• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Menjaga Tiyaitiki, warisan leluhur Suku Tepera di perairan Tanah Merah

November 14, 2025
in Indepth Story
Reading Time: 6 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Syofiardi
Tiyaitiki

Seorang perempuan sedang mencari ikan di Telaga Kampung Tablanusu. – Jubi/Engel Wally

0
SHARES
377
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Sapuan ombak memecah bibir pantai jelas sekali terdengar. Tak terlihat aktivitas yang ramai seperti biasanya di Pantai Amai, Kampung Tablasupa, siang itu, Selasa (11/11/2025). Sesekali terdengar suara kicauan burung dari balik pepohonan yang saling bersahutan dengan deru ombak.

Di tepi pondok wisata yang berhadapan dengan muara sungai yang hanya bersebelahan dengan pantai, Marten Serontou tampak sibuk membersihkan perahu miliknya, ketika hujan rintik baru saja turun siang itu.

Tubuhnya terlihat sedikit membungkuk sambil menguras air yang tertampung dalam perahu semangnya yang berukuran kecil. Ia sedang tak melaut hari itu, karena cuaca dan gelombang di bulan November ini kurang bersahabat.

Marten adalah tokoh adat Tablasupa dan nelayan senior berusia 70 tahun. Ia pewaris marga Serontou, salah satu suku pemegang komando tradisi konservasi laut di kampungnya. Tradisi yang dikenal dengan sebutan Tiyaitiki, sebuah kearifan lokal yang mirip dengan tradisi sasi.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Tiyaitiki merupakan sistem pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang diterapkan secara turun-temurun oleh masyarakat adat Suku Tepera di pesisir perairan Tanah Merah. Perairan ini terletak di Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Tiyaitiki, seperti halnya sasi, dilakukan melalui model ‘buka-tutup’ kawasan pada waktu tertentu.

Pranata sosial itu adalah pengetahuan mengatur, mengelola, memanfaatkan, dan melestarikan sumber daya laut dan pesisir dalam konteks lokal, yang telah diwariskan dari pengalaman nenek moyang. Tiyaitiki, potret konservasi alam dari masyarakat adat di Papua demi keberlangsungan ekosistem laut.

Infografis TiyaitikiMarten Serontou tak berhenti mengunyah pinang bercampur kapur dan sirih, sambil bercerita panjang lebar tentang Tiyaitiki. Sebagai tokoh adat dengan gelar andoafi (Kepala Suku Serontou di Tablasupa), Marten masih terus menjaga tradisi warisan leluhurnya itu di tengah gempuran aktivitas para pencari ikan modern yang menghalalkan segala cara untuk mengeruk kekayaan laut di perairan Tanah Merah.

BERITATERKAIT

FBTM Ke-5 digelar ditengah kekurangan, panitia harap pemerintah beri perhatian

Puluhan kelompok tani dan nelayan OAP terima bantuan dari Dana Otsus

Penghasilan penjual ikan di Sarmi, sebulan bisa Rp30 juta

Mengenal model konservasi tradisional suku-suku di Tanah Papua

​”Kami memegang teguh sistem buka-tutup wilayah laut ini yang disebut dengan istilah Tiyaitiki. Tujuan utamanya untuk konservasi ekosistem laut dan penerapan nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat,” kata Marten.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

​Ia bercerita, sasi itu diberlakukan ketika ada kegiatan besar, seperti pembangunan gereja dan acara adat. Selama konservasi adat sasi Tiyaitiki itu diberlakukan, sebagian wilayah laut di perairan Tanah Merah ditutup total. Perintah larangan itu disampaikan langsung oleh tokoh adat setelah diadakan musyawarah.

Bahkan menyalakan cahaya lampu atau suara bising pun dilarang agar ikan tidak menjauh. Larangan itu berlaku hingga waktu yang ditentukan tiba atau pada saat air surut panjang.

Kearifan lokal Suku Tepera itu dimulai dari memasang perangkap seperti rumpon yang dipagari di laut untuk menjebak ikan, dan melibatkan ritual adat yang ditandai dengan menancapkan kayu sowang sambil membaca mantra.

Tiyaitiki
Andoafi Tablasupa, Marthen Serontou. – Jubi/Engel Wally

Mereka memastikan tidak semua wilayah laut yang berada di perairan Tanah Merah ditutup. Ada wilayah yang tetap dibuka agar masyarakat yang bergantung pada mata pencarian sebagai nelayan tetap dapat mencari ikan selama masa penutupan sasi.

