Jayapura,Jubi-Tanganmama Ema Naqele bergerak cepat, lincah, cekatan dan percaya diri di atas voivoi (pandan kering), setiap helai ditarik dan ditekan ke tempatnya dengan mudah berkat pengalaman puluhan tahun. Ia belajar dari orangtua dulu, yang sejak lama mewariskan pengetahuan mengolah daun mengeringkan dan menganyam jadi tikar.
Apa yang biasanya orang lain menganyam tikar, membutuhkan waktu berbulan-bulan,tetapi dia bisa menyelesaikannya hanya dalam hitungan hari. Demikian dikutip jubi.id dari www.fijitimes.com.fj, Sabtu (25/4/2026)
Mama Ema Naqele berasal dari Desa Nasukamai di Ra, Fiji memiliki hubungan keibuan dengan Nukulau, Ema menikah di Desa Nubumakita dan menetap sejak 1989.
Di usia 61 tahun, ia adalah ibu dari empat anak dan seorang wanita yang dihormati di Nubumakita.
Tak lama setelah pernikahannya, ia terjun ke dunia kepemimpinan sebagai kepala Soqosoqo ni Marama (klub wanita), sebuah peran yang diembannya secara berkala selama 20 tahun.
“Untuk satu bongkah kelapa, saya bisa menyelesaikannya dalam dua atau tiga hari jika saya fokus menyelesaikannya,” katanya.
Kecepatan dan keahliannya mencerminkan dedikasinya seumur hidup untuk menenun, menganyam, sebuah seni yang kini menghidupi keluarganya dan memperkuat perannya di masyarakat.
Saat ini, fokusnya telah beralih ke keluarganya dan kegiatan menenunnya.
“Sumber penghasilan utama saya adalah menjual tikar. Sebagian besar waktu saya mendapat pesanan untuk satu set tikar (vivivi),” katanya seraya menambahkan bahwa tikar-tikar ini sangat penting untuk upacara dan acara tradisional di Fiji.
Bulan lalu saja, dia telah menyelesaikan sebuah karya vivivi senilai $600 (Rp4,6 juta) dan dia sudah mengerjakan pesanan lain yang nilainya mencapai $700 (Rp5,4juta).
Dia mengaku dalam menganyam dan menenun tidak dikerjakan sendirian. “Keponakan saya juga sering bekerja bersama,” katanya seraya menambahkan jika banyak pesanan sudah tentu keponakan akan membantu sehingga semua pesanan bisa terpenuhi sesuai waktu.
Terlepas dari tuntutan pekerjaannya, Ema memastikan bahwa tanggung jawab rumah tangga tetap menjadi prioritas utama.
“Sebelum menenun, kami memastikan semua pekerjaan rumah sudah selesai.”katanya.
Pekerjaannya bukan hanya sekadar memberikan penghasilan. Pekerjaan itu juga menopang kewajibannya kepada keluarga, komunitas (vanua), dan gereja.
Hasil jualan tikar ini kata dia telah juga membantu membiayai pendidikan anak bungsunya.
“Sebagian besar uang yang saya hasilkan juga dialokasikan untuk pendidikan anak bungsu saya,” katanya.
Anak bungsunya, yang berusia 21 tahun, sedang menjalani pelatihan untuk menjadi guru di Fulton Adventist University College.
Ema menanam voivoi miliknya sendiri, sehingga pekerjaannya menjadi berkelanjutan dan mandiri.
Selain menenun, dia juga mengelola kantin kecil dan dikenal karena keramahannya.
“Saya merasa diberkati ketika melayani orang-orang saat mereka berkunjung,” katanya.
Rumahnya sering digunakan sebagai akomodasi bagi pejabat pemerintah atau tamu yang berkunjung ke Nubumakita.
Sekarang, dia sedang menenun untuk acara keluarga penting, yaitu pelantikan Turaga ni Yavusa mereka.(*)




Discussion about this post