Oleh: Kilitus Wetipo*
Data Buku
Judul: Bayang-Bayang Kerentanan: Tantangan Penghidupan Orang Sowek di Supiori
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pengarang: Elvira Rumkabu, Apriani Anastasia Amenes, Asrida Elisabeth, dan I Ngurah Suryawan
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun terbit: Februari 2023
Jumlah halaman: xliv+176 halaman
ISBN: 978-623-321-187-1
Pendahuluan
Apa yang dirasakan oleh orang Sowek di Supiori merupakan persoalan mendasar masyarakat Papua pada umumnya, terutama di daerah pedesaan. Tantangan yang dihadapi orang Sowek dihadapi juga oleh orang Papua lainnya, dalam masalah yang hampir sama, tetapi berbeda cerita, karena letak wilayah yang berbeda, dan interaksi dalam kehidupan masyarakatnya.
Pada umumnya orang Papua yang hidupnya bergantung dari hasil kekayaan alam seperti ikan, sagu, dan umbian-umbian, tidak sepenuhnnya bisa beradaptasi dengan perkembangan globalisasi–yang menuntut semua orang bisa menyesuaikan diri dan terlibat pada perubahan yang terjadi.
Dampak globalisasi merusak sebagian tatanan kehidupan orang Papua seperti yang dialami oleh orang Wambon di Boven Digoel, orang Sowek di Supiori, dan masyarakat di Teluk Demenggong Jayapura. Karena masyarakat Papua harus bisa menanggung dampak kehadiran perusahaan, orang asing, dan budaya baru, pada akhirnya mengganggu eksistensi manusia dan alamnya.
Wilayah Papua terdiri atas pesisir pantai, dataran tinggi, dan dataran rendah. Orang pesisir pantai memanfaatkan laut sebagai tempat untuk mata pencaharian. Sama juga dengan orang Papua yang tinggal di dataran tinggi dan rendah, akan memanfaatkan tanah dan danau untuk berkebun dan mencari ikan.
Kalau ASN dan pekerja kantoran lainnya memiliki kantor dan manajemen yang terorganisir, dan menjadikan kantor itu sebagai salah satu tempat bekerja untuk bertahan hidup, maka para petani dan nelayan juga menjadikan laut, kebun, dan danau sebagai kantor mereka, dengan manajemen mereka sendiri untuk bertahan hidup. Sebagaimana yang terjadi saat ini di kota-kota besar, jika gaji para pegawai kantoran tidak diberikan atau kantor mengalami masalah karena manajemen atau persoalan lainnya, maka pasti mereka akan menuntut agar haknya diberikan. Atau persoalan lain yang muncul adalah angka pengangguran yang tinggi.
Situasi kehidupan masyarakat perkotaan mirip dengan kehidupan masyarakat di pedesaan dengan berbagai masalah yang dihadapi. Maka muncul pertanyaan kritisnya: apa yang akan dirasakan oleh masyarakat pedesaan jika tempat satu-satunya mata pencaharian hidup mereka terancam pembangunan atau kebijakan pemerintah yang salah dan tidak memperdulikan masyarakat setempat? Apakah mereka akan demo seperti para pegawai di perkotaan? Atau apakah mereka akan diam karena tidak tahu mau buat apa? Atau mereka punya strategi untuk mengatasi masalah-masalah baru yang muncul di kampung?
Pertanyaan ini sudah diuraikan secara lengkap pada tiga buku yang ditulis oleh Elvira Rumkabu, dkk. dengan wilayah berbeda di Papua sebagai sampel. Tiga buku tersebut adalah “Merebut Kendali Kehidupan: Perjuangan Orang Wambon di Boven Digoel Menghadapi Serbuan Investasi”, “Bayang-Bayang Kerentanan: Tantangan Penghidupan Orang Sowek di Supiori”, dan “Geliat Kampung Tersembunyi: Siasat Penghidupan dan Perubahan di Teluk Demenggong Jayapura”.
Tiga buku ini bisa menjadi referensi untuk memahami persoalan masyarakat adat di Papua karena pembangunan, kehadiran perusahaan, fasilitas kesehatan dan pendidikan yang minim, serta banyak persoalan lainnya, dan sangat dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk membantu mereka, terutama pemerintah sebagai pemangku kekuasaan dan pengambil kebijakan.
![[Resensi] Tantangan penghidupan dan siasat orang Sowek di Supiori 2 Supiori](https://jubi.id/wp-content/uploads/2024/03/Opini-Supiori.jpg)
Tantangan penghidupan dan harapan
Supiori merupakan pemekaran dari Kabupaten Biak Numfor pada tahun 2003. Kampung Sowek adalah satu-satunya kampung di Distrik Kepulauan Aruri, Supiori, yang berada di atas laut. Tinggal di atas laut tentu memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Misalnya, ancaman tsunami, harus mengganti tiang rumah pada waktu tertentu, padatnya jumlah penduduk yang mengharuskan perluasan wilayah, dan semakin sempitnya mata pencaharian di laut.
