Sorong, Jubi – Greenpeace Indonesia menggelar Forest Defender Camp 2025 di Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Selasa (23/9/2025). Isu lingkungan dan masyarakat adat menjadi topik utama yang dibahas.
Greenpeace Indonesia berkolaborasi dengan sejumlah Anak Muda Adat Knasaimos atau AMAK Sadir Wet Yifi dan bentara Papua, untuk membahas persoalan isu lingkungan hidup dan apa yang dialami masyarakat adat di komunitas masing-masing. Sebab telah terjadi perampasan tanah dan hutan adat di Tanah Papua.
Bahkan beroperasi dalam kerangka legal negara atas nama proyek strategis nasional, seperti PSN yang terjadi di Merauke Papua Selatan.
Forest Defender Camp pada 2025 pun menjadi tolok ukur, untuk mempertahankan tanah dan hutan adat oleh AMAK.
Kepala Kampanye Hutan Global Greenpeace Indonesia, Kiki Taufik mengatakan, kegiatan ini diharapkan bisa memberikan berbagai informasi kepada peserta tentang isu-isu lingkungan.
“Karena tujuan dari kegiatan Forest Defender Camp 2025 kali ini untuk bagimana anak dari tujuh wilayah adat di Papua. Suara anak-anak muda terus menyuarakan di tingkat global bahwa hutan ini harus dijaga,” kata Kiki Taufik, Selasa (23/9/2025).
Ratusan pemuda itu diharapkan terus menyuarakan tentang hutan adat di Tanah Papua yang dibuka untuk industri ekstraktif, dan menyuarakan bahwa masyarakat adat adalah tuan rumah di atas tanahnya sendiri, dan diharapkan mampu mengelola sumber daya alamnya, tidak menjadi penonton.
Sementara itu, Bupati Sorong Selatan, Papua Barat Daya, Petronela Krenak mengatakan masyarakat adat harus menjaga tanahnya dengan baik, dan diharapkan tidak menjual tanah, akan tetapi bagimana agar bisa melestarikan tanah.
“Anak-anak muda Knasaimos dan seluruh tubuh wilayah adat di Papua, mari kita sama-sama berkolaborasi melestarikan tanah. Kegiatan ini sangat baik, dan untuk itu semu anak muda mengikuti materinya dengan baik,” kata Petronela Krenak.
Menurutnya, pemuda adat yang terlibat merupakan bagian dari solusi penting menghadapi ancaman krisis iklim, dengan hidup harmoni bersama alam yang menjadi tradisi turun temurun mereka. (*)




Discussion about this post