Jayapura, Jubi – Sejumlah lapak pedagang di Pantai Yahim, Kelurahan Dobonsolo, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua terendam air luapan Danau Sentani sejak beberapa hari terakhir.
Naiknya debit air Danau Sentani disebabkan tingginya curah hujan selama beberapa hari ini. Tidak hanya lapak pedagang, permukiman warga di kawasan pesisir danau juga mulai terendam.
Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi warga di kawasan itu, terganggu. Mereka tidak dapat berjualan seperti biasa.
Selama ini dermaga di Pantai Yahim, juga menjadi tempat singgah dan merupakan poros transportasi masyarakat adat yang bermukim di Danau Sentani.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Dermaga Yahim menjadi tumpuan transportasi danau warga dari 11 kampung di seberang danau. Kampung-kampung itu adalah Babrongko, Simporo, Kameyakha, Atamali, Abar, Putali, Kensio, Yoboi, Hobong, Ifale, dan Ifar Besar yang ingin bepergian ke Kota Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura.
Selain itu, Dermaga Yahim menjadi tempat penitipan ratusan kendaraan roda dua atau sepeda motor milik warga sebelas kampung di pesisir Danau Sentani.
Seorang warga setempat, Ruth Felle, mengatakan meluapnya air Danau Sentani membuat fasilitas umum tidak bisa digunakan.
“Ini tempat jualan, fasilitas umum. Semua orang cari di sini. Tapi kalau air naik begini, tidak mungkin kami terus jualan dalam kondisi terendam,” kata Ruth saat ditemui Jubi di Pantai Yahim, Sabtu (28/3/2026).
Warga mengatakan, meluapnya air danau mengakibatkan berkurangnya jumlah pembeli, sebab akses jalan ke wilayah itu tergenang air.
“Pembeli pasti berkurang, karena tidak mungkin mereka lewat di air,” ujarnya.
Naiknya debit air Danau Sentani di Pantai Yahim, tidak hanya berdampak pada aktivitas ekonomi warga sekitar. Namun sejumlah rumah di kawasan itu telah tergenang air.
Situasi itu menyebabkan warga khawatiran, dan telah memikirkan untuk mengungsi sementara waktu apabila hujan kembali turun dan air pasang dari danau kian meninggi.
“Masyarakat di pinggiran danau, khususnya di Pantai Yahim, mungkin tinggal tunggu waktu saja. Kalau hujan lagi, mereka pasti mengungsi, tapi sekarang mereka bingung mau ke mana,” kata Ruth Felle.
Fenomena naiknya air Danau Sentani, menurut warga, terjadi hampir setiap tahun. Bahkan pada 2019, kondisi serupa memaksa aktivitas jual beli dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman.
Warga lain, Yulianti Felle berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan. Menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak dan penyediaan fasilitas jualan yang lebih layak dan aman dari banjir.
“Harapan kami, pemerintah bisa bangunkan [kami] tempat jualan yang baik supaya kalau air naik begini tidak berdampak lagi untuk kami,” kata Yulianti Felle.
Sementara itu Kepala Distrik Sentani, Jack Judzoon Puraro, menjelaskan bahwa naiknya debit air Danau Sentani terjadi akibat curah hujan tinggi, namun tidak diimbangi dengan kelancaran aliran keluar air.
“Kenaikan air terjadi cukup cepat karena curah hujan yang tinggi, namun pergerakan air yang keluar sangat lambat. Ini disebabkan penumpukan kayu dan sampah yang menyumbat aliran di Kali Itauwfili,” kata Jack Puraro.
Menurutnya, penanganan harus segera dilakukan mengingat kondisi di lapangan semakin memprihatinkan. Pemerintah distrik telah berkoordinasi dengan masyarakat untuk melakukan langkah penanganan.
Pada Selasa mendatang, tim gabungan dijadwalkan turun melakukan survei ke Kali Itauwfili guna mengidentifikasi titik-titik sumbatan.
Setelah itu, pembersihan akan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan kepala kampung, aparat keamanan, serta masyarakat dari wilayah Waibhu hingga Ralibhu.
Warga juga mengusulkan penggunaan alat berat berupa excavator untuk membantu mengangkat kayu-kayu besar yang menyumbat aliran air, khususnya di wilayah Alang-Alang 3.
Jack Puraro mengatakan, penanganan masalah ini membutuhkan kolaborasi semua pihak lintas wilayah, termasuk Distrik Sentani, Waibu, dan Sentani Timur.
“Kami berharap dukungan penuh dari seluruh masyarakat sebagai bentuk kolaborasi bersama, agar aliran air kembali lancar dan permukaan Danau Sentani bisa segera surut,” ucapnya.
Hingga kini, warga masih bertahan di rumah masing-masing sambil memantau perkembangan debit air danau yang berpotensi meningkat jika hujan kembali turun. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post