Jayapura, Jubi- Tepatnya Maret 1973, Presiden RI Jenderal Besar TNI (Purn) Soeharto didampingi Gubernur Provinsi Irian Jaya Frans Kaisiepo dan Direktur Freeport Minerals meresmikan tambang Ertsberg untuk pertama kalinya. Gunung ini dikeruk konsentrat tembaga untuk diekspor dari Nemangkawi ke luar negeri.
Bahan tambang berupa konsentrat itu, dialirkan dari Nemangkawi melalui pipa ke pelabuhan Port Side dan diangkut dengan kapal ke negara tujuan eksport konsentrat tembaga. Orang Amungme sendiri menyebut nama Gunung Ertsberg dengan nama Yelsegel –Ongopsegel karena gunung ini mengkilap dan mengeluarkan cahaya mengkilat ibarat burung Cenderawasih Raja.
“ Burung burung gunung masih ada di Nemangkawi sampai sekarang karena bagi orang Amungme,’ Yelsegel –Ongopsegel ‘ atau Ertsberg adalah tempat suci dan sakral bagi orang Amungme sejak dulu sampai sekarang, pasalnya arwah orang mati dari nenek moyang kami akan singgah di situ sebelum menuju surga abadi,” kata John Magal Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme(Lemasa) kepada Jubi di Timika, pekan lalu.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Dia menambahkan, itu sebabnya bagi orang Amungme wilayah Nemangkawi merupakan tempat suci dan sakral bagi mereka. Menurut John Magal, saat bor pertama menembus gunung suci itu, orang orang tua menceritakan bahwa ada cahaya besar yang keluar dari Ertsberg menuju arah Timur Nemangkawi. “Mereka (orang tua) menceritakan bahwa roh nenek moyang sudah pergi meninggalkan gunung suci itu,”katanya.
“Gunung suci itu pada akhir 1972, mulai dibangun semua jalan rampung, kereta kabel gantung berjalan dengan lancar dan jalur pipa konsentrat terpasang dengan baik. Pada Desember 1972,10.000 ton bijih Ertsberg yang pertama berhasil dikapalkan menuju Jepang.Tambang berjalan dengan lancar dan membanggakan,”tulis George A Mealey dalam bukunya berjudul Grasberg : Mining the richest and most remote deposit of copper and gold in te world, in the mountains of Irian Jaya, Indonesia.
Lebih lanjut Mealey yang juga Manager Pengembangan Tambang Freeport itu menulis, tiga bulan kemudian Presiden RI Soeharto datang, dan dengan kendaraan jeep melewati jalan yang dapat dibanggakan beliau melaju ke atas menuju “kota tembaga” yang beliau beri nama Tembagapura serta meresmikan tambang. “ Tanpa diduga semula beliau juga mengganti nama Provinsi Irian Barat menjadi Provinsi Irian Jaya,”tulis George Mealey dalam bukunya pada halaman 106 dari buku setebal 384 itu.
Dia mengakui meskipun besar di Alaska Amerika Serikat, tetapi pegunungan di Irian Jaya adalah pegunungan yang paling curam yang pernah dilihatnya dan lebih hebatnya lagi di mana mana terdapat mineralisasi tembaga.
Tanpa analisa dampak lingkungan di Ertsberg, karena saat itu memang belum ada kebijakan dan aturan tentang Amdal. Amdal PT Freeport sendiri baru dilakukan pada 1997 setelah tambang Erstberg berakhir di 1980 an dan ditutup pada 1988. Praktis tambang dari Erstberg berlangsung sejak Desember 1972 sampai dengan 1988 hingga menipis konsentrat tembaga, lalu akhirnya ditutup.
Selanjutnya tambang kedua di Gunung Grasberg atau orang Amungme menyebutnya Tenogoma atau gunung berumput pada 1988 mulai mengeksport konsentrat dan sejak itu mulai dilakukan Amdal pertama 1997.
Grasberg 1988 hingga tambang bawah tanah
Sejak tambang Ertsberg mulai menipis sejak 1980 an hingga ditutup 1988, Freeport mulai menggali gunung kedua, Grasberg alias Tenogoma untuk melakukan penambangan terbuka, open pit mining.
“Saya mulai menggambarkan Grasberg kepada penasehat keuangan sebagai “endapan emas tembaga porfiri” yakni suatu endapan di mana dapat diharapkan produksi tembaga, emas dan mungkin juga perak. Saya memperhatikan bahwa struktur geologi Grasberg mirip dengan struktur di Ok Tedi, yakni suatu endapan tembaga emas porfiri yang sedang ditambang di Papua New Guinea (PNG). Tim Freeport juga berkunjung ke sana. Ok Tedi mendapat publikasi luas saat itu karena terdapat endapan permukaan yang kaya akan emas (gold capping deposit),” demikian tulis George A Mealey dalam bukunya itu.
Dengan demikian lanjut George A Mealey Grasberg disebut sebagai endapan “endapan porfiri yang potensial.” Dikatakan bahwa Grasberg merupakan cadangan emas terbesar di dunia dan cadangan tembaga ketiga terbesar di dunia. “Grasberg merupakan penemuan cadangan mineral terpenting dalam abad ini,”kata George A Mealey.
Kini program pemerintah Indonesia dengan hilirisasi dan telah membangun Pabrik Smelter di Gresik dan praktis semua mineral tambang dari Pegunungan Tengah Papua dikeruk di tambang bawah tanah dan diangkut dengan kapal menuju Surabaya dan Gresik.
Antara menyebutkan, Smelter Gresik Tahap II tetap dikejar untuk rampung pada Mei 2024. Beroperasinya Smelter Gresik PTFI akan meningkatkan upaya hilirisasi Indonesia. Alhasil, ada nilai tambah yang bisa dikantongi negara dan segala aspek yang terlibat di dalamnya.
Kini, setelah tambang di Gunung Ertsberg ditutup yang tersisa adalah gunung yang berlubang diketinggian ribuan meter. Produksi Ertsberg menyusut sepanjang 1980 an dan ditutup pada 1988. “Bekas penggalian sekarang merupakan danau persediaan air untuk pengolahan bijih. ” Selamat tinggal gunung suci, kini berlubang dan disebut Danau Wilson, nama ini diberikan untuk mengenang pemimpin ekspedisi Freeport 1960, Forbes Wilson.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post