Jayapura, Jubi – Selama bertahun-tahun, air bersih berarti perjalanan panjang dan melelahkan mendaki pegunungan curam bagi Doris Pangara dan komunitasnya di Takee, Distrik Kieta, Bougainville Tengah.
“Sebelum krisis Bougainville, komunitas Takee memiliki air yang layak karena tidak ada permukiman di pegunungan dan air bersih mengalir dengan baik. Saat krisis, kami naik ke gunung dan tidak memiliki toilet yang layak, sehingga kami menggunakan sungai yang mengalir dan akhirnya tercemar. Setelah krisis, kami turun kembali dan sulit meninggalkan tempat itu karena air sudah terkontaminasi. Bagi perempuan, sangat sulit memasak dengan air bersih, dan para pelajar tidak bisa datang ke sekolah tepat waktu karena harus mencari air bersih. Kami harus berjalan jauh untuk mengambil air dan mencuci pakaian,” ujar Doris Pangara, anggota komunitas Takee, Bougainville.
Takee dihuni lebih dari 500 orang, dan kesulitan air juga berdampak pada pendidikan. Di Sekolah Dasar Takee, 68 siswa mengikuti kegiatan belajar, dengan sebagian harus berjalan hingga satu jam setiap hari dari dusun sekitar dan wilayah pesisir.
Administrator sekolah, Vincent Laisias, mengatakan, “Pada awalnya sangat menantang. Saya melihat langsung kesulitan yang dialami masyarakat dan para siswa yang mencari air di kebun kakao dan di pegunungan. Kami hanya memiliki pipa kecil, sehingga sangat sulit bagi siswa maupun masyarakat.”
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Sejak tahun lalu, tingkat ketidakhadiran cukup tinggi, tetapi sekarang mulai berubah. Dari pengamatan saya, kehadiran siswa sudah meningkat.”
Bertekad mencari solusi, Vincent menulis surat permohonan bantuan. Permintaan itu sampai ke World Vision Papua Nugini.
Yang terjadi kemudian adalah upaya besar masyarakat untuk membangun sistem penyediaan air berbasis gravitasi. Patrick Dumo, insinyur WASH dari World Vision, mengatakan bahwa material harus dibawa ke lokasi lebih dari 200 meter di atas permukaan laut. Tim liputan saat ke warga Bougainville bahkan mendaki gunung curam tersebut untuk melihat langsung beratnya perjuangan perempuan dalam mendapatkan air bersih.
“Kami membangun sistem penyediaan air berbasis gravitasi, yaitu cara sederhana menyalurkan air ke masyarakat dengan memanfaatkan gaya gravitasi tanpa pompa atau listrik. Sumber air berada di pegunungan, dan kami menangkap air dari mata air lalu menyalurkannya melalui pipa ke komunitas di bawah.”
“Kami menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah distribusi material konstruksi. Dengan bantuan masyarakat, kami berhasil membawa material ke lokasi yang berada di ketinggian 218 meter di atas permukaan laut.”
“Kami membawa pipa, karung seberat 40 kg, dan 15 lembar papan kayu lapis untuk pembangunan bendungan penampung dan tangki sedimentasi.”
Dumo menjelaskan bahwa bendungan penampung adalah struktur kecil yang dibangun untuk mengumpulkan dan menyimpan air dari sumber alami seperti hujan, mata air, atau aliran sungai. Tujuannya adalah menangkap air sebelum mengalir pergi serta melindungi sumber air dari pencemaran. Setelah bendungan penampung, terdapat tangki sedimentasi yang berfungsi membersihkan air dengan menghilangkan kotoran dan partikel sebelum dialirkan ke tangki penyimpanan dan kemudian ke keran-keran air.
“Perasaan yang saya rasakan saat membuka keran air adalah kepuasan tersendiri. Saya merasa melakukan sesuatu yang baik untuk masyarakat,” tambah Patrick.
Doris pun berbagi, “Di komunitas kami sekarang ada 10 keran air, dan ada juga keran di desa lain. Kami sangat bahagia. Sekarang kami bisa mengambil air dengan mudah.”
Bagi anak-anak, para ibu, dan seluruh masyarakat Takee, air bukan lagi perjuangan sehari-hari, melainkan simbol harapan, martabat, dan masa depan yang lebih baik. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post