• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Selamat tinggal Jokowi, selamat tinggal cita-cita Republik?

August 12, 2024
in Opini
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Timoteus Marten
Iriana

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara Adi Soemarmo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (18/11/2022). - (Antara/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden)

0
SHARES
14
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Dominggus Elcid Li*

“Jokowi adalah kita”. Demikian slogan yang pernah populer dalam dua pemilu yang mengantarkan Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia dua periode. Merujuk pada judul tulisan ini, ucapan “selamat tinggal” tak hanya ditujukan pada Jokowi, tetapi pada konsep tentang kita itu sendiri.

Meskipun tidak ideal, ‘kita’ pernah ada dalam dua dekade reformasi, sebelum dikorupsi oleh sekian keluarga dalam republik. Entah itu keluarga para pimpinan partai politik, keluarga para tokoh agama, keluarga konglomerat pengusaha, keluarga pimpinan mafia, keluarga bekas tokoh mahasiswa, keluarga para jenderal, atau keluarga para bekas presiden dan wakil presiden.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Tetapi kesalahan demi kesalahan yang berubah menjadi tragedi terjadi sejak Republik Indonesia diproklamasikan juga menunjukkan kekeliruan kolektif. Entah tragedi 1949, 1957, 1965, 1974, 1991, 1996, 1997, 1999, 2004, atau 2024.

Pada akhirnya kita tidak sedang membicarakan Joko Widodo, Luhut Binsar Panjaitan, Tomy Winata, Beny Ramdhani, Listyo Sigit, Maruli Simanjuntak, Bahlil, Haedar Nashir, Yahya Staquf, atau Tessy. Bagi saya, Anda tidak berbeda dengan saya, meskipun dalam konteks bersuara, suara kalian lebih nyaring daripada sekian ratus juta orang yang tinggal di dalam wilayah Republik Indonesia.

Akan tetapi, Anda juga akan menjadi kenangan dan ingatan yang sebentar lagi purna. Sama seperti Soekarno, Soeharto, Aidit, Untung, Subandrio, Nasution, Hatta, Sjahrir, Gus Dur, Romo Mangun, Habibie, atau Benyamin S.

BERITATERKAIT

Jurnalis asal NTT beri kado ke Presiden Jokowi

Jokowi pimpin gelar pasukan pengamanan pelantikan Prabowo-Gibran

Jokowi: Mayapada Nusantara menjawab kebutuhan rumah sakit di IKN

Presiden Jokowi sebut Peparnas 2024 kali ini begitu spesial

Tragedi atau komedi hanya berwarna jika ditatap dari dekat. Selebihnya hanya ingatan samar, entah itu disimpulkan oleh senyum kecil, atau hela napas panjang.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Dalam satuan era, seorang presiden, pelawak, tentara, tokoh agama, atau tokoh mahasiswa tak banyak bedanya. Untuk bisa diingat melampaui rentang abad, butuh sesuatu yang melampaui diri sendiri, keluarga sendiri, golongan sendiri dan maunya sendiri. Tidak terlalu menarik kita berbicara dengan orang yang hanya mengerti dirinya sendiri. Tidak ada gunanya.

Republik adalah kita

Di tahun 2024, pikiran dan tindakan orang Indonesia cenderung menurun kualitasnya secara kolektif. Para elite Indonesia tidak mampu berpikir abstrak. Entah Haedar Nasir, Jokowi, Luhut, atau Yahya Staquf.

Kemampuan untuk berbicara impersonal, atau tidak menempatkan diri sendiri lebih tinggi dari sekian ratus juta warga negara tidak kalian miliki, tetapi mengapa kalian bisa berada dalam posisi puncak organisasi atau institusi?

Sudah terlalu lama kita pergi meninggalkan tahun 1945. Tahun revolusi. Tahun egaliter. Tahun berbicara apa adanya. Tahun 2024, republik ini sudah menjadi arena pasar, yang sarat kepentingan (interest). Yang besar tidak selalu bermartabat, yang berseragam tidak berarti tidak mencuri, yang beragama tidak berarti sedang berdoa.

Hal-hal mendasar yang seharusnya tidak salah malah dibikin jadi permainan. Tahun 2012, saya berharap Jokowi akan melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Melakukan lompatan yang tidak pernah mampu dilakukan sejak tahun 1945: memberi ruang Indonesia.

Republik adalah organisasi modern. Di Indonesia diterjemahkan bebas. Seperti terjemahan Super Man (Manusia super), ketika diindonesiakan menjadi Suparman. Tanpa kaidah, semua boleh.

