Manokwari, Jubi – Yuniar Kadop (29) terus mengasah otaknya untuk memecahkan soal-soal yang dibagikan guru pada Yayasan Kasih Rumbai Koteka di sebuah balai pertemuan milik RT di Sanggeng Dalam, Kelurahan Sanggeng Manokwari Papua Barat, Sabtu (11/4/2026).
Sekitar tiga mata pelajaran yang diuji kepada peserta yang menggunakan pakaian kameja putih dan celana kain warna hitam, sejak pagi hingga siang hari. Selama proses ujian peserta diawasi oleh guru pengawas yang mengabdi di Yayasan Kasih Rumbai Koteka.
Yuniar merupakan atlet dayung. Dia putus sekolah di bangku SD. Siang itu dia bersama sekitar 28 peserta lainya dari berbagai latar belakang mengikuti ujian paket. Yuniar sedang mengikuti Paket A.
“Kenapa sampai tidak selesai sekolah (putus selolah) ?” tanya Anggota BP3OKP Barat, Irene Manibuy.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Saya putus sekolah di bangku SD, karena saya terus ikut latihan persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) untuk cabang olahraga dayung,” kata Yuniar.
Sebagai Atlet profesional, Yuniar menorehkan berbagai medali di PON sejak 2007, namun pilihan sebagai atlet membuat ia kandas meniti pendidikan formal. Kendati demikian kegiatan belajar mengajar KBBM hingga ujian paket yang diselenggarakan Yayasan Rumbai Koteka memberi harapan dan peluang bagi dia dan para peserta lainnya.
“Tidak boleh minder ya, bisa ikut Paket A naik ke Paket B dan lanjut ke Paket C,” ucap Irene memotivasi sang atlet.
Peserta lainnya, Sri Safitri Saroy (32) seorang ibu rumah tangga dari Kampung Udopi, Papua Barat memiliki tekad kuat untuk mengikuti ujian Paket C. Sejak putus sekolah di bangku SMA, perempuan Papua yang namanya agak kejawaan itu selama ini hanya mengurus rumah tangga. Ia dan suaminya dianugerahi lima anak laki-laki.
“Anak pertama saya sekarang sudah SMA, saya ikut paket ini untuk rencana kuliah di STIE Mah-Eisa (Universitas Caritas Manokwari),” tutur Sri Safitri Saroy.
“Sa rasa bersyukur sekali atas sekolah paket yang dong buka di Manokwari ini, telah memberikan harapan masa depan bagi sa yang sudah putus sekolah selama ini. Saya putus sekolah sejak SMP tapi saya ikut paket lewat yayasan ini sekarang saya mau lanjut ikut paket C untuk dapat ijazah SMA,” katanya.
Sri belajar di bawah Yayasan Kasih Rumbai Koteka sejak menjadi peserta paket B (setara SMP). Di yayasan ini, tak hanya memberikan modul, tetapi peserta diajarkan baca, tulis dan menghitung kemudian masuk tahap ujian.
“Hal yang membuat saya bersemangat adalah dukungan suami untuk saya melanjutkan paket setara SMP dan SMA di yayasan ini,” jelasnya
Yayasan Kasih Rumbai Koteka didirikan atas keresahan angka putus sekolah di kalangan Orang Asli Papua atau OAP, di bawah binaan Ketua Ayub Msiren sejak 2022. Yayasan ini telah melahirkan 2.731 orang yang awalnya tidak memiliki ijazah, kini telah memperoleh ijazah hingga telah mahir baca, hitung dan tulis.
“Ide pendirian Yayasan ini dari keresahan kami dan Bapak Kapolda Papua Barat melihat data angka putus sekolah di kalangan OAP, maka kami mendirikan pada tahun 2022, sejak masih bergabung Papua Barat dan Papua Barat Daya,” ucap Ketua Yayasan, Ayub Msiren.
Gagasan awal pendirian ini untuk menyelamatkan Anak-anak OAP dari putus sekolah akibat ekonomi hingga masalah sosial, namun dalam perjalanannya bukan hanya anak-anak OAP tetapi juga anak-anak dan juga orang tua Nusantara yang tinggal di Papua Barat dan Papua Barat Daya.
