Jayapura, Jubi – Puluhan mahasiswa yang tinggal di Asrama Mahasiswa Putra Tolikara atau AMPT di kota studi Jayapura kebingungan dan kesulitan beraktivitas secara normal akibat aliran listrik diputus PLN ke gedung itu sejak akhir April 2024.
Himpunan Mahasiswa Pelajar Tolikara (HMPT) di Kota Studi Jayapura yang sebagian besar anggotanya menghuni asrama itu mendesak Pemerintah Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pengunungan untuk segera melunasi tunggakan listrik sekitar Rp10 juta.
Ketua HMPT di Kota Studi Jayapura Misoi Wanimbo menyampaikan pada 2022 telah dilakukan penurunan daya di asrama. Sepanjang 2023 masih lancar, namun pada 30 April 2024, karena menunggak sejak Januari 2024, PLN memutuskan aliran listrik.
“Jadi sejak 30 April 2024 hingga Senin, 13 Mei 2024 di asrama terjadi lumpuh total, listrik tak menyala lagi,” kata Wanimbo saat jumpa pers di Heram, Kota Jayapura, Papua pada Senin (13/5/2024) sore.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Sebelum terjadi pemadaman, katanya, aliran listrik berjalan baik. Namun saat asrama direhab petugas PLN datang memutus aliran listrik.
“Pihak PLN sendiri sampaikan kepada kami bahwa Pemkab Tolikara membolokir rekening PLN dan PLN mendesak kami untuk segera sampaikan ke Pemkab Tolikara,” ujarnya.
Misoi Wanimbo mengatakan pemadaman listrik ke asrama merupakan ancaman serius terhadap mahasiswa yang tinggal di sana. Karena itu pihaknya meminta Pemkab Tolikara segera memperhatikan dan mengatasi pembayaran tagian listrik yang tidak dibayarkan sejak Januari hingga Mei 2024.
Ia juga menyebutkan sudah menyampaikan informasi pemutusan aliran listrik tersbeut kepada Pemkab Tolikara pada Jumat (10/5/2024), namun Pemkab Tolikara tidak merespon.
“Soal makan-minum tanpa diperhatikan pemerintah bisa bertahan, karena hal itu sudah terbiasa dari waktu ke waktu bertahan dengan minum kopi dan moca. Tapi soal lampu ini perlu diselesaikan segera,” ujar Wanimbo.
Menurutnya listrik asrama sangat penting. Terlebih beberapa waktu ke depan HMPT akan menerima mahasiswa baru.
“Tapi dengan kondisi seperti ini bagaimana menerima mahasiswa dan melakukan kegiatan organisasi. Bahkan aktivitas belajar semua tidak bisa berjalan baik,” katanya.
Ketua Asrama Putra Tolikara Yawan Weya mengatakan sudah empat minggu terjadi pemadaman listrik. Karena itu ia berharap Pemkab Tolikara segera mengatasi kondisi tersebut
“Kami berharap Pemkab Tolikara segera kembali menghidupkan lampu, beberapa minggu belakangan ini kami tidak bisa melakukan aktivitas, yang artinya kami belum bisa melakukan kegiatan-kegiatan asrama,” katanya.
Yudi Tabo, perwakilan penghuni Asrama mengatakan asrama itu salah satu aset Pemkab Tolikara, namun dalam juknis kerja pihaknya kadang dilalaikan. Pemadaman lampu mengakibatkan mahasiswa asrama tidak bisa mengerjakan tugas kuliah pada malam hari.
“Dampak pemadaman lampu total, kami tidak tenang di asrama, kami harus keluar mencari rumah, lalu kerjakan tugas kuliah. Jadi kami berharap Pemkab Tolikara cepat memperbaiki lampu kami,” ujarnya.
Jubi sudah berupaya melakukan konfirmasi kepada Sekda Pemkab Tolikara Yosua Noak Douw terkait persoalan ini, namun belum ada respon. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post