Jayapura, Jubi- Hampir selama enam bulan perahu Wairon berangkat dari Biak Numfor, Papua dan menyinggahi beberapa kota sebut seperti Manokwari yang dalam bahasa Byak disebut Mnukwar; Kampung Tua atau Kampung lama.
Perahu Wairon juga sempat singgah di Sorong, yang dalam bahasa Byak dinamakan Soren berarti Teluk.
Itulah nama kota yang sebenarnya dinamakan oleh para pelaut suku Byak, perdagangan antar pulau pada masa lalu. Kini perahu Wairon singgah di Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya.
“Wairon telah berlabuh di pantai Yenban Yenbekaki Waigeo Timur Raja Ampat, 13 Desember 2024,”demikian dikutip Jubi dari akuntiktok @TimWaironGaharu2024, Selasa (17/12/2024).
Dijelaskan, kedua budayaan Suku Byak ini telah mewujudkan warisan budaya Byak bertemakan “Wairon melawan punah.”

Dennis Koibur pernah pula melakukan pelayaran dengan perahu Wairon dari Biak Numfor menyinggahi Pulau Komamba Sarmi menuju Kota Jayapura berlanjut ke Vanimo menyinggahi “Karkar Island atau dalam bahasa Byak disebut Mios Karkar” di Provinsi Morobe Papua Nugini.
Pelayaran Dennis Koibur dan kawan kawan berakhir di Milne Bay Province PNG untuk mengikuti Festival Perahu Tradisional Melanesia di Milne Bay

Tepat, Minggu 21 Oktober 2018, perahu Wairon dan rombongan dibawah pimpinan Denis Koibur plus tujuh pendayung termasuk Mananwir Apolos Sroyer dan delapan awak lainnya tiba di Kampung Yako, Provinsi Sandaun, PNG. Setiba di sana mereka disambut dengan upacara adat dan juga perlengkapan bahan makanan guna melanjutkan perjalanan ke Wewak dan Provinsi Morobe.
Mitos perahu suku Byak
Dosen sejarah dari Universitas Cenderawasih, Alberth Rumbekwan,MSi mengatakan terdapat jenis- jenis perahu asli dari Suku Byak antara lain, pertama adalah perahu Mansusu, kedua perahu Waisik/Wairon dan ketiga perahu Karures.
Adapun perahu-perahu itu menurut Rumbekwan yang mengutip pendapat antropolog Dr JR Mansoben MA, dikisahkan dalam mitos Manarmakeri suku Byak, bahwa Mansar Manarmaker mendapat ilham atau wahyu dari Sampari/Kumesri (Bintang Pagi/Kejora).
Dia diberikan sejenis daun kayu yang menceritakan proses pembuatan perahu atau “way” oleh Manseren Manggundi/Kayan Byak (nama lain dari Manarmakeri dalam Mitos Koreri)
ilham dari Sampari/Kumesri, hendak melakukan pelayaran dari pulau Wundi, Kepulauan Padaido Biak.
Pada waktu itu, Manseren Manggundi dan anaknya Konori atau Manarbew hendak mencari sanak kerabatnya. Manarmakeri menggambar perahu dengan sepotong karu pemberian Koemeseri (Bintang Pagi/Kejora) di atas pasir. Adapun jenis jenis perahu yang digambar itu adalah, pertama adalah perahu “Mansusu” dan kemudian ia menendangnya (menyepak) ke laut namun tidak berhasil.
Digambar lagi perahu kedua yaitu Waisik/Wairon namun gagal pula dan kemudian ia menggambar lagi perahu ketiga yaitu perahu “Karures “ lalu mendorong gambar pasir itu ke laut, berlabuhlah sebuah perahu dengan layar lengkap dengan anak buah di atas perahu, demikian mitos Manarmakeri yang dikutip dari Dr JR Mansoben, MA dalam bukunya “Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya,” 1987.
Selanjutnya disebutkan Mansoben bahwa ada tiga jenis perahu yang ada dalam mite Koreri itu, yakni; Wai Mansusu, Wairon dan Wai Karures itulah yang digunakan oleh Orang Biak dalam melakukan pelayaran dan perdagangan di pesisir Teluk Cenderawasih selama berabad-abad sebelum masuknya teknologi kapal uap, dan perahu motor tempel.
Lebih lanjut menurut Mansoben dalam melakukan perdagangan zaman dulu, orang Byak sudah punya rekan dagang yang disebut Manibob dalam pelayaran perdagangan dengan perahu Wairon ke pelosok wilayah Papua.
Orang orang suku Byak dari Kampung Samber dan juga dari Kampung Sowek pernah berdagang menjual parang (menempa besi) sampai ke Vanimo PNG setelah menyinggahi Pulau Komamba di Sarmi dan juga Abe Pantai di Kota Jayapura. (*)




Discussion about this post