Jayapura, Jubi — Orangtua bayi kembar siam di Papua Nugini terus berjuang agar kedua putra mereka mendapatkan operasi pemisahan, meskipun para dokter menyarankan sebaliknya karena risiko yang sangat tinggi.
Tom dan Sawong lahir pada 9 Oktober lalu dengan kondisi menyatu di bagian perut. Saat ini mereka dirawat di unit neonatal Rumah Sakit Umum Port Moresby. Demikian dikutip Jubi.id dari RNZ Pasifik, Kamis (6/11/2025).
Pihak rumah sakit pada Selasa lalu memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pemindahan mereka ke luar negeri dan menyarankan agar keluarga tetap berada di Papua Nugini, mengingat tingginya risiko kematian bagi salah satu atau bahkan keduanya.

Sebelumnya, dokter di Rumah Sakit Umum Port Moresby sempat menjajaki kemungkinan memindahkan mereka ke Australia untuk mendapatkan perawatan spesialis. Namun setelah serangkaian diskusi, keputusan akhir menyatakan hal itu terlalu berisiko.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Direktur Medis, Dr. Kone Sobi, mengatakan keputusan itu diambil setelah mempertimbangkan kondisi medis kedua bayi.
“Keduanya memiliki kelainan bawaan yang sangat signifikan. Bahkan jika mereka dirawat di unit terspesialisasi, peluang bertahan hidup tetap sangat kecil. Faktanya, prognosisnya sangat buruk,” ujar Sobi.
Tom dan Sawong diketahui menderita spina bifida, kelainan tabung saraf yang memengaruhi perkembangan tulang belakang dan sumsum tulang belakang. Mereka juga berbagi hati, kandung kemih, dan sebagian sistem pencernaan.
Sobi menambahkan bahwa salah satu bayi memiliki kelainan jantung bawaan, hanya memiliki satu ginjal, dan diduga paru-parunya tidak berkembang sempurna.
“Salah satu kembar bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke jantung saudaranya,” katanya.
Menurut Sobi, kondisi keduanya sangat genting dan tidak dapat diprediksi.
“Mereka benar-benar bergantung satu sama lain. Ke mana perjalanan hidup mereka akan berakhir, tak seorang pun tahu. Fokus kami saat ini adalah memberi makan dan mencegah infeksi, karena situasi mereka amat sulit,” ujarnya.
Harapan Terbang ke Jerman
Meski demikian, ada harapan baru dari pihak sponsor yang berusaha membawa keduanya ke Jerman, di mana sebuah rumah sakit universitas di Freiburg sedang menilai kemungkinan untuk melakukan operasi.
Maskapai Air Niugini telah menawarkan penerbangan hingga Singapura, tetapi masih diperlukan maskapai lain yang bersedia membawa mereka ke Jerman.
Jurgen Ruh, pilot helikopter yang pertama kali mengevakuasi bayi tersebut ke Port Moresby, mengatakan orangtua si kembar hanya ingin melakukan yang terbaik untuk anak mereka.
“Mereka percaya akan ada keajaiban bagi anak-anak ini. Mereka tahu salah satu atau keduanya bisa kehilangan nyawa dalam operasi, tapi setidaknya mereka telah berusaha,” kata Ruh.
Ia menambahkan bahwa sejauh ini kondisi Tom dan Sawong cukup stabil.
“Mereka hanya mendapat dukungan minimal seperti oksigen tambahan dan asupan makanan. Mengingat mereka sudah hidup lebih dari sebulan tanpa alat bantu hidup, mereka benar-benar memiliki keinginan kuat untuk bertahan,” ujarnya optimistis.
Ruh berharap proses administrasi untuk perawatan di Jerman bisa segera rampung.
“Begitu rumah sakit mengeluarkan surat penerimaan pasien, dokumen itu akan dikirim ke Kedutaan Besar Jerman di Manila untuk penerbitan visa. Tapi waktu kita tidak banyak, karena salah satu bayi memiliki kelainan jantung dan memerlukan operasi jantung terbuka secepatnya,” jelasnya.
Sementara itu, para dokter di Papua Nugini menegaskan tidak akan menghalangi upaya pihak mana pun untuk menolong si kembar, asalkan keluarga memahami seluruh risiko medis yang mungkin terjadi. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post