Mansinam, Jubi – Ketua Badan Pekerja Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) Di Tanah Papua, Pendeta Andrikus Mofu, M.Th, menyerukan lima (5) poin pertobatan menyeluruh dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke-171 di Pulau Mansinam, Manokwari, Papua Barat pada Kamis (5/2/2026).
Di hadapan ribuan umat Kristiani yang datang dari berbagai pelosok Tanah Papua, Pdt. Mofu menegaskan bahwa tema “Pertobatan Mendatangkan Keselamatan” bukan sekadar seremoni mengenang sejarah, melainkan sebuah panggilan darurat di tengah situasi Papua yang sedang tidak baik-baik saja.
“Kita menyaksikan dan merasakan luka akibat kekerasan dan konflik yang berkepanjangan, tangisan para pengungsi, kecemasan anak-anak yang kehilangan rasa aman, serta jeritan bumi Papua yang terus dieksploitasi,” tegas Pdt. Mofu dalam pidatonya.
Lima pilar pertobatan dalam refleksinya, Pdt. Mofu menjabarkan lima poin utama pertobatan yang harus diimplementasikan oleh manusia Papua dan institusi gereja diantaranya:
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pertobatan Rohaniah: Menjadikan Injil Kristus sebagai landasan mutlak tanpa tawar-menawar. Bertobat secara tulus, bukan sekadar pura-pura baik sesaat, dengan menempatkan Kristus sebagai pusat hidup dan pelayanan gereja. Ia adalah sebuah perubahan cara hidup yang terus berlangsung di dalam takut akan Tuhan.
Pertobatan Sosial: Gereja dipanggil tidak hanya untuk kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. “Tanpa kesalehan sosial, kesalehan pribadi tidak ada makna,” ujarnya. Gereja harus berdiri bersama mereka yang miskin, tersingkir, dan terluka.
Pertobatan Budaya: Menanggalkan egoisme kelompok atau suku dan membangun budaya damai di atas keberagaman.

Pertobatan Politis: Menegaskan fungsi kenabian gereja untuk bersuara melawan ketidakadilan tanpa terjebak politik praktis. Pdt. Mofu mengingatkan agar gereja tidak bersekongkol dengan penguasa lalim. “Gereja harus seperti Yesus, berada di pihak yang kalah, ditindas, dan diperas.”
Pertobatan Ekologis: Gereja harus melawan praktik jual-beli kekayaan alam yang hanya menguntungkan pemilik modal. Gereja wajib berdiri bersama masyarakat adat dalam melawan eksploitasi alam Papua.
Apresiasi dan pesan toleransi senada dengan hal itu, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menyebut momentum 171 tahun Injil di Papua sebagai fondasi utama karakter masyarakat. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan gereja yang selama ini telah nyata dalam pembangunan pendidikan dan kesehatan.
“Toleransi dan kerukunan antarumat beragama adalah kekuatan besar yang harus kita jaga bersama. Keberagaman merupakan anugerah yang perlu dikelola dengan bijaksana,” ujar Mandacan.
Berkah di Pulau Peradaban Perayaan yang berpusat di situs sejarah masuknya Ottow dan Geissler pada 1855 ini juga membawa dampak ekonomi bagi warga lokal. Ratusan perahu motor (taxi laut) tampak sibuk melayani penyeberangan dari pelabuhan Kwawi ke Pulau Mansinam. Pedagang asongan pun memadati area situs, menjajakan dagangan kepada ribuan peziarah yang memadati pulau “suluh terang” tersebut.
Peringatan HUT PI ke-171 ini menjadi pengingat bagi seluruh orang asli Papua (OAP) bahwa keselamatan bukan sekadar urusan akhirat, melainkan perjuangan untuk keadilan dan martabat di atas tanah sendiri. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post