Nabire, Jubi – Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua Tengah, Anis Labene mengatakan mendukung Komisi Penanggulangan HIV AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah yang berencana menyusun modul pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan sebagai muatan lokal atau mulok.
“Melalui FGD ini KPA bisa mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah HIV AIDS yang terus meningkat ini. Tentu itu tidak hanya menjadi tanggung jawab KPA sendiri tapi semua stakeholder yang ada di Papua Tengah,” ujar Anis Labene seusai mengikuti pembukaan Focus Group Discussion atau FGD yang di selenggarakan KPA Papua Tengah, di Ballroom Kantor Gubernur, Bandara Lama, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire pada Sabtu (23/8/2025).
Komisi V yang pihaknya yang membidangi kesehatan dan pendidikan melihat dengan modul itu KPA dapat bergerak lebih leluasa lagi di Provinsi Papua Tengah. Apalagi HIV AIDS menjadi satu momok tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat di Papua Tengah.
Anis Labene yang juga Ketua Fraksi Partai Nasdem mengatakan pihaknya sebagai mitra KPA menaruh perhatian yang cukup untuk masalah HIV AIDS di Papua Tengah. Ia mengikuti apa yang sedang direncanakan oleh KPA tapi tentunya semangat ini harus dijaga dan mendukung apa yang sedang direncanakan oleh teman-teman eksekutif melalui KPA.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Apa yang bisa kami lakukan kami akan bergerak. Tadi disampaikan bahwa perlu ada regulasi khusus untuk KPA. Karena itu dalam menjalankan tugas dan fungsinya kami di lembaga DPR melalui Komisi V akan melakukan RDP mungkin ataupun juga bertemu pertemuan terbatas dengan KPA dengan melihat situasi spesifik untuk membuat regulasi,” ujarnya.
Setelah FGD, Komisi V DPR Papua Tengah akan bertemu dengan KPA untuk melihat dukungan yang dapat diberikan kepada KPA, juga kepada dinas-dinas teknis, sehingga dapat disinkronkan dengan program yang telah ada. Menurutnya langkah Forum grup diskusi Deep learning inn akan menghasilkan pembelajaran muatan-muatan lokal untuk dikasih ke masing-masing tingkatan dan mungkin dari SD sampai SMA.
“Ini mungkin salah satu solusi yang tepat untuk memberikan pembelajaran dan juga sosialisasi secara teratur dari akar rumput atau dari usia dini sehingga adik-adik kita mahasiswa pelajar yang ada itu bisa dapat pemahaman tentang HIV AIDS. Dan hal-hal seperti ini yang sebenarnya menjadi tupoksi teman-teman KPA perlu ditingkatkan lebih lagi,” kata Anis.
Ia menambahkan perlu untuk pemahaman tentang pencegahan penularan HIV AIDS dan tidak hanya sekolah tapi Lembaga keagamaan perlu dilibatkan dalam mensosialisasikan karena gereja dan masjid mempunyai masyarakat atau umat.
Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, Freny Anow mengatakan melihat dengan situasi yang sedang berkembang ini, sangat membahayakan bagi semua generasi Papua Tengah.
“Sudah ada penemuan anak-anak SMP SMA dan bahkan anak SD saja sudah dapat penemuan. Maka itu salah satu edukasi atau sosialisasi yang kami KPA provinsi ambil adalah bagaimana kita harus mengembangkan salah satu modul untuk pembelajaran agar supaya mereka itu mengetahui bagaimana pencegahan virus HIV AIDS itu,” ujarnya.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post