Jayapura, Jubi – Perang AS-Israel melawan Iran berdampak lebih luas pada komunitas global, termasuk kenaikan harga bahan bakar. Papua Nugini pun tidak luput dari dampak peperangan ini.
Konflik yang meningkat telah menyebabkan kenaikan tajam harga minyak dan bahan bakar global secara langsung, dengan harga minyak mentah dilaporkan mencapai $ K430-K470 (Rp1,68 juta-Rp1,85 juta) per barel pada Maret 2026, dibandingkan dengan perkiraan K301 (Rp1,18 juta) per barel sebelum perang AS-Israel dengan Iran pada 2026. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet, tvwan.com.pg, Rabu (11/3/2026).
Di pasar domestik, Papua Nugini juga merasakan dampak lonjakan harga dan gangguan pasokan, dengan Komisi Konsumen dan Persaingan Independen (ICCC) menyatakan bahwa perang yang meletus pada 28 Februari 2026 akan memengaruhi harga domestik di Papua Nugini bulan depan.
Dan untuk bulan ini, ICCC mengumumkan bahwa Harga Eceran Indikatif untuk bensin, solar, dan minyak tanah telah meningkat rata-rata di seluruh negeri.
Sebagai contoh, di Lae, Papua Nugini, pengendara membayar sekitar K4,47 atau Rp17.500 per liter untuk bensin, setidaknya K4,51 per liter atau Rp17.600 per liter untuk solar, dan K4,16 atau Rp16.200 per liter untuk minyak tanah.
Dibandingkan dengan Februari 2026, harga bensin telah naik 13 toea atau Rp500 per liter, solar 22 toea atau Rp900 per liter, dan minyak tanah 19 toea atau Rp750 per liter.
Setelah pembukaan Jembatan Zumim pada hari Senin di Distrik Markham, Perdana Menteri, James Marape mengatakan kepada media Lae bahwa pemerintah menyadari dampak kenaikan harga bahan bakar.
“Tetapi pendapatan negara juga akan meningkat dari pendapatan tambahan, mudah-mudahan dari produksi gas,” katanya. “Jadi, kami akan mencoba menyeimbangkannya dengan memberikan keringanan kepada mereka yang mengisi bahan bakar,” tambahnya
“Saya sudah meminta Kementerian Keuangan dan departemen Perdana Menteri untuk meneliti bagaimana kita dapat bersiap jika harga bahan bakar naik,” katanya.
“Saya juga telah meminta Dewan Penasihat Keamanan Nasional untuk mengadakan pertemuan guna meninjau pasokan bahan bakar kita dan bersiap jika pasokan bahan bakar global terbatas,” tambahnya.
“Kami ingin memastikan bahwa kami aman dalam hal pasokan bahan bakar, jadi instruksi telah disampaikan,” katanya.
PM Marape menguraikan bahwa, seperti halnya pembebasan Pajak Barang dan Jasa (GST) untuk 13 barang penting, pemerintah “siap memberikan bantuan lebih lanjut di bidang bahan bakar.” (*)




Discussion about this post