Jayapura, Jubi – Museum Waktu dengan tema Mimpi di Tanah Papua menjadi ruang belajar bersama bagi para pelajar, untuk mengenal sejarah Papua melalui pameran foto, pemutaran film, dan sesi diskusi yang dikemas secara menarik, juga mudah dipahami.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Satu Mimpi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, di Papua Youth Creative Hub atau PYCH, Kota Jayapura, Papua, Selasa (31/03/2026).
Founder Komunitas Satu Mimpi, Kevin Faza, mengatakan melalui pameran foto, pemutaran film, dan sesi diskusi, pihaknya mengajak para pelajar di Kota Jayapura lebih mengenal sejarah Papua, menumbuhkan semangat belajar dan rasa kebangsaan.
“Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman yang lebih dekat dan kontekstual mengenai sejarah Papua kepada generasi muda,” kata Kevin Faza saat kegiatan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Menurutnya, Museum Waktu ‘Mimpi di Tanah Papua’ juga sebagai bentuk edukatif dengan melibatkan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Sebanyak 600 pelajar ambil bagian dalam kegiatan ini, terdiri dari 200 siswa SD, 200 siswa SMP, dan 200 siswa SMA yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Jayapura,” ucapnya.
Museum Waktu ‘Mimpi di Tanah Papua’ juga dihadiri Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, serta Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura.
Kehadiran pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura itu, menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap kegiatan yang berfokus pada penguatan wawasan sejarah dan kebangsaan bagi pelajar.
“Acara diawali dengan tur galeri foto dan juga para peserta diajak menyusuri perjalanan sejarah Papua melalui materi visual yang disajikan secara sistematis. Serta pemutaran video sejara Papua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, materi pameran Museum Waktu dibagi ke dalam lima zona waktu, mencakup masa pra-kolonial, masa kolonial, era perang dunia, masa setelah kemerdekaan Indonesia, hingga proses integrasi Papua serta perkembangan pada masa reformasi dan otonomi khusus.
Museum Waktu ‘Mimpi di Tanah Papua disebut menjadi kegiatan sosial edukatif yang memberikan manfaat nyata bagi generasi muda.
“Diharapkan melalui kolaborasi antara komunitas dan pemerintah, kegiatan ini tidak hanya memperluas wawasan sejarah, juga menumbuhkan semangat belajar, rasa persatuan, serta kesadaran kebangsaan di kalangan pelajar di Kota Jayapura,” kata Kevin Faza.
Narasumber dalam kegiatan itu, Koordinator Penghubung Komisi Yudisial Republik Indonesia wilayah Papua, Methodius Kossay mengatakan, generasi muda Papua memegang peran penting sebagai kunci masa depan Papua dan Indonesia.
“Anak muda memiliki potensi besar, namun keberhasilan mereka sangat ditentukan oleh pola pikir, perjuangan, dan tindakan nyata, bukan semata-mata latar belakang kelahiran,” kata Methodius Kossay.
Dalam pemaparannya, ia menyampaikan bahwa perubahan cara berpikir menjadi pondasi utama kemajuan. Pola pikir negatif, baik yang datang dari dalam diri orang Papua sendiri maupun stigma dari luar, harus diubah melalui prestasi dan pembuktian nyata di berbagai bidang.
Menurutnya, generasi muda membutuhkan sosok role model yang tidak hanya dikagumi, tetapi juga mampu ditiru dari segi nilai, integritas, serta kerja keras, sehingga dapat membentuk arah hidup yang lebih jelas dan positif.
Kossay mengatakan, pentingnya persatuan dalam keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Sebab, perbedaan suku, agama, dan budaya seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia, bukan untuk dipertentangkan.
Generasi muda juga diingatkan mewaspadai radikalisme dan berbagai pengaruh negatif. Katanya, anak muda perlu diarahkan, agar tidak terjerumus dalam pemikiran ekstrim, pergaulan yang merugikan, maupun sikap destruktif yang dapat menghambat masa depan mereka.
Pendidikan karakter lanjut Kossay, memiliki peran yang sama penting dengan pendidikan formal, dan keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, juga karena iman, karakter, disiplin, dan integritas.
“Nasionalisme harus dibangun melalui pengalaman dan kesadaran. Indonesia bukan sekadar konsep, melainkan realitas yang perlu dijaga melalui kontribusi nyata generasi muda, termasuk dari Papua,” ucapnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post