Manokwari, Jubi – Nelayan di Kampung Arguni Kabupaten Fakfak, Papua Barat terganggu dengan aktivitas kapal Seismik milik perusahaan gas. Sempat terjadi adu mulut, setelah awak kapal Seismik meminta nelayan yang sedang mencari ikan untuk menyingkir. Insiden itu direkam video oleh nelayan pada Sabtu (7/2/2026).
Nelayan yang selama ini mencari nafkah di perairan itu diminta menyingkir lebih ke selatan oleh kapal sesmik yang sedang melakukan eksplorasi gas di wilayah laut itu.
Kapal seismik adalah kapal survei yang digunakan untuk memetakan struktur geologi bawah laut dengan memanfaatkan gelombang seismik sebagai bagian dari tahap awal eksplorasi minyak dan gas.
Hal itu sontak menimbulkan reaksi dari nelayan yang keseharian mencari nafkah selama bertahun-tahun di kawasan perairan itu, hingga respon dari Anggota DPRD Papua Barat.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Sekretaris Fraksi Golkar di DPRD Papua Barat,Amin Ngabalin mengatakan dia sudah mendapat laporan bahwa nelayan di perairan Arguni kerap terganggu dengan aktivitas kapal milik perusahaan Gas.
“Kami ingatkan bahwa kawasan perairan Arguni itu sudah bertahun-tahun menjadi tempat pencaharian warga lokal, jangan mengusik mereka,” kata Anggota DPRD Papua Barat Amin Ngabalin.
Ngabalin mengatakan, pembicaraan investasi gas di kawasan itu belum menyentuh akar kepentingan warga lokal, pemilik kawasan eksplorasi, oleh sebab itu dia meminta agar analisis dampak lingkungan atau Amdal harus direvisi.
“Sebagai anak adat dan wakil rakyat dari Fakfak saya minta Amdal harus direvisi,” tegasnya.
Dalam sebuah video yang beredar, sebuah kapal tanker melintas di kawasan perairan itu sembari beberapa awak menggunakan megaphone seakan memeringati nelayan di kawasan itu agar menyingkir dan mengarah ke selatan karena ada penarikan kabel oleh kapal tersebut.
“Pak itu kapal tarik kabel pak, bahaya. Selamat siang, kalau bisa nanti minta tolong (ke) arah selatan, minta tolong,” ucap salah satu awal kapal kepada Nelayan Lampung Arguni.
Kapal seismik menarik kabel streamer seismik yang berfungsi merekam pantulan gelombang suara dari lapisan bawah laut.
Permintaan itu kemudian dijawab oleh nelayan tersebut dengan ucapan, “oke tapi kamu biasa mengganggu kita punya aktivitas mancing, kita punya tempat mancing di sini,” ucap nelayan yang nampak mengambil video
Kabel streamer yang ditarik kapal seismik tidak dialiri arus listrik berbahaya, melainkan membawa sinyal data dari sensor perekam gelombang suara.
Aktivitas nelayan di sekitar kapal seismik berpotensi mengganggu proses eksplorasi karena risiko tersangkutnya kabel survei, sementara operasi seismik sendiri kerap membatasi ruang tangkap nelayan di wilayah tersebut.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua
















Discussion about this post