Jayapura, Jubi – Terletak jauh dari Brisbane Australia, seorang perempuan Aborigin memetik daun dari pohon Bush (Bahasa Marind) atau Eucalypthus lalu menggosok diwajahnya dan mengatakan kalau merasa tidak enak badan atau demam akan mencium serta menggosok daun eucalyptus.
Hal itu dikatakannya kepada jurnalis Jubi saat berkunjung ke Brisbane, ibu kota Queensland, di tepi Sungai Brisbane, pada Agustus 2014 lalu.
“Iya daun eucalypthus ini merupakan obat bagi kami warga Aborigin dan juga saudara Melanesia kami di Kepulauan Selat Tores,” katanya sambil memperagakan cara memakainya.
Sepintas jurnalis Jubi merasakan efek dari daun ini seperti mengoles minyak kayu putih dan memang minyak itu bersumber dari pohon eucalypthus yang banyak tumbuh di Papua Selatan.
Memang benar kearifan local masyarakat adat Aborigin ini telah didokumentasikan oleh WWF Australia dalam laman internetnya, wwf.org.au menyebutkan, masyarakat Aborigin dan Penduduk Kepulauan Torres Strait telah memanfaatkan ekosistem hutan Eukaliptus di Australia selama puluhan ribu tahun.
Daun eucalypthus ini jelas memberi manfaat dan penggunaannya yang sudah dikenal luas. Dari wilayah pegunungan Alpen yang dipenuhi pohon Snow Gum di Taungurung Country, hingga Pantai Barat.
Kawasan ini merupakan rumah bagi pohon tooart (tuart) ikonik (Eucalyptus gomphocephala), khasiat berharga dari pohon ini telah dipahami dan dikonsumsi oleh masyarakat Aborigin dan Melanesia Selat Tores selama berabad-abad.
Tak dapat disangkal, pohon eukaliptus terkenal sebagai antiseptik alami, dan masyarakat adat juga menggunakan beberapa spesies eukaliptus sebagai tonik untuk berbagai penyakit, termasuk masalah pencernaan.
Getah pohon eukaliptus dicampur dengan air lalu diminum untuk mengobati gejala seperti diare.
Daun eukaliptus sangat terkait dengan praktik kesehatan spiritual masyarakat adat, karena salah satu daunnya sering dibakar dalam upacara pengasapan.
Upacara pengasapan adalah ritual yang sangat penting secara budaya yang telah dilakukan oleh masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander selama ribuan tahun.
Dalam upacara adat itu para tetua adat akan mengibas asap kepada orang-orang yang hadir dalam upacara untuk membersihkan mereka, serta lokasi itu sendiri dari roh jahat dan untuk mendorong kesehatan yang baik.
Upacara-upacara ini terhubung dengan budaya, tanah air, dan manfaat kesehatan dari pengobatan tradisional Aborigin dan Torres Strait Islander.
Sayangnya, fungsi pohon eukaliptus yang mengesankan tidak selalu menguntungkan alam. Dalam ironi yang kejam, pohon eukaliptus memiliki kemampuan alami untuk menunjukkan keberadaan emas di bawahnya.
Pencitraan unsur sinar-X telah mengungkapkan endapan emas dan logam lainnya dalam struktur daun eukaliptus dari wilayah Kalgoorlie di Australia Barat “yang tidak akan dapat dilacak menggunakan metode lain”.
Kelimpahan emas di bawah pepohonan eucalphtus itu telah membuat pohon pohon keramat itu harus rata dengan tanah.
Terlepas dari semua itu WWF Australia telah mencatat nama nama eucalypthus dalam Bahasa Aborigin sesuai wilayah adat masing-masing di sana. Nama nama itu antara lain,
Jarrah (Noongar dan nama umum untuk Eucalyptus marginata) Moich (Nama Noongar untuk Eucalyptus rudis alias permen karet banjir) Wandoo (Noongar dan nama umum untuk Eucalyptus Wandoo) Aper (nama Alyawarr, Anmatyerr dan Arrernte Timur untuk Eucalyptus camaldulensis alias pohon karet merah sungai).
Dwutta (nama Noongar untuk Eucalyptus todtiana alias pohon kulit berduri)
Muggago (nama Dharawal untuk Eucalyptus crebra, umumnya dikenal sebagai kulit besi berdaun sempit)
Mottlecah (nama Noongar untuk Eucalyptus macrocarpa)
Kayu Bush dan orang Marind Anim di Papua Selatan
Era 1998 memasuki tahun 2000 jurnalis jubi berkunjung pula ke Papua Selatan dan bertemu dengan warga Suku Marind di Merauke dan menceritakan pengalaman mereka sejak dulu.
Bekas areal Tanah Miring itu dulu kitorang (kita orang) punya orang tua dulu punya tempat berburu mencari kangguru (saham), rusa, babi hutan( basic/bahik), tikus tanah (tuban), ular pyton(hiyawa), burung Mambruk( Mahuk) dan Burung Cenderawasih(Yanggam).
Rusa bukan hewan asli Merauke, karena Prof Dr Ronald G Petocz menulis dalam bukunya, Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya (sekarang Papua), jenis rusa (Cervus timorensis) dulunya dimasukan Belanda pada 1928 oleh Belanda di Merauke, Manokwari.
Sejak itu pula rusa berkembang biak luar biasa sehingga Kota Merauke dijuluki pula sebagai Kota Rusa.
Selain itu dalam rawa rawa tadah hujan di Papua Selatan, terdapat pula ikan ikan air tawar seperti ikan kakap rawa (Ipni) Lates calcarifer.
Spesies ini juga dikenal luas dengan nama Kakap Putih, Barramundi, atau Giant Sea Perch. Ikan ini sangat unik karena mampu hidup di berbagai tingkat salinitas, mulai dari air tawar, payau, hingga air laut.
Bukan hanya itu saja ada pula ikan duri (kelop), ikan mata bulan(hiyabok). Sedangkan ikan betik atau Anabas testudineus baru masuk ke Papua Selatan sekitar 1980 an, ada pula jenis ikan gabus seperti Olip, Nambin dan Katip.
Ikan ikan ini selalu menjadi konsumsi dari Burung Pelikan Australia (Pelecanus conspicillatus) bermigrasi menempuh ribuan kilometer dari pesisir Australia menuju wilayah Indonesia bagian timur, termasuk kawasan pesisir selatan Papua.
Perjalanan lintas benua ini dilakukan sebagai respons terhadap perubahan musim, cuaca, dan ketersediaan pakan. Burung migrasi ini ke kawasan Merauke setiap tahun pada periode Agustus hingga November, dengan puncaknya terjadi pada September hingga November.
Hanya saja burung migrasi dari Australia banyak mati karena memakan ikan betik yang berduri. Burung Pelikan ini menelan ikan betik yang berduri sehingga melukai lehernya dan mati.
“Iya burung-burung ini tak mengenal ikan betik karena bukan ikan asli di sini,”kata aktivis Lingkungan Hidup Waktu itu, mendiang Lyndon Pangkali.
Hutan Bush memiliki kegunaan dan manfaat pula bagi masyarakat Marind Anim di Papua Selatan, sebagai fungsi ekologis hutan hutan ini menjaga keseimbangan air saat musim panas dan juga musim hujan.
Pohon pohon eucalyptus di hutan rawa Merauke akan membantu air saat musim hujan tidak langsung ke tanah (run off), tetapi mengenai dedaunan pohon dan tersimpan di dalam tanah sehinga bisa menahan banjir.
Begitupula saat musim panas tiba, pohon pohon eucalyptus atau bush bisa menyimpan air hujan saat musim panas tiba, air rawa tersimpan karena adanya hutan bush.
Bagi masyarakat adat Marind, kawasan ini mendukung pengetahuan kearifan tradisiona etnobotani masyarakat daunnya untuk obat obatan orbal, menyediakan kayu bakar, dan bahan baku untuk membangun tempat tinggal kulit pohon bush dipakai untuk dinding rumah dan atap selain atap daun sagu.
Pengetahuan local ini membuat Yayasan Wasur Lestari, yayasan yang membina masyarakat di sekitar Taman Nasional Wasur, Merauke, untuk menyuling minyak kayu putih.
Lembaga ini didukung oleh WWF, untuk ini memproduksi merk Minyak Kayu Putih Walabi dari pohon Asteromyrtus symphyocarpa, untuk memberdayakan ekonomi warga.
Produk unggulan ini mewakili inisiatif ramah lingkungan yang dipasarkan dengan bantuan lembaga konservasi. (*)




















Discussion about this post