Sentani, Jubi –Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani merupakan dua tempat ikonis sekaligus kekayaan alam Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Namun lingkungan kedua tempat ini mengalami kerusakan. Bahkan menimbulkan bencana banjir bandang skala nasional pada 2019.
Untuk menangani Cagar Alam Pegunungan Cycloop, juga Danau Sentani diperlukan pemimpin daerah yang peduli dan memiliki program yang bagus.
Bagaimana dengan kelima pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Jayapura yang bertarung pada Pilkada 2024, apakah mereka menawarkan program penanganan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan juga Danau Sentani?
Pada acara Debat Publik Pertama Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura 2024 yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jayapura di sebuah hotel di Sentani pada Senin (11/11/2024) sore, kelima paslon juga menyampaikan visi-misi dan program mereka.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Debat publik yang disiarkan secara langsung selama tiga jam itu mengangkat tema ‘Pembangunan