI Tanah Papua.
Ada tiga artikel yang dipresentasikan pada konferensi akademik pada 18 Oktober 2024. Tiga artikel tersebut berjudul “Akhoykoy: Musical Alarm for Life The Land Of Sentani Papua” oleh Markus Rumbino, Sara Dewanti Purba, dan Alfred Mofu.
Artikel kedua adalah “Women, Papuan Nature, and the Lamented: Lament as a Medium for Voicing the Silenced-Art-Based Research” oleh Septina Rosalina Layan, dan artikel ketiga berjudul “Mako-Mako: Culture Tradition and Local Wisdom Of Sentani Indigenous People Of Kampung Puay Yokiwa in Jayapura Regency” oleh Sara Dewanti Purba, Markus Rumbino, dan Nathalia Dwijayanti.
Pada pertunjukan musik global 19 Oktober 2024 mahasiswa prodi musik membawakan karya yang berjudul “Akhoykoy”.
“Akhoykoy merupakan salah satu jenis lantunan dalam masyarakat adat Sentani di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua,” kata dosen ISBI Tanah Papua, Markus Rumbino melalui siaran pers kepada Jubi di Jayapura, Papua, Rabu (23/10/2024).
Rumbino mengatakan, lantunan Akhoykoy tersebut menjadi penyeimbang irama kehidupan antara manusia, alam dan pencipta. Juga sebagai pengingat akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Papua.
Dalam lantunan Akhoykoy terdapat nilai-nilai kehidupan yang dipercaya masyarakat masih relevan dalam konteks kehidupan saat ini.
Akhoykoy menjadi penting dalam masyarakat Sentani karena menjadi simbol identitas adat istiadat, sekaligus sebagai bentuk klaim kepemilikan atas wilayah adat masyarakat Sentani. Kondisi lingkungan masyarakat adat Sentani, yang perlahan-lahan mengalami kerusakan seperti tanah, air dan hutan, juga diekspresikan melalui lantunan Akhoykoy.
Pertunjukan Akhoykoy yang dipentaskan pada IDEF 2024 ini, didampingi oleh Markus Rumbino, Alfred Michel Mofu, dan Jay Jay Bin Lius. Karya ini berkolaborasi bersama Abhu Yusuf Ohee, salah satu maestro Akhoykoy dari kampung Yokiwa, yang juga merupakan pencipta Akhoykoy tentang banjir bandang di Kabupaten Jayapura tahun 2019.
Karya ini, dimainkan oleh tiga belas mahasiswa prodi musik ISBI Tanah Papua, yaitu, Yakonias Rumbrawer, Feby Marina Inggamer, Samuel Narai, Isak Epa, Agripina Canisia Moy Fatubun, Festus Syet, Yosinta Kawagop, Amsal Alle, Ino Samuel Mario Katiy, Theodora M. Pahun, Donatus Yuwisi, Nikson Marin dan Isak Samuel Baransano.
“Penampilan kolaborasi dosen ISBI Tanah Papua Markus Rumbino, Septina Rosalina Layan, Alfred Michel Mofu dan Darlane Litaay membuka penampilan karya Akhoykoy, yang akan dipentaskan mahasiswa Prodi Seni Musik ISBI Tanah Papua,” kata Rumbino. (*)




Discussion about this post