Marten mengatakan tradisi Tiyaitiki telah berlangsung sejak zaman orang tua dulu. Bahkan kalau sampai ada yang masuk dengan lampu di laut pun akan jadi masalah karena sangat ketatnya aturan.

“Sasi Tiyaitiki ini untuk memberi ruang supaya ikan-ikan bisa bertelur dengan tenang di dalam wilayah yang di-sasi tanpa gangguan dari kegiatan nelayan,” ujarnya.

Tak jauh dari Tablasupa, di Kampung Tablanusu yang berada di pesisir Teluk Tanah Merah, konservasi kearifan lokal Tiyaitiki itu juga sudah berlangsung sejak dulu. Arikelaus Danya, kepala Kampung Tablanusu, mengkonfirmasi tradisi sasi sudah lama ada di sana.

​”Konservasi yang disebut sasi itu sudah jadi tradisi dari dulu. Kami masyarakat, khusus di Kampung Tablanusu, itu wilayah reef, karang-karang itu memang dilarang [mengambil hasilnya],” katanya.

Larangan itu, jelasnya, diberlakukan pada saat menjelang acara besar adat. Wilayah sasi itu akan dibuka pada bulan tertentu atau ketika air surut panjang untuk kemudian hasilnya dipanen beramai-ramai oleh masyarakat.

“Jadi praktik konservasi sasi itu sangat bagus untuk keberlanjutan ekologi, dan sudah sepantasnya tetap dilestarikan,” kata Arikelaus.

tiyaitiki
Nelayan hendak melaut di pesisir Pantai Tablanusu. – Jubi/Engel Wally

Tiyaitiki mengajarkan saling berbagi

Tiyaitiki atau sasi akan dibuka pada hari yang sudah ditetapkan, biasanya pada pertengahan tahun antara Juni dan Juli, tepat saat musim surut panjang. Ketika wilayah sasi dibuka, masyarakat dari lintas kampung dipanggil untuk memanen ikan yang sudah berlimpah ruah di perairan.

“Ketika waktu yang sudah ditentukan tiba, biasanya pada musim laut surut atau istilahnya di sini itu ‘meti kering’ sekitar bulan Juni dan Juli, kami akan mengumumkan pembukaan sasi,” kata Marten Serontou.

Pada saat pembukaan, kerabat suku yang menikah di luar, seperti dari Depapre, Tablanusu, Yokari, Yewena, dan Doromena, diundang untuk turut serta. Tapi dua suku di Kampung Tablasupa selain Serontou, yaitu Apaseray dan Demena, akan mendapatkan tempat di tengah wilayah sasi. Sedangkan tempat untuk Serontou berada di pinggir.

“Saat pembukaan, kami mengutamakan suku Apaseray dan Demena berada di tengah-tengah karena mereka adalah orang darat, sementara kami yang punya tempat mengambil di pinggiran sebagai bentuk penghormatan,” kata Marten.

Hasil panen ikan itu akan dibagikan merata ke seluruh masyarakat, dengan mendahulukan yatim piatu, janda, dan duda. Tradisi itu menggarisbawahi filosofi Tiyaitiki atau sasi, yakni saling berbagi, adil, dan tidak boleh serakah.

tiyaitiki
Andoafi Tablasupa, Marthen Serontou sedang membersihkan perahunya. – Jubi/Sudjarwo Husain

“Yang didahulukan itu yatim piatu, janda, dan duda, semuanya akan mendapatkan bagian. Jika kami melaut sendiri, kami cenderung tidak ingat pada mereka. Dengan sasi, kami memastikan pembagian yang adil dan merata, sesuai dengan nilai berbagi yang diturunkan oleh orang tua kami,” katanya.

Pada panen hasil sasi itu, kata Marten, marga Serontou sebagai pemilik lokasi sangat menghormati tamu dan mempersilakan siapapun untuk membawa pulang ikan dengan ukuran yang besar hingga kecil.

“Jika mereka mendapatkan ikan besar, itu adalah milik mereka. Secara adat, bahkan jika kami sendiri mendapatkan ikan besar, ikan itu harus kami berikan kepada orang lain. Kami tidak boleh mengambilnya sendiri,” ujarnya.

Dari kearifan lokal sasi Tiyaitiki itu, mengajarkan masyarakat sejak dulu di wilayah pesisir yang didiami Suku Tepera untuk mengambil hasil kekayaan laut secukupnya agar bisa dinikmati semua orang.