Orang yang berkuasa tidak eling. Begitu buruknya hingga orang memilih diam, karena malu untuk komentar. Mengapa kita menjadi seburuk ini?

Para pimpinan organisasi modern Indonesia tidak mampu berpikir abstrak. Bukan cuma seperti bekas jendral macam Luhut, tetapi juga sama eks orang marketing macam Bambang Pacul, atau guru besar intelijen Indonesia Hendropriyono .

Salah satu kekeliruan mendasar adalah ketiganya mengamini bahwa kekuasaan, dan darah adalah satu.

Republik dimengerti bahwa semua orang mempunyai kesempatan yang sama. Ruang publik seharusnya tetap dijaga agar ada yang disebut ‘warga negara’. Yang sedang terjadi adalah republik dihapuskan, dan klan/trah keluarga dibesarkan.

Ucapan Bambang Pacul orang PDIP soal Megawati-Puan, tak ada bedanya dengan ucapan Luhut atau Hendro tentang Jokowi-Gibran. Era kerajaan sudah sepakat diganti Republik, dan kini kita diajak untuk berbicara soal pewarisan berbasis darah atau dinasti. Kekeliruan yang dibikin di Jakarta, direproduksi secara masif di berbagai pelosok.

Cina untuk bisa menjadi negara super power dalam tempo yang ‘amat cepat’, menempuh jalan radikal dengan sekian revolusi kebudayaan. Perancis juga sama satu abad sebelumnya. Sedangkan Indonesia, entah sedang kemana?

Jika semua ‘rasa peradaban’ dihilangkan dan rakyat dipaksa mengerti maunya para pejabat negara, dan rumus yang dipakai hanya lah ‘kesejahteraan ekonomi’ maka pertaruhannya adalah jika Bank Indonesia bubar, maka seluruh struktur Indonesia bubar. Dialog-dialog khas musyawarah untuk mufakat seperti yang dicantumkan dalam Sila Keempat Pancasila dilupakan begitu saja.

Negara dan politik kesejahteraan

Di level negara, di level republik seharusnya pimpinan negara tidak dalam posisi sebagai pedagang. Untuk bisa mengorkestrasi jutaan simpul kelembagaan, satuan pembicaraannya seharusnya bukan kepentingan, melainkan ‘kebaikan bersama’.

Pandangan mata seorang kepala negara dan elite negara tidak boleh hanya ada dalam tubuhnya, maupun sel-sel hasil pembelahan dirinya. Skenario reproduksi negara harus dipikirkan secara saksama untuk kehidupan bersama.

Langgam Aristotelian ini merupakan jalan tengah, agar kehidupan yang menjadi puncak, dan bukan kematian dan ilusi kemajuan. Kengerian demi kengerian muncul ketika membaca dialog-dialog yang diliput media. Kesalahan dan tragedi yang sudah bisa terbaca, sejak kata-kata keluar tanpa dihitung bobotnya untuk negeri.

Jika hari-hari ini pengertian republik sedang dikorupsi menjadi dinasti, maka nasib Indonesia tak cukup panjang. Peringatan ini perlu disampaikan. Struktur militer saja tidak cukup untuk menjadi rantai persatuan. Tanpa ideologi republik, tidak mungkin militer bisa berfungsi.

Republik Indonesia adalah kesepakatan bermeteraikan darah warga negara. Menolak menjadi jajahan siapa pun. Menolak menjadi koloni.

Jika para elite hanya mampu berpikir soal anak, menantu, ipar, adik, teman seangkatan, dan golongan sendiri niscaya republik tidaklah berumur panjang.

Setelah partai-partai politik rusak karena tradisi darah. Setelahnya tentara rusak juga karena tradisi darah. Kini organisasi keagamaan juga diantar ke kuburan yang sama.

Saya berharap Yahya Staquf dan Haedar Nasir bisa menjadi pilar republik. Namun, mengapa jauh sekali kualitasnya dari Gus Dur maupun Buya Maarif? Mengapa kalian tidak bisa berbicara atas nama KITA? Mengapa kalian juga meninggalkan republik?

Berbicara soal kurang dan kemiskinan (umat), rasanya kita sama-sama tahu. Entah dari Pulau Timor tempat saya berdiam, atau di Pulau Jawa tempat saudara berdua berdiri, kemiskinan merupakan persoalan yang perlu kita pecahkan dengan sungguh-sungguh.