“Sejak awal pendirian kami memang tertantang dengan tingginya angka putus sekolah lewat data yang dirilis oleh Pak Doktor Sumule (Akademisi UNIPA) sekitar 69 ribu anak Papua di Papua Barat kala itu putus sekolah. Saat ini kami sudah terbentuk di 8 Kabupaten dan kami sudah memasuki tiga angkatan yang tamat sekolah lewat yayasan ini,” kata Ayub Msiren.
Dia mengurai bahwa pada 2024 sebanyak 796 peserta didik Paket A, B dan Paket C kemudian Tahun 2025 sebanyak 824 dan Tahun 2026 1.031 atau dari angkatan pertama hingga angkatan ketiga sudah mencapai sekitar 2.0731 Orang telah memiliki harapan masa depan untuk memiliki ijazah.
Dukungan BP3OKP dan Polda Papua Barat
Kehadiran Anggota BP3OKP atau Badan Pengarahan percepatan pembangunan Otonomi khusus Papua, merupakan sinyal harapan dalam upaya bersama mengentaskan angka putus sekolah hingga buta tulis dan baca. Lebih dari itu yakni upaya mencari kehidupan yang layak di dunia industri hingga jasa pengamanan bagi lulusan sekolah paket hasil didikan dari Yayasan Kasih Rumbai Koteka maupun sekolah-sekolah nonformal.
Anggota BP3OKP, Irene Manibuy hadir tak hanya memberikan motivasi bagi peserta ujian paket di bangunan balai pertemuan itu. Dia pun menekankan agar setelah mereka yang selesai ujian paket, sejatinya harus ke mana.
“Di dalam BP3OKP kami mengemban visi Orang Papua harus mandiri, sejahtera dan berkeadilan dengan misi Orang Papua yang sehat, Papua Cerdas dan Papua Produktif dan Papua Polhukam, yang sedang diselenggarakan oleh Yayasan Rumbai Koteka adalah bagian dari Papua Cerdas tugas yang sangat mulia. Misi ini tidak hanya pada sekolah Formal tetapi juga yang diselenggarakan oleh Yayasan ini,” kata Irene Manibuy saat ditemui di lokasi Ujian Paket.
Sebagai perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat. lewat BP3OKP yang diketuai oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Irene Manibuy sangat mengapresiasi upaya yang di bangun selama ini oleh pihak Yayasan Kasih Rumbai Koteka.
“Begitu saya jalan mewawancarai (bertanya) para peserta ujian paket saya cukup kaget mendengar serba serbi peserta yang awalnya putus sekolah karena masalah pribadi hingga masalah rumah tangga. Ada yang bilang mereka tidak bisa lanjut kan sekolah karena punya masalah pribadi, maaf kata seperti hamil saat duduk di bangku sekolah, ada yang di SMP ada juga SMA untung ada sekolah paket A B dan C ini sehingga membantu,” kata Irene Manibuy yang juga mantan Wakil Gubernur Papua Barat.
Beberapa peserta yang ikut ujian paket ini dari kalangan perempuan mengalami masalah yang nyaris sama, seperti hamil saat duduk di bangku sekolah. Mendengar ada ruang untuk memperoleh ijazah, mereka justru bersemangat mendaftar kan diri, apalagi belajar di sini hingga tamat tidak dipungut biaya.
Farisa atau biasa dipanggil Nona dari Nabire Papua Tengah, merupakan peserta nonOAP yang tinggal di Manokwari sejak 2017. Dia mengaku sekolah paket ini sangat membantu dirinya. Dia belajar sejak paket B kemudian melanjutkan ke paket C saat ini.
“Program ini sangat membantu sekali mungkin kita mau kuliah atau cari kerja sudah punya ijazah,” ucap Farisa peserta paket C.
Sebagai perwakilan BP3OKP di Papua Barat Irene menyampaikan terima kasih kepada Polda Papua Barat yang menginisiasi pendirian Yayasan Kasih Rumbai Koteka di bawah pengawasan Direktorat Binmas Polda. Selain itu bagi Kementerian Pendidikan yang menyediakan paket bagi orang yang putus sekolah serta terima kasih buat para guru yang rela waktu dan tenaga membangun manusia Papua lewat yayasan ini.