“Sasi Tiyaitiki ini juga mengajarkan masyarakat untuk mengambil hasil laut secukupnya dan tidak boleh serakah, jadi ikan yang diambil secukupnya pada suatu waktu akan datang berlimpah,” katanya.

Tradisi itu mengikat erat hubungan kekeluargaan di Kampung Tablasupa. Dalam prosesnya, perempuan juga berperan aktif dalam mencari kerang dan menyiapkan makanan olahan ikan untuk disantap bersama.

Abraham Oyaitouw, sekretaris Kampung Tablasupa mengakui dampak Tiyaitiki telah menanamkan nilai-nilai positif sebagai pedoman dalam kehidupan orang-orang tua dulu hingga generasi muda.

tiyaitiki
Nelayan Tablanusu, Rudi Suwae sedang merapikan jaring. – Jubi/Sudjarwo Husain

“Praktik itu menjamin janda, duda, dan anak yatim piatu. Maknanya positif sekali, kita saling membantu keluarga, ekonomi keluarga yang tidak mampu. Mereka juga bisa merasakan bahwa mereka dapat dampak positif, ekonominya meningkat, dan bertambah,” kata Abraham.

Berkah bagi nelayan lokal

Hari sudah menjelang petang di Tablanusu, Kampung tetangga Tablasupa di pesisir perairan Tanah Merah. Ombak menyapu bibir pantai menimbulkan suara berisik yang berulang. Pantai itu dipenuhi hamparan batu koral, dan ketika ombak menyapu batu-batu itu, terdengar suara gesekan yang disebut oleh masyarakat setempat, ‘batu menangis’.

Di belakang suara ‘tangisan’ batu koral itu, tradisi konservasi sasi Tiyaitiki juga masih terjaga, dan diberlakukan pada jelang perayaan besar, seperti acara adat yang bertepatan dengan musim surut panjang atau lautan mengering.

“Filosofi sasi itu lebih kepada kita menjaga lingkungan, menjaga kawasan agar tetap lestari dan bisa dinikmati turun-temurun, keberlangsungan untuk generasi berikutnya. Karena cara mengambilnya memang secukupnya saja,” kata Arikelaus.

​Rudi Suwae, seorang nelayan Kampung Tablanusu, bercerita bagaimana orang tua dulu mengajarkan batasan, mengambil hasil laut secukupnya.

​”Kalau orang tua dulu ajarkan kepada kita ambil ikannya secukupnya untuk penghasilan dalam rumah saja, untuk kita makan,” kata Rudi.

tiyaitiki
Nelayan menarik perahu di pesisir Pantai Tablanusu. – Jubi/Engel Wally

Ikan yang berlimpah di perairan Tanah Merah tak lepas dari peran konservasi adat seperti sasi Tiyaitiki, di mana ada masa ikan diberikan kesempatan untuk bertelur di dalam Teluk, lalu pada hari yang ditetapkan ikan akan dipanen oleh masyarakat.

Kearifan lokal itu yang pada akhirnya juga mendatangkan berkah bagi para nelayan di sana, termasuk Rudi salah satunya.

“Orang-orang tua dulu masih bisa panggil ikan, masuk ke sini [ke dalam teluk]. Ketika ikan banyak yang masuk, kita mencari dan ambil secukupnya,” ujarnya.

Sekretaris Distrik Depapre Marthen Luther Suwae yang juga berasal dari Kampung Tablanusu mengakui tradisi sasi Tiyaitiki sudah berlangsung turun-termurun sejak zaman dulu.

“Pikiran mereka, supaya ikan di situ jangan sampai punah. Mereka biarkan satu tahun supaya ikan yang besar-besar mereka panen saat buka sasi, ” katanya.

Ia melanjutkan, tidak semua ikan itu diambil habis, tapi mereka mengambil secukupnya. “Sehingga pemeliharaan ikan, terumbu karang, dan lain-lain dijaga. Tradisi itu yang terus dipakai sampai hari ini di daerah pesisir Tanah Merah,” ujarnya.

Marten Serontou, andoafi di Kampung Tablasupa menuturkan, adat bertindak tegas kepada para pencari ikan yang menggunakan bahan peledak di laut. Bagi yang melanggar langsung akan dilaporkan ke kepolisian dan ditindak secara hukum. Ketegasan itu beriringan dengan tradisi sasi Tiyaitiki, menjaga kelestarian alam dan ekosistem laut.