Korupsi di tubuh industri dan institusi ekstraktif harus dipecahkan, dan bukan dijadikan bancakan. Tragedi besar tahun 1965, dimulai dari bancakan industri ekstraktif pasca nasionalisasi yang dimulai tahun 1957.

Tawaran Presiden Jokowi, bisa jadi merupakan tawaran kematian untuk negara. Negara dianggap tak mampu mengelola dan melakukan distribusi kesejahteraan.

Politik kesejahteraan merupakan persoalan negara. Hak-hak masyarakat adat yang tidak dipulihkan dan penghidupannya yang terancam, dan langsung ditimpa dengan politik konsesi eigendom ala kolonial merupakan persoalan. Mengerti dan mendudukan sekian ragam skema produksi warga negara, agar semua bisa hidup harus menjadi haluan, agar tidak terjadi ‘kolonialisme internal’.

Penutup

Hari-hari mendatang tidaklah mudah. Prabowo dengan segala ceritanya adalah Presiden yang baru.

Mengelola republik dengan penduduk ratusan juta di atas ribuan pulau butuh kemampuan berpikir abstrak yang memadai. Kita tidak butuh jenderal yang pongah, atau menteri yang dungu. Kita butuh presiden dan menteri yang mau belajar.

Warna republik, lebih luas dari warna seragam tentara, dan komando teritorial. Seandainya kekuatan warga negara bisa dibangkitkan, maka energi semesta republik bisa didapatkan.

Era Joko Widodo dan Luhut Binsar Panjaitan sudah berlalu. Kesempatan yang sudah diberikan rakyat kepada Jokowi untuk memimpin sudah selesai. Ini bukan soal benar atau salah. Seharusnya Jokowi bisa lebih baik dari ini.

Sebagai penutup, cerita adaptasi dari Uni Soviet yang sudah bubar itu mungkin bermanfaat.

Di sebuah kampus ada tiga mahasiswa yang sedang diuji lewat tes wawancara. Murid A menyogok 1 juta rupiah. Oleh penguji ia ditanya, kapan tahun revolusi Indonesia dimulai. Murid A menjawab ‘tahun 1945’. Dan penguji menjawab ‘Dapat nilai 100’. Murid B yang menyogok 500 ribu rupiah, pun ditanya kapan tahun revolusi dimulai. Murid B menjawab ‘tahun 1945’. Lalu ditanya kapan selesai, dan ia menjawab ‘tahun 1949’. Penguji memberi nilai 100. Lalu Murid C yang tidak menyogok pun masuk kelas. Ia ditanya, kapan revolusi Indonesia dimulai. Ia menjawab ‘tahun 1945’. Lalu penguji melanjutkan ‘Kapan selesai’. Ia pun menjawab ‘Tahun 1949’. Penguji bertanya ‘berapa orang yang meninggal’. Murid C menjawab ‘seratus ribu orang’. Penguji pun melanjutkan ‘Sebutkan nama mereka semua…

Cerita di atas, sekadar hiburan kecil untuk membaca peristiwa hari-hari ini. Kekuasaan dalam republik tidak mungkin dikelola dalam nalar dagang dan primordialisme keluarga sebagai nada dasar.

Jika hari-hari ini, pelawak Tessy tersinggung untuk inisial ‘T’, yang sedang viral, orang bertanya-tanya apa mungkin tikus-tikus yang berumah dalam republik bisa ditangkap. Tetapi jika semua sudah berubah menjadi tikus, apa mungkin?

Gus Dur yang jenaka mungkin saja menjawab begini, “Ya mungkin saja, nama juga republik tikus… gitu saja kok repot!” Ia pun tertawa sambil mengangkat kepalanya.

Pada akhirnya generasi reformasi selesai. Orde Baru sudah purna. Soekarno pun adalah sejarah. Sementara kita masih berada di garis republik yang kian samar. (*)

*Penulis adalah sosiolog dan peneliti di IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change) tinggal di Kupang, NTT

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Tags: Jokowirepublik indonesia
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Dana

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Masyarakat menolak MBG juga merupakan HAM

February 27, 2026

Menagih janji Otsus di Kabupaten Sorong: Mengapa pendidikan menengah masih terjebak formalitas administratif?

February 11, 2026

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

April 5, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
beasiswa

Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

April 2, 2026
ekskavator

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

April 1, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

0
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

0
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

0
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

0
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

0
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

0
Kaledonia Baru

UU Reformasi konstitusi Kaledonia Baru ditolak Majelis Nasional Prancis

0

Trending

  • LNG

    JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara