Sentani, Jubi – Dua unit mesin dompeng untuk mengisap pasir halus, sering dipakai masyarakat di Kampung Ifar Besar Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura.
Mesin penghisap pasir yang digunakan masyarakat ini, berjarak 50 meter ke arah tengah danau, dengan menggunakan pipa paralon sebagai tempat saluran pasir halus yang diisap dompeng menuju ke truk yang siap di pinggir danau.
Dari pantauan Jubi, ada belasan truk pengangkut pasir telah mengantre untuk mengangkut pasir di tempat tersebut.
Salah satu sopir truk, Marthinus Lorosae, mengatakan untuk jenis pasir plester, dirinya dan rekan-rekan lain biasanya membeli di belakang bandara, sebutan lokasi bagi kalangan para sopir truk. Sementara untuk pasir kasar atau yang digunakan untuk kebutuhan cor lantai atau beton, tempat pengambilannya di bagian Kampung Doyo Lama, Distrik Waibhu.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Lebih dekat, dan jalannya aspal. Ke Doyo Lama jauh dan masuk ke lokasi, jalannya rusak parah,” ujar Thinus sapaan akrabnya saat ditemui di lokasi pengambilan pasir di belakang bandara pinggir ruas jalan alternatif, Senin (6/3/2023).
Dikatakan, sesuai pesanan setiap hari bisa dua hingga rit, satu ritnya 250 ribu rupiah. Pesanan bisa sampai di Kabupaten Keerom, karena hanya di Sentani saja yang ada usaha atau menjual pasir, baik halus maupun pasir kasar.
“Ada 20 hingga 25 menit dalam proses pengisian, sama saja dengan pasir kasar di Doyo juga menggunakan mesin dompleng seperti ini. Kalau alkon yang kecil kayaknya tidak mampu. Apalagi setiap hari bisa belasan atau puluhan truk yang datang,” katanya.
Sopir truk lainnya, Mansur, mengatakan setiap harinya ia hanya mengangkut dua rit pasir, baik kasar maupun halus.
“Sekalipun jalannya beraaspal, tetapi ada tanjakan dan turunan, muatan delapan ton itu sudah sangat berat. Apalagi pasir basah seperti ini,” ungkapnya.
Mansur juga mengaku kaget pada awalnya, sebab Danau Sentani yang penuh dengan air itu sudah mulai dangkal dan tertimbun pasir halus.
Sementara itu, penjual pasir di lokasi tersebut, Pinehas Kubia, mengatakan areal yang tertimbun pasir di dekat rumahnya ini, awalnya dipenuhi air dan ada sejumlah petak tambak ikan yang dilabuhkan.
“Tiga tahun lalu setelah peristiwa banjir bandang Sentani, 16 maret 2019, ada banyak perubahan yang terjadi di sebagian tempat pada pesisir danau. Tumpukan pasir dalam jumlah yang besar ini, setelah berada dekat dengan rumah, kami berusaha agar bagaimana pasir ini bisa hilang atau berpindah ke tempat lain. Akhirnya dengan cara seperti ini, menjual kepada siapa saja yang memerlukannya,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















