Jayapura, Jubi – Tabuhan delapan pemukul tifa mengiringi komando dari Yafet Felle, penabuh kerembut (kelambut) selama tim penari kaum perempuan dan anak laki-laki menyambut para tamu yang berkunjung menyaksikan Pesta Rakyat Masyarakat Adat Kampung Yobeh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Sabtu (1/8/2026).
“Tarian ini kami tampilkan sebagai sambutan selamat datang untuk para tamu dan undangan,” Yafet Felle kepada Jubi usai tampil di depan panggung di Kampung Yobeh, seraya menambahkan para penabuh tifa harus mendengar komando dari si pemukul kerembut.
Felle menjelaskan bahwa kerembut atau biasa disebut pula Kelambut adalah instrumen musik khas Sentani, sebagai identitas suku Sentani termasuk masyarakat Kampung Yobeh.
“Kerembut ini sudah termasuk dalam asesoris ondoafi, sehingga kalau mau tampil dalam pesta adat harus ada izin dari ondoafi dan harus dibayar bisa mencapai puluhan juta,” ucapnya.
Menurutnya, kayu untuk membuat kerembut dalam Bahasa Sentani disebut ‘Enaye’ atau kayu yang nyaring bunyinya. Kayu itu diambil dari pegunungan Cycloop.
“Biasanya kayu ini berat dan butuh 10 orang untuk memikul kayu Enaye. Biasa kita bikin lalu jemur hingga kering, agar suaranya nyaring,” ujarnya.
Suara nyaring dari yang dihasilkan Kerembut ini kata Felle, sebagai komando agar penabuh secara bersamaan menabuh tifa bertalu-talu secara seirama hentakan kaki para penari yang mengitari penabuh kerembut.
“Jadi saya sebagai penabuh kerembut ini berada di tengah, dan penabuh tifa mengelilingi. Sedangkan penari perempuan di bagian lingkaran luar sambil menari,” katanya.
Katanya, kerembut ini hanya bisa ditabuh oleh kaum laki-laki. Kaum perempuan dilarang karena diyakini akan membuat rahim kandungan mereka tertutup, sehingga tidak dapat memiliki anak.
Sementara itu, Prof. Dr. I Wayan Rai S. dari Pusat Penerbitan Institut Seni Indonesia Denpasar, dalam penelitiannya berjudul Musik Kelambut Identitas Etnis Sentani Papua, mengkaji tentang kerembut di Sentani dilakukan dalam perspektif etnomusikologi.
Kerembut sebagai objek etnomusikologi, serta penjelasan lebih rinci perihal eksistensi musik kerembut di Sentani sangat penting bagi identitas asli Suku Sentani.
Kerembut adalah alat kesenian tradisional Suku Sentani di Provinsi Papua yang berbentuk menyerupai jukung dan dimainkan dengan tongkat kayu untuk kegiatan festival tradisional, pertunjukan musik dan seminar.
Arti kerembut dalam masyarakat Sentani.melambangkan kebersamaan dan sumber toleransi,” kata I Wayan Rai S.
Menurutnya, kerembut sebagai objek etnomusikologi yang sangat menarik. Keberadaannya harus dipahami sebagai bagian dari totalitas kebudayaan
yang dimiliki oleh masyarakat.
Musik kerembut dapat dikaji melalui peranannya dalam upacara yang profan maupun sakral. Kajian fungsi musik kerembut dalam upacara profan adalah bagaimana menempatkan musik ini berfungsi untuk acara hiburan.
Peran musik tersebut lebih menekankan unsur keduniawian, sedangkan musik kerembut sebagai objek yang bersifat sakral perlu didekati dengan menggali unsur religi.
Hubungannya dengan Tuhan, arwah nenek moyang, dewa-dewa maupun roh-roh yang dianggap memiliki kekuatan gaib, tergantung pada cara pandang masyarakat pendukungnya. (*)




Discussion about this post