Sentani, Jubi – Jemaat GKI Onomi Felavau Sentani di Kabupaten Jayapura, melaksanakan Jalan Salib atau peringatan masa-masa sengsara Tuhan Yesus Kristus hingga proses penyaliban-Nya di Bukit Golgota. Peringatan dilakukan sehari sebelum memasuki Jumat Agung atau Hari Kematian Tuhan Yesus.
Ketua pelayan jemaat GKI Onomi Felavau Sentani, Pdt. Yosep Toisutha menjelaskan, peringatan kematian hingga kebangkitan Tuhan Yesus Kristus bagi seluruh umat Kristen di dunia akan berjalan selama tujuh minggu, dan Jalan Salib ini hanya sebagai peringatan untuk selalu mengenang sengsara-Nya Tuhan Yesus, saat memikul kayu salib menuju Bukit Golgota.
Dikatakan, secara jemaat, menjelang perayaan paskah ada sejumlah kegiatan dan lomba yang juga dilaksanakan secara internal, dan salah satunya adalah Jalan Salib yang dilaksanakan pada Kamis (6/4/2023) sore, dengan mengambil titik start dari Kantor Kalsis GKI Sentani menuju Gereja GKI Onomi Felavau.
“Meski dengan cuaca hujan, tetapi tidak mengurangi makna dari rentetan sejarah penyaliban Tuhan Yesus di Bukit Golgota,” ujar Yosep di Sentani, Jumat (7/4/2023).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Toisutha juga menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh jemaat dan lapisan masyarakat, khususnya pihak keamanan dalam hal ini Satlantas Polres Jayapura, yang telah mengawal semua proses pelaksanaan drama Jalan Salib, yang diperagakan di sepanjang jalan raya dari Kantor Kalsis GKI Sentani menuju ke Gereja GKI Onomi Felavau Sentani.
“Jumat Agung menjadi peringatan juga sejarah bagi seluruh umat Kristen bahwa kematian Tuhan Yesus Kristus sangat berarti bagi kita umat yang berdosa ini,” jelasnya.
Secara terpisah, Spiet Yoku selaku Wakil Pelayan Jemaat GKI Onomi Felavau Sentani mengatakan, Jalan Salib yang dilakukan ini bukan sebatas kegiatan seremonial belaka, tetapi memiliki makna yang penting bagi setiap orang yang percaya dan mengimani lambang salib tersebut.
“Labang salib berdasarkan isi alkitab seperti yang tertulis di dalam kisah para Rasul 4:27, lalu 1 Yohanes 1:5-10, dan 1 Ibrani 2:14, serta 1 Korintus 1: 18 bahwa setiap orang yang percaya kepada kuasa salib itu akan mengalami keselamatan, tetapi setiap orang yang menolak salib akan binasa. Jadi lambang salib itu adalah penebusan Allah, lambang keselamatan, kasih Allah yang besar serta melambangkan kekalahan iblis, dan salib memiliki kuasa yang besar bagi setiap orang yang percaya,” katanya.
Sementara itu, They Bastian Erari, tokoh dalam drama Jalan Salib yang memerankan sebagai Tuhan Yesus menjelaskan bagaimana dirinya bisa menjalankan peran sebagai tokoh bersejarah bagi umat Kristen di seluruh dunia itu.
They, sapaan akrabnya ini mengaku sangat gugup dan merasa tidak mampu melaksanakan peran tersebut, karena sangat berat dan susah untuk menjiwainya.
“Awalnya ditunjuk langsung oleh pelayan jemaat, lalu ada dukungan dari teman-teman pemuda. Latihan kami hanya seminggu dan saya tidak percaya mampu melewati semua dengan baik setiap adegan dan proses pelaksanaan penjemputan secara paksa, hingga penyaliban di kayu salib,” ujarnya.
Drama Jalan Salib, kata dia, mengingatkan generasi muda untuk lebih mendekatkan diri pada kegiatan pelayanan di dalam gereja dan jemaat.
“Anak-anak muda, jangan lupa ke gereja, kegiatan di dalam gereja wajib bagi kita untuk terlibat secara aktif. Kematian Tuhan Yesus Kristus adalah karya terbesar bagi kita untuk selalu mengaku dan mengikuti Dia sebagai juru selamat kita semua,” jelasnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



