Oleh: Semuel Runggamusi
Dalam setiap pidato pembangunan, kualitas sumber daya manusia (SDM) selalu disebut sebagai kunci keberhasilan. Namun, bagi Orang Asli Papua (OAP), frasa tersebut masih terdengar seperti mimpi yang jauh. Ketimpangan pendidikan yang sudah berlangsung lama, minimnya akses terhadap infrastruktur dasar, dan pendekatan pendidikan yang tak kontekstual membuat Papua seolah berjalan tertatih dalam mengejar ketertinggalan. Di tengah tantangan ini, satu hal mendasar dan mendesak perlu diperjuangkan: literasi—baik literasi dasar maupun lanjutan.
Literasi sering dipersempit menjadi kemampuan membaca dan menulis. Padahal, sejatinya literasi adalah fondasi berpikir, berdaya, dan bertindak. Literasi adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengolah informasi agar bisa mengambil keputusan yang tepat dalam kehidupan. Di wilayah seperti Papua, di mana anak-anak masih bergumul dengan kesenjangan pembelajaran, literasi bahkan menjadi hak asasi untuk hidup lebih bermartabat.
Data Asesmen Nasional (2022) menunjukkan banyak siswa Papua berada dalam kategori “perlu intervensi khusus” dalam literasi. Ini artinya, tanpa penguatan sejak usia dini, mereka terancam mengalami putus sekolah dan tersisih dari kompetisi global. Literasi dasar—membaca, menulis, berhitung—adalah fondasi awal. Tapi Papua butuh lebih dari itu.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Dalam dunia yang bergerak cepat menuju digitalisasi dan kecerdasan buatan, literasi lanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Ini mencakup literasi digital, literasi data, literasi budaya, literasi sains, dan literasi keuangan. Kemampuan untuk mengakses informasi, menilai keakuratan sumber, bahkan menciptakan konten sendiri—adalah bentuk literasi baru yang harus dimiliki SDM Papua agar tidak tertinggal, bahkan bisa bersaing.
Bagi OAP, literasi lanjutan bukan hanya jalan menuju modernitas. Ia adalah alat untuk menjaga jati diri, mempertahankan budaya, dan memperjuangkan hak-hak kolektif. Pemuda Papua bisa memanfaatkan literasi digital untuk memperkenalkan seni dan warisan leluhur ke dunia, sekaligus ikut menentukan arah kebijakan publik melalui literasi kewarganegaraan.
Teknologi Tak Akan Mampu Dikuasai Tanpa Literasi
Kita sedang memasuki era Revolusi Industri 5.0, di mana kolaborasi manusia dan mesin menjadi inti transformasi. Tapi bagaimana bisa berbicara tentang kecerdasan buatan (AI) jika kemampuan literasi dasar saja belum merata? Literasi menjadi jembatan antara manusia dan teknologi.
Penggunaan AI seperti ChatGPT, aplikasi pembelajaran cerdas, hingga sistem kesehatan berbasis data memerlukan kemampuan memahami, menafsirkan, dan mengelola informasi digital. Tanpa penguasaan literasi lanjutan, OAP hanya akan jadi pengguna pasif, bukan penggerak inovasi.
Namun hubungan antara literasi dan AI bersifat timbal balik. AI juga bisa menjadi alat untuk meningkatkan literasi. Aplikasi pembelajaran adaptif dapat membantu siswa Papua belajar sesuai gaya dan kecepatan mereka. Artinya, jika literasi diperkuat, teknologi bisa digunakan secara lebih inklusif dan efektif.
Tantangan: Struktural dan Budaya
Memang tidak mudah. Masalah mendasar terletak pada keterbatasan guru, bahan ajar yang tidak kontekstual, serta pendekatan pendidikan yang mengabaikan identitas budaya Papua. Selain itu, dominasi bahasa Indonesia di sekolah kerap menjadi tembok tinggi bagi anak-anak yang bertumbuh dengan bahasa ibu.
Kita butuh pendekatan pendidikan berbasis lokal. Bahasa daerah, cerita rakyat, dan praktik keseharian harus masuk ke ruang-ruang belajar. Literasi yang tumbuh dari budaya lokal akan lebih membumi dan bermakna.
Jalan ke Depan: Strategi dan Kolaborasi
Mengembangkan literasi OAP tidak bisa hanya menjadi tugas pemerintah. Ini memerlukan ekosistem dan kerja kolaboratif antara sekolah, keluarga, gereja, komunitas adat, dan dunia usaha. Beberapa langkah konkret yang bisa diambil antara lain:
- Menguatkan pendidikan usia dini dengan pendekatan bilingual (bahasa ibu dan Indonesia).
- Menyediakan waktu khusus untuk praktik literasi setiap hari di sekolah.
- Melibatkan orang tua dan tokoh adat dalam pendidikan anak.
- Melatih guru agar sensitif terhadap konteks lokal dan perkembangan teknologi.
- Memanfaatkan teknologi digital berbasis bahasa dan budaya Papua.
Penutup: Literasi sebagai Gerakan Peradaban
Literasi bukan sekadar program pendidikan. Ia adalah gerakan peradaban. Jika kita ingin OAP menjadi subjek pembangunan, bukan objek, maka investasi pada literasi dasar dan lanjutan adalah jalan paling masuk akal dan strategis. Literasi memungkinkan seseorang berpikir mandiri, mengambil keputusan bijak, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.
Papua tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah strategi yang menghargai budaya, memperkuat kapasitas, dan membuka akses. Karena sejatinya, membangun Papua bukan dimulai dari membangun jalan dan gedung, tetapi dari membangun pikiran. (*)
(Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Kaureh dan Mahasiswa Pascasarjana MMP UNCEN 2024)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
















Discussion about this post