“Kami harus terus mengingatkan bahwa laut harus dijaga dan kami bersyukur praktik bom ikan yang dulu marak, baik dari warga kampung sendiri maupun dari luar, kini sudah hampir tak pernah kami lihat lagi,” katanya.

tiyaitiki
Perahu nelayan Tablanusu bantuan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jayapura. – Jubi/Sudjarwo Husain

Konservasi adat dan standar nasional

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jayapura Suliyono menyebutkan pihaknya sangat mendukung tradisi lokal yang sejalan dengan konservasi.

​”Tradisi itu berdampak kepada nelayan dalam rangka meningkatkan pendapatan dan keberlanjutan ekologi, harus kita dukung agar tatanan itu berjalan baik dan konsep nasional terkait nelayan tangkap juga berjalan baik,” katanya.

​Suliyono dan dinasnya juga melarang keras praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

“Soal cara penangkapan modern seperti bom, itu jelas tidak boleh. Semua peralatan yang merusak ekosistem, atau bahkan memudahkan penangkapan ikan yang belum waktunya dipanen, itu salah dan melanggar aturan,” ujarnya.

​Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jayapura mendukung kearifan lokal yang mirip sasi dengan memasang rumpon yang dipagari di laut untuk memanggil ikan masuk ke dalam teluk, lalu membiarkan ikan-ikan itu bertelur hingga pada waktunya akan dipanen sebagian.

“Tahun ini kami juga akan fasilitasi, sehingga ikan bisa bersarang dengan baik tidak terlalu jauh, karena tidak semua nelayan punya kapal,” ujarnya.

tiyaitiki
Teluk Tanah Merah di Tablasupa. – Jubi/Sudjarwo Husain

Ia menjelaskan, untuk meningkatkan hasil tangkapan nelayan, perlu ada kolaborasi antara kearifan adat dan standar nasional.

​”Kalau standar nasional, untuk meningkatkan perikanan tangkap, kita harus melakukan fasilitasi,” ujarnya.

​Fasilitasi itu, kata Suliyono, mencakup kelengkapan peralatan tangkap seperti pancing dan lainnya.

“Yang paling menonjol adalah armada, baik kategori 2 GT maupun 3 GT, yang dipakai melaut dengan daya jelajah berbeda. Mayoritas di area tuna menggunakan 3 GT, di situlah yang kita fasilitasi,” katanya.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jayapura tengah menggodok kolaborasi sistem kearifan lokal dengan standar nasional dengan konsep Kampung Nelayan Merah Putih yang bertujuan meningkatkan hasil tangkapan. Fasilitas yang diberikan meliputi peralatan tangkap, pabrik es untuk pengawetan di laut, cold storage (ruang pendingin) di darat agar ikan awet berbulan-bulan, dan engkel untuk perbaikan.

Itu akan dilakukan untuk menggenjot peluang ekspor dari sektor kelautan dan perikanan yang dimiliki oleh Kabupaten Jayapura. Wilayah tersebut merupakan penghasil ikan yang melimpah, termasuk tuna kelas satu.

​”Setelah tangkapan banyak, kita kolaborasikan ke koperasi, karena keterbatasan fasilitas, nelayan di wilayah Kabupaten Jayapura saat ini baru mampu memenuhi 46,66 ton ikan tuna,” ujarnya. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Tags: Dinas Kelautan dan Perikanankonservasi tradisional Papuanelayan asli Papuatanah merah
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
Bupati Jayapura

Menakar setahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Jayapura

March 25, 2026

Jejak sumur bor, eksplorasi minyak di Papua

March 19, 2026

Kehangatan Peta dan kegembiraan “anak kaleng” saat hari raya di Jayapura

March 18, 2026

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026

Seniman biola Papua di ruang publik

March 11, 2026

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

April 4, 2026
Tambrauw

Mediasi Komnas HAM–Bupati Tambrauw, 5 DPO penyerangan Bamusbama serahkan diri

April 4, 2026
persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
beasiswa

Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

April 2, 2026
ekskavator

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

April 1, 2026
Peristiwa Dogiyai

Amnesty Internasional, ULMWP dan mahasiswa nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

April 3, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
gubernur

Ini penjelasan Gubernur Fakhiri terkait pemberhentian petugas kebersihan

March 31, 2026
Gubernur

Gubernur Papua Barat sebut pekan depan ASN bekerja dari rumah setiap Jumat

April 1, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

0
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

0
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

0
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

0
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

0
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

0
Tambrauw

Mediasi Komnas HAM–Bupati Tambrauw, 5 DPO penyerangan Bamusbama serahkan diri

0

Trending

  • persipura

    Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Amnesty Internasional, ULMWP dan mahasiswa nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara