Sentani, Jubi – Kasus malaria di Puskesmas Wiabu, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua mencapai 3.800 lebih sejak periode Januari 2025 hingga Agustus 2025. Kasus terbanyak terjadi pada Juni 2025, yang mencapai 600 kasus.
Kepala Puskesmas Waibu, Fransina Dike kepada Jubi menjelaskan, kasus malaria pada Januari 2025 ada 362 kasus, Februari 2025 ada 532 kasus, Maret 2025 ada 394 kasus, April 2024 ada 450 kasus, Mei 2025 ada 567 kasus, Juni 2025 ada 649 kasus, Juli 2025 ada 540 kasus, dan Agustus 2025 ada 400 kasus.
Menurutnya, kasus malaria yang ditangani Puskesmas Waibu diprediksi masih akan meningkat pada 2025, dibandingkan tahun lalu.
“Pada 2024 [ada] sekitar 4.400 [kasus malaria yang ditangani Puskesmas Waibu], dan tahun ini sudah lebih 3.800 [lebih kasus] sementara masih ada empat bulan [ke depan sebelum tahun ini berakhir],” kata Fransina Dike di ruang kerjanya, Kamis (4/9/2025).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Katanya, tingginya kasus malaria disebabkan sejumlah faktor, di antaranya dipengaruhi pola perilaku masyarakat seperti kebiasaan begadang atau beraktivitas di luar ruangan pada malam hari, ketidakpatuhan minum obat, kondisi lingkungan dan cuaca yang tidak menentu.
“Biasanya di kampung kan masih banyak pohon-pohon, sekitar danau, [laki-laki] duduklah di teras, kadang cuma baju singlet [karena merasa] panas. [Lalu] kebiasaan anak-anak yang bermain gadget pada malam hari. Sementara, nyamuk Anopheles [yang membawa parasit] malaria berkeliaran dari pukul 6 sore hingga 6 malam, [jadi, kalau] mereka berada di luar, otomatis [potensi tertular],” ujarnya.
Dike menambahkan, kasus malaria secara umum menyerang seluruh siklus hidup, walaupun berdasarkan data terbanyak menyerang pada rentang usia 15-64 tahun. Adanya risiko penularan malaria melalui nyamuk anopheles itu, terjadi dalam satu keluarga atau rumah.
Sementara itu, penanggung jawab malaria Puskesmas Waibu, Sumarni mengatakan dalam rangka eliminasi malaria 2030, pihaknya bersama kader malaria gencar melaksanakan pemeriksaan pada kegiatan pemeriksaan penyakit tidak menular (PTM), dan pengambilan sampel darah di lapangan.
“Ketika hasil yang ditemukan reaktif di lapangan, pengobatan malaria langsung diberikan di tempat,” kata Sumarni.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post