Sentani, Jubi – Tanggal 24 Februari 2025 nanti akan menjadi tonggak sejarah di Tanah Papua, karena Gerson Andrew Warnares akan menjadi Orang Asli Papua pertama yang meraih gelar Spesialis Onkologi Radiasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan keahliannya itu, Gerson Andrew Warnares akan melayani para penderita kanker dengan mengoperasikan instalasi onkologi radiasi pertama di Papua.
Kakak Gerson Andrew Warnares, Mardiana Warnares sangat bangga dengan gelar yang diraih adiknya. Setelah dikukuhkan, Gerson akan menyandang gelar lengkap dr Gerson Andrew Warnares, MMed MPhil (USYD) Sp Onk Rad.
Mardiana menjelaskan Gerson Andrew Warnares merupakan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen) Jayapura, Papua. Gerson pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Sarjana Kedokteran dan Wakil Dekan I Bidang Akademik di FK Uncen. Sejak 2021, ia mengikuti Pendidikan Spesialis Onkologi Radiasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI).
Saat diwawancarai melalui panggilan telepon pada Kamis (20/2/2025), Gerson Andrew Warnares menuturkan alasan dirinya memilih mengambil Program Pendidikan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi. Sejak lama ia prihatin terhadap penderita kanker di Tanah Papua yang tidak terselamatkan, karena tidak ada fasilitas onkologi radiasi di Tanah Papua.
Pada 2018, Gery, panggilan akrab Gerson Andrew Warnares, pernah berdiskusi dengan salah satu koleganya di Rumah Sakit Umum Daerah Jayapura, dr Silwanus Sumule mengenai sulitnya penanganan penderita kanker di Tanah Papua. Ia masih mengingat diskusi panjang dan menarik itu membahas pelayanan kesehatan di rumah sakit, termasuk dalam menangani pasien kanker.
“Salah satu [keahlian] yang belum ada dan sangat dibutuhkan [di Papua] adalah Onkologi Radiasi. Sebenarnya kiami punya dokter [spesialis] Bedah Onkologi dan Onkologi Kebidanan, [dokter spesialis itu] sudah ada di RSUD Jayapura. Tapi yang belum ada itu adalah [dokter spesialis] penyakit dalam Onkologi dan Onkologi Radiasi,” kata Gery kepada Jubi.
Dokter Gery membeberkan bahwa pada 2018 ada wacana pendirian instalasi onkologi radiasi di RSUD Jayapura. Akan tetapi, pembangunan instalasi onkologi radiasi sangatlah mahal, dan sulit diwujudkan. Padahal onkologi radiasi adalah salah satu dari tiga pilar terapi kanker—yaitu operasi, onkologi medik berupa pemberian kemoterapi, dan onkologi radiasi berupa penyinaran radiasi.
“Nah, dari tiga pilar terapi ini sebenarnya [terapi] onkologi radiasi menjadi kebutuhan yang cukup besar. Lebih dari 60-70 persen pasien kanker itu harus [menjalani terapi] radiasi” kata dokter Gery.
Menurutnya, terapi onkologi radiasi bisa membuka peluang memperpanjang usia pasien dan mencegah berulangnya kanker pascaoperasi. Itu mengapa sebagian besar pasien kanker yang sudah menjalani operasi harus menjalani terapi onkologi radiasi. Akan tetapi, sebelumnya tidak ada instalasi onkologi radiasi dan dokter spesialis Onkologi Radiasi, sehingga terapi itu tidak dilakukan.
“Jadi di Jayapura sayang sekali, karena kami tidak bisa banyak menolong. Begitu banyak pasien kanker payudara, kanker serviks, dan sebagainya. Mereka itu meninggal karena tidak ada terapi lain yang bisa dipilih. Jika ada [layanan terapi] Onkologi Radiasi [di Jayapura], maka kami bisa menolong [dan membuka peluang] memperpanjang usia [pasien hingga] 10 – 20 tahun,” ujarnya.
Dokter Gery menyatakan kebutuhan instalasi onkologi radiasi dan dokter spesialis onkologi radiasi semakin tinggi, karena semakin banyak orang yang menderita kanker pada usia produktif, berusia antara 30 – 40 tahun. “Kami bersyukur dengan sekarang adanya [instalasi] radiasi ini, kami bisa membantu lebih banyak pasien,” ujarnya.
Anak Papua juga bisa
Gerson Andrew Warnares lahir di Subang Jawa Barat. Ia bersekolah di Kota Jayapura sejak pendidikan dasar di SD Kristus Raja hingga lulus dari SMA Negeri 5 Jayapura pada 2004. Saat duduk di bangku SD, prestasi Gery kecil awalnya tidak terlalu menonjol. Akan tetapi, saat bersekolah di SMA Negeri 5 Jayapura, Gery meraih sejumlah prestasi dalam kompetisi Bahasa Inggris, seperti Juara I English Contest FKIP UNCEN (2003), beberapa juara loba debat Bahasa Inggris tingkat SMA, dan juara pidato Bahasa Inggris (2003-2004).
Gery kemudian berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, dan lulus sebagai dokter pada 2010.Setelah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (FK Uncen) pada 2014, dokter Gery bertekad untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Pada 2017, dia menyabet dua gelar Strata 2 malalui program double degree, yaitu Master of Medicine dan Master of Philosophy dari University of Sydney di Australia. Dokter Gery menempuh pendidikan itu dalam waktu hanya 2 tahun saja. Setelah kembali dari Australia pada 2017, dia melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen dan pimpinan di FK Uncen.
Pada 2020, dokter Gery semakin berminat mendalami penyakit kanker. Minat itu juga didorong janjinya kepada almarhumah ibundanya yang meninggal pada 2019, bahwa Gery harus menjadi dokter spesialis. Ia akhirnya memutuskan untuk mendaftar Program Pendidikan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, meskipun kala itu belum ada instalasi onkologi radiasi di Tanah Papua.
Gery harus menyingkirkan puluhan kandidat lain dari seluruh Indonesia. Ia akhirnya mulai menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis itu pada 2021.
“Karena saya masih menjabat di FK Uncen jadi waktu itu memang belum bisa ikut program itu. Jadi saya tidak ikut jalur afirmasi, tapi saya langsung daftar sendiri di UI, bertarung dengan puluhan calon dari provinsi lain tanpa membawa surat rekomendasi dari Pak Gubernur. [Saya] hanya bawa rekomendasi dari rumah sakit saja. Tapi puji Tuhan, akhirnya saya bisa diterima,” ujarnya.
Setelah diterima di FK UI, barulah dokter Gery mengajukan diri untuk dapat beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua. Namun, bukan berarti Program Pendidikan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi itu ia jalani dengan mudah. Ia harus mengajukan pinjaman ke bank dan bantuan keluarga, karena beasiswa dari Pemerintah Provinsi Papua tersendat-sendat. Ia memberanikan diri meminjam uang ke bank, karena yakin dirinya tengah berjuang untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu melayani warga di Papua.
“Puji Tuhan di saya punya departemen tidak terlalu berat, tidak ada bullying dan tidak ada hal-hal yang berat begitu. Puji Tuhan saya kuliah dapat pendidikan yang suportif sekali, sampai menyelesaikan [pendidikan] dan mendapatkan gelar Spesialis Onkologi Radiasi,” ujarnya.
Hadiah Kemenkes
Ketika dokter Gery memulai mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di FK UI pada 2021, belum ada instalasi onkologi radiasi di RSUD Jayapura. Ia bahkan sempat memikirkan kemungkinan bahwa setelah lulus dirinya tidak bisa langsung kembali ke Jayapura, karena tidak bisa menggunakan keahliannya.
Tapi Gery merasa bersyukur pada 2022 ia ketemu Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Gery menjelaskan bahwa rumah sakit di Papua sangat membutuhkan Instalasi onkologi radiasi, dan dirinya tengah menempuh program pendidikan spesialis onkologi radiasi. Gery pun masih mengingat percakapannya dengan Menteri Kesehatan.
“’Pak saya dari Jayapura, putra daerah, dan saya sudah masuk [program pendidikan dokter spesialis] onkologi radiasi. Tapi kami tidak punya instalasi [onkologi radiasi di Papua]’. Akhirnya Pak Menteri Kesehatan bilang, ‘kamu kembali [ke Papua] tahun berapa?’ Saya bilang ‘nanti kalau lulus tahun 2025 baru kembali [ke Papua]’. Pak Menteri Kesehatan sampaikan, ‘oke, sebelum kamu kembali, nanti kami kasih satu instalasi onkologi radiasi di Jayapura’. Dan [instalasi] itu sekarang berdiri di RSUD Jayapura, itu adalah hadiah dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya.
Dokter Gery sangat bahagia dan bangga dengan pencapaianya menjadi Dokter Spesialis Onkologi Radiasi. “Saya punya harapan ketika kembali nanti, saya mulai [bekerja] dengan [mengurus] izin operasional dan instalasi. Kalau [izinnya] sudah keluar, saya berharap pelayanan onkologi radiasi mulai mendukung pelayanan penderita kanker di Papua,” ujarnya.
Dokter Gery berharap Gubernur Papua yang baru nantinya memberikan perhatian serius terhadap pelayanan bidang kesehatan, termasuk kesejahteraan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya. Ia juga berharap pemerintah memprioritaskan putra daerah untuk menjalani pendidikan kedokteran atau keperawatan, mengingat sampai hari ini sulit menarik minat dokter spesialis untuk mau bekerja di Papua.
Tantangan yang lebih sulit adalah mencari dokter spesialis Onkologi Radiasi lain yang bekerja bersama dokter Gery di RSUD Jayapura.
“Sedikit sekali [dokter] spesialis Onkologi Radiasi, dan banyak tempat [lain] yang mencari spesialisasi ini. Itu jadi tantangan juga ke depan. Jadi, [kondisi itu] harus menjadi perhatian pemerintah juga ke depan, untuk spesialis dokter,” ujarnya. (*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!