Sentani, Jubi – Pohon Khombouw adalah satu-satunya jenis pohon yang kulitnya diolah menjadi media ukir dan lukis oleh masyarakat Ohei atau Asei di Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura. Kulit kayu khombouw itu diolah secara manual dan tradisional menjadi seperti selembar kain yang berwarna coklat tua.
Pengolahan kulit kayu khombouw dilakukan masyarakat Asei melalui beberapa tahapan. Pertama-tama masyarakat Asei naik ke perahu menuju tempat-tempat tertentu untuk mencari, menebang, dan mengambil pohon khombouw. Setelah diambil, batang pohon khombouw dipotong dengan ukuran tertentu untuk memudahkan pengangkutannya ke dalam perahu untuk dibawa pulang.
Seniman ukir kulit kayu Kampung Asei Besar, Bertha Pepuho menjelaskan, ketika batang pohon khombouw tiba di darat, pekerjaan menguliti kayu khombouw pun dimulai. Kulit kayu dikelupas dari batang kayunya. Proses melepas kulit khombouw dilakukan dengan terampil. Awalnya potongan batang khombouw akan diiris pada permukaan kulitnya dengan menggunakan alat tajam (pisau/parang), searah dari ujung ke ujung.

“Setelahnya kita pakai ujung pisau untuk cungkil bagian kulit yang diiris tadi sampai sedikit terangkat, setelah itu pakai sebatang kayu ukuran kecil untuk membuka kulit khombouw, caranya kita cungkil pelan-pelan sampai kulit terpisah dari bagian dalam potongan pohon khombouw,” kaga Pepuho saat diwawancara Jubi usai melakukan demonstrasi pengolahan kulit kayu khombouw pada pagelaran Festival Kulit Kayu di Kampung Asei Besar, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura pada Kamis (10/10/2024).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Setelah dikupas, lanjutnya, bagian luar kulit khombouw yang berwarna abu kehijauan, dikupas menggunakan pisau. Kulit khombouw yang telah dikupas kemudian dicuci untuk menghilangkan getah pada bagian luar dan lendir yang menempel pada bagian dalam kulit. Setelah dicuci, kulit kayu mulai ditumbuk dengan sebuah lempengan besi di atas benda keras seperti batu. Proses penumbukan untuk menghasilkan selembar kain tapa kulit khombouw memerlukan waktu seharian.
“Cara tumbuk kulit khombouw juga tidak asal-asalan, kita harus perhatikan semua bagian supaya ditumbuk merata dan saat kulit melar atau terbuka seperti satu lembar kain [tapa] tidak ada bagian yang masih tebal atau terlalu tipis. Setelah itu kita jemur sampai kering lalu kita kasih ke laki-laki untuk diukir atau lukis pada permukaan kulit kayu,” tuturnya.
Pepuho mengungkapkan, pada proses mengukir atau melukis hanya laki-laki yang bisa melalukannya, anak laki-laki atau bapak-bapak. Hal itu karena berdasarkan mitos filosofis di Asei percaya bahwa setiap perempuan terutama yang belum atau baru menikah, tidak dapat dipastikan bisa melahirkan keturunan yang akan meneruskan budaya mengolah kulit pohon khombouw dan mengukir, serta melukis.
“Itu pantangan kami, yang boleh kami lakukan hanya menyiapkan kulit kayu, dan mewarnai lukisan yang telah dibentuk oleh kaum laki-laki. Tahapan melukis itu, laki-laki pakai cat hitam yang terbuat dari arang untuk membentuk rangka lukisan, setelah itu kami perempuan dan anak-anak bertugas mewarnai. Ada cat merah terbuat dari tanah liat dan cat kuning dari kunyit. Itu warna dominan yang dipakai dalam lukisan khombouw,” ungkap Pepuho.
Seniman ukiran kulit kayu khombouw lainnya, Corlius Ohee mengatakan, biasanya ada sekitar 12 motif lukisan yang digambar kaum laki-laki, di antaranya motif matahari, ular, cicak dan biawak, kaki burung bangau, kadal, ikan, belut, kelelawar, tupai terbang, dedaunan, bunga hutan, dan melingkar (spiral) serta ikan gergaji yang merupakan ikan endemik di Danau Sentani.
“Pada dasarnya ukiran dan lukisan khombouw punya nilai filosofi yang tinggi bagi orang Sentani. Orangtua kami dulu, pakai khombow sebagai pakaian hanya tiga kali dalam siklus hidup. Mereka pakai bungkus anak bayi yang baru lahir, saat seorang perempuan dewasa menikah, dan saat ada orang meninggal dunia, dipakai sebagai pembungkus jenazah,” katanya.
Menurut Ohee, motif lukisan orang Ohei atau Asei juga ada yang paling berhubungan dengan aspek religi dan mitos orang Sentani di Asei yakni, lukisan ikan ‘Hiu dan Yoniki. Ada juga lukisan lainnya yang berhubungan dengan aspek sosial dan ekonomi orang Asei, seperti ‘Kasindale’, ‘Fouw’, ‘Isomo’, serta ‘Kino’.
Ohee menambahkan, nenek moyang orang Sentani pada zaman dahulu menggunakan kulit kayu khombouw sebagai busana atau pakaian yang disebut ‘malo’ dalam bahasa Sentani. “Sekarang di era modern baru kami semua sudah pakai baju dan tinggalkan pakaian budaya kami,” tuturnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post