Jayapura, Jubi – Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua, melatih 12 mama-mama pengrajin kulit kayu di Kampung Asei, Kabupaten Jayapura, Papua, mengikuti pelatihan pembuatan boneka kulit kayu.
Dikutip dari siaran pers kepada Jubi di Jayapura, Papua, Senin (18/11/2024), kegiatan yang dilakukan para dosen dan mahasiswa ISBI Tanah Papua itu, merupakan hasil dari Program Diseminasi Inovasi Seni (PDIS), yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
“PDIS adalah kolaborasi pengabdian seni, sebagai bentuk tridarma perguruan tinggi antara kampus ISBI Tanah Papua dengan Universitas Cenderawasih (Uncen),” kata ketua pelaksana kegiatan, Bayu Aji Suseno.
Bayu mengatakan, kegiatan bertajuk “Penerapan Nekay (boneka kulit kayu) Sebagai Konsep Eduecotourism Untuk Mendukung Program Desa Ramah Perempuan dan Perlindungan Anak di Kampung Asei Besar Kabupaten Jayapura”, sudah dilakukan sebanyak enam kali. Terhitung sejak 22 Agustus hingga 5 September 2024.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Bayu mengatakan, dalam pelatihan ini menggunakan empat tahapan, antara lain, pertama, sosialisasi model pertunjukan nekay Asey;
Tahap kedua adalah tahap pelatihan pembuatan sketsa, pola dasar, teknik perakitan, finishing boneka dan pelatihan pembuatan produk merchandise pertunjukan nekay Asei dengan format gift set hampers souvenir;
Sedangkan tahap ketiga adalah pendampingan model pertunjukan dengan pelatihan olah vokal dan musik iringan pertunjukan teater nekay, dan teknik manipulasi boneka dengan naskah drama monolog cerita “Sahabat Satwa dan Mama Asei”.
Lalu tahapan terakhir adalah pengembangan pentas seni, dengan model pertunjukan teatrikal nekay Asei, melalui strategi pemasaran–mulai dari proses pembuatan, media promosi, hingga siap untuk dinikmati oleh penonton.
“(Saya) Tidak menyangka bahwa material kulit kayu, yang selama ini hanya diwujudkan dalam bentuk produk fashion, seperti noken, dompet dan lain-lain, dapat dibuat menjadi bentuk teatrikal boneka untuk edukasi anak melalui cerita dan lagu bertemakan Papua,” kata Pimpinan Sanggar Kulit Kayu dan Noken Khalkote Permai, Martha Ohee.

Hasil kegiatan dari pengabdian ini juga telah menghasilkan tiga buah lagu anak, untuk pertunjukan teatrikal nekay Asei berjudul “Bertemu di Tepi Danau Sentani” dan “Terima Kasih Mama Asei” serta “Kawan Marilah Kita Pulang”.
Ketiga lagu tersebut telah mendapatkan hak cipta yang didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM.
Hasil pelatihan boneka kulit kayu yang diproduksi oleh mama-mama Asei, diharapkan dapat dipertunjukkan Festival Danau Sentani (FDS). Selain itu, diharapkan menjadi alat peraga pendidikan, untuk membentuk karakter anak, dalam meningkatkan kesadaran lingkungan dalam konservasi warisan budaya takbenda (kulit kayu khombouw).
Serta keterlibatan perempuan (pengrajin dan pelaku usaha) dalam pembangunan ekonomi kreatif di Kampung Wisata Asei, yang bersinergi dengan program Desa Ramah Perempuan dan Perlindungan Anak atau DRPPA. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

















Discussion about this post