Buku dengan judul “Bayang-Bayang Kerentanan: Tantangan Penghidupan Orang Sowek di Supiori” menjelaskan hasil penelitian etnografi secara mendalam atas kehidupan orang Sowek. Terdiri dari 5 bab yang menjelaskan tentang sistem pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan menurut perspektif masyarakat adat, khususnya perempuan. Dan bagaimana perempuan mengelola laut sebagai ruang hidup utama, serta tantangan-tantangan dan bagaimana menyiasatinya untuk bertahan hidup.
Dalam buku setebal 176 halaman ini, para penulis membedah secara mendalam dengan pisau penelitian studi literatur, etnografi, wawancara dengan narasumber kunci, dan survei rumah tangga.
Melalui metodologi ini, para penulis memberikan potret atau gambaran utuh tentang bayang-bayang kerentanan asupan gizi yang memadai kepada ibu dan anak, potensi kerawanan pangan, ketergantungan terhadap laut dan terbatasnya sumber penghidupan lainnya, serta tekanan kehidupan yang semakin kompleks, yang membuat situasi semakin runyam.
Tulisan ini diawali dengan menarasikan tantangan-tantangan masyarakat adat di pesisir Papua, mulai dari minimnya kesejahteraan, keterbatasan akses, perubahan ekologis, pembangunan berkarakter bias daratan, hingga ketiadaan rekognisi terhadap hak ulayat, pengetahuan, dan pengelolaan sumberdaya alam masyarakat adat.
Ruang penghidupan utama orang Sowek yang terdiri dari pesisir dan laut, menjadikan sebagian besar dari mereka bekerja sebagai nelayan. Dan laut sebagai salah satu tempat mata pencaharian untuk hidup. Hasil tangkapan para nelayan terkadang sulit dijual karena kemahalan transportasi, sehingga pendapatannya berkurang.
Kompleksitas sosial, ekonomi, dan budaya juga menempatkan perempuan pada posisi rentan. Situasi ini tampak dari situasi akses dan kontrol pada pelayanan kesehatan reproduksi, masalah kurang gizi, hingga kematian ibu dan anak. Angka kelahiran yang tinggi di Sowek dan penduduk yang semakin padat, juga membuat tempat mata pencaharian mereka di laut semakin sempit dan berkurangnya hasil tangkapan.
Persoalan gizi buruk dan angka kematian ibu dan anak menjadi salah satu persoalan serius.
Kenapa ada gizi buruk yang juga menyebabkan kematian ibu dan anak, padahal Sowek memiliki ikan yang berlimpah?
Pada buku ini tidak dijelaskan spesifik masalahnya. Tapi secara umum ditemukan beberapa penyebabnya, yaitu karena jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, hasil tangkapan ikan besar lebih banyak dijual dan ikan kecilnya saja yang biasanya dimakan.
Padahal ikan besar maupun kecil yang memiliki banyak protein baik untuk kesehatan, sehingga harus dikonsumsi ibu dan anak. Dan beberapa persoalan lain yang memerlukan kajian mendalam untuk menemukan masalahnya.
Dari kompleksitas persoalan yang dialami oleh orang Sowek, maka sangat diperlukan peran gereja/agama, adat, dan pemerintah dalam mengatur pengelolaan sumber daya laut, mengurangi stunting, angka kematian ibu dan anak, dan persoalan-persoalan lainnya.
“Bapa punya hati sangat sedih mendengar anak-anak punya hasil temuan (dalam buku) ini. Tapi, itu sudah kenyataan yang ada di Sowek. Kita tidak bisa sembunyi. Harus orang di luar tahu, pemerintah kah, biar mereka datang bantu selesaikan persoalan ini,” kata masyarakat Kampung Sowek, Eskor Sarawan.
Ada harapan besar orang Sowek atas semua persoalan yang mereka alami, yakni, keterlibatan semua pihak, terutama pemerintah sebagai pemangku kekuasaan, untuk bisa menyelesaikan masalah-masalah ini. Solusi-solusi sudah diidentifikasi oleh para peneliti, dan memberitahu pembaca apa yang dilakukan sebagaimana ditulis dalam bab terakhir. (*)
*Penulis adalah anggota komunitas dari Swara Akar Papua (SWAP) – Koalisi Kampus untuk Demokrasi Papua
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
![[Resensi] Tantangan penghidupan dan siasat orang Sowek di Supiori 1 orang Sowek](https://jubi.id/wp-content/uploads/2024/03/Opini-Kampung-Sowek-1140x599.jpg)



Discussion about this post