“Tugas kami BP3OKP adalah di mana ada dana Otsus diturunkan di situlah kita mendorong wajib belajar tulis baca hitung bagi kami punya orang-orang Papua, baik yang berusia wajib sekolah maupun yang putus sekolah, dia bisa datang ke sini untuk ikut belajar berjuang untuk semangat hidup, tidak ada perusahaan yang menerima kita yang tidak punya ijazah paling tidak SMA,” ucapnya.
Manibuy secara spesifik menyebut bahwa telah menekankan hal ini pada dinas dan OPD terkait di Pemerintah Papua Barat.
“Kemarin kami undang kepala Dinas pendidikan dan kepala Dinas tenaga kerja agar melihat pendidikan nonformal ini seperti apa, begitu juga Bappeda dan Kesbangpol agar anggaran Otsus dikeluarkan untuk membiayai hal semacam ini. kami juga kan menyurati para bupati sehingga kita menyarankan ada sistem kurikulum bukan hanya dapat ijazah tetapi juga mendapatkan pekerjaan serta utamanya akhlak dan intelektual,” ucapnya

Dia bahkan menyebut bahwa BP3OKP dan pihak Polda Papua Barat serta pihak yayasan kini memikirkan tak hanya peserta dapat Ijazah tetapi bagaimana outputnya.
“Mereka selesai harus kasih mereka kerja, kita latih lagi di dunia kerja kami bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja agar mengundang perusahaan untuk mereka disalurkan. Ada harapan hidup dan itu target utama yang kita ingin capai,” katanya.
Manibuy mengapresiasi langkah Kapolda Papua Barat melalui Direktorat Binmas yang telah bersiap-siap untuk menyediakan tenaga melatih para lulusan Sekolah Paket agar mengikuti pelatihan Satpam.
“Saya mengapresiasi langkah Polda Papua Barat yang bersedia melatih mereka yang mau ikut pelatihan Satpam, ini langka yang positif,” ucap Irene Manibuy
Direktur Binmas Polda Papua Barat Kombes pol Hari Sembiring mengatakan, program pendidikan paket A,B dan C sejak 2022.
“Kami hadir di sini bertujuan untuk menurunkan tingkat kriminalitas dan juga menurunkan angka pengangguran lewat pelatihan Satpam tersertifikasi ini tidak hanya bagi lulusan Yayasan Rumbai Kasih Koteka tetapi juga sekolah dan yayasan lain,” kata Dirbinmas Polda Papua Barat Kombes Pol Hari Sembiring.
Sebagai pembina Yayasan Kasih Rumbai Koteka berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan BP3OKP dan juga pihak Pemerintah Provinsi agar mendukung proses belajar mengajar.
“Kami akan mendukung proses belajar mengajar dengan menerjunkan personel kami. Sebelumnya memang ada personel yang mengajar namun sempat terhenti,” ujarnya.
Jhon Dimara selaku Pembina Yayasan Kasih Rumbai Koteka berharap Pemerintah Papua Barat dan stakeholder lain memperhatikan Yayasan yang memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan di Papua Barat.
“Kehadiran Yayasan ini membawa dampak positif yang luar biasa, hari ini kami sudah berhasil mengeluarkan kelas A, B dan C di mana ini sudah angkatan ketiga, maka saya selaku pembina mendorong pemerintah Daerah agar membantu dalam bentuk anggaran,” tuturnya
Menurut Ketua Yayasan Kasih Rumbai Koteka sejak didirikan, baru satu kali mendapat dukungan anggaran dari pemerintah Papua Barat yakni di Tahun 2023. Yayasan ini telah memperoleh Nomor pokok sekolah Nasional NPSN.
Kendala yang dihadapi yakni keterbatasan biaya yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan. Adanya kendala itu pihak yayasan tidak bisa menjangkau kawasan yang ada di pedesaan dan pedalaman.
“Bantuan dari pemerintah Papua Barat lewat Dinas pendidikan hanya di awal tahun 2023 saat itu sekitar Rp 2 Miliar untuk biaya gedung belanja mebeler dan fasilitas laptop bagi tenaga pendidik untuk menginput Dapodik, sejak itu kami sudah dapat lagi hibah,” kata Ayub Msiren
Dia berharap dukungan pemerintah agar ke depan pihaknya menjangkau wilayah yang belum terjangkau terutama mereka yang juga merupakan orang yang putus sekolah. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua





















Discussion about this post