Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menekankan pentingnya peran Kementerian Agama dalam mengawal perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) agar menjadi alat pemersatu, bukan sumber disinformasi dan perpecahan.
Hal tersebut disampaikan Fakhiri saat memimpin jalannya upacara memperingati Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju” di halaman Kantor Gubernur Jalan Soa Siu Dok 2 Jayapura, Koslta Jayapura, Sabtu (3/1/2026).
Menurut Fakhiri, tantangan zaman yang kian kompleks menuntut negara dan lembaga keagamaan tidak sekadar adaptif, tetapi juga berdaulat secara nilai dalam pemanfaatan teknologi.
“Kita hidup di era perubahan cepat dan penuh ketidakpastian. AI tidak boleh hampa nilai. Ia harus diisi dengan konten keagamaan yang moderat, sejuk, dan mencerahkan agar menjadi penguat kerukunan,” tegasnya.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Fakhiri menilai, tema tahun ini menegaskan makna kerukunan sebagai energi kebangsaan. Kerukunan, bukan hanya ketiadaan konflik, melainkan sinergi produktif yang merajut perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial menjadi kekuatan kolaboratif untuk memajukan bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran Kementerian Agama sejak awal merupakan kebutuhan nyata bangsa yang majemuk.
“Republik Indonesia, dibangun oleh sinergi seluruh komponen bangsa, sehingga peran Kementerian Agama sangat krusial sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan,” tegasnya.
Sepanjang 2025, Fakhiri menyoroti upaya transformasi Kementerian Agama melalui penguatan layanan berbasis digital agar lebih dekat, transparan, dan cepat. Selain itu, penguatan ekonomi umat lewat pesantren serta pengelolaan zakat, wakaf, dan berbagai dana sosial keagamaan dinilai mampu menggerakkan kemandirian masyarakat.
Di bidang pendidikan, ia mengapresiasi peningkatan mutu madrasah dan perguruan tinggi keagamaan yang kini sejajar dengan institusi pendidikan lainnya. “Program Desa Sadar Kerukunan juga disebut sebagai langkah konkret memindahkan wacana toleransi dari ruang seminar ke praktik nyata di tengah masyarakat,” tambahnya.
Oleh karena itu, dalam menghadapi era AI dan dinamika global, Fakhiri mendorong aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lincah, adaptif, dan responsif, tanpa meninggalkan empati dan integritas.
“Dengan pengabdian yang berdampak dan penguasaan teknologi yang beretika, kita optimistis Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang damai, maju, dan bermartabat,” katanya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post