Jayapura, Jubi – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura kembali segera meluncurkan buku cerita rakyat Port Numbay jilid dua, berisi 30 cerita rakyat menggunakan tiga bahasa daerah dan ditulis lima pemilik cerita asal Port Numbay.
Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku mengatakan, pihaknya sedang dalam proses persiapan peluncuran buku cerita rakyat Port Numbay (nama lain dari Kota Jayapura) jilid dua.
Menurutnya, proyek penyusunan buku cerita rakyat sendiri sudah dimulai sejak November 2024 dan peluncuran direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat.
Saat ini, pihaknya telah mengundang para narasumber atau penutur cerita untuk meninjau kembali cerita yang sebelumnya telah dibukukan. Tujuannya adalah untuk memastikan isi dari 30 cerita rakyat di dalamnya telah sesuai dengan bahasa yang mereka sampaikan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Untuk itu kami undang pihak Balai Bahasa Papua, bersama kami dan para penulis cerita, memastikan kembali kecocokannya,” kata Grace Linda Yoku usai rapat bersama tim sosialisasi buku cerita rakyat Port Numbay jilid II di kawasan Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (27/10/2025).
Katanya, buku cerita rakyat Port Numbay jilid dua berisi 30 cerita rakyat, yang merupakan kumpulan cerita-cerita rakyat Port Numbay dari berbagai kampung, di antaranya Tobati, Enggros, Nafri, Kampung Waena, dan Kampung Yoka.
Ia mengatakan, buku cerita rakyat tersebut diterjemahkan ke dalam dua bahasa, yaitu bahasa daerah (bahasa kampung) dan bahasa Indonesia. Cerita dalam buku ini mencakup tiga bahasa lokal yakni, Bahasa Tobati-Enggros, Bahasa Nafri, dan Bahasa Yoka-Waena.
Yoku menjelaskan bahwa meskipun bahasa Yoka dan Waena dianggap satu bahasa, terdapat sedikit perbedaan dalam tuturan bahasanya di dalam cerita. Cerita rakyat dari Skow, Kayu Batu, dan Kayu Pulo belum terakomodasi dalam jilid dua tersebut.
“karena perwakilan dari kampung-kampung tersebut tidak hadir saat diundang untuk menyampaikan ide ceritanya,” ujarnya.
Grace Linda Yoku menekankan bahwa buku ini diharapkan menjadi pegangan bagi para guru di setiap sekolah di Kota Jayapura, untuk mengajarkan muatan lokal kepada anak-anak.
Sasaran utama penerbitan buku ini adalah untuk mendukung materi muatan lokal di Kota Jayapura karena penerbitan buku cerita rakyat itu masih berfokus di wilayah Kota Jayapura.
Sementara itu, salah satu Tim Kerja Literasi Balai Bahasa Papua, Esther Rita Embram menyampaikan, upaya pelestarian budaya yang dilaksanakan oleh Disdikbud Kota Jayapura, melalui pendokumentasian cerita rakyat dari masyarakat merupakan langkah konkret
“Karena cerita-cerita tersebut sangat bagus dan upaya pendokumentasian merupakan kesempatan baik yang harus segera diambil pemerintah,” ucap Esther Rita Embram.
Menurutnya, kekhawatiran utama terhadap punahnya bahasa lokal, muncul karena kondisi para penutur cerita yang mayoritas adalah orang tua yang usianya sudah lanjut.
“Apa jadinya kalau orang-orang tua ini sudah tidak ada, kita mau dapat ceritanya dari mana. Masalah pendokumentasian cerita rakyat di masyarakat tidak boleh ditunda lagi dan harus segera dilakukan,” katanya.
Ia menilai, inisiatif Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Jayapura, merupakan langkah yang sangat krusial untuk menyelamatkan warisan budaya lisan agar tidak hilang ditelan zaman seiring dengan berkurangnya generasi tua yang menguasai cerita-cerita tersebut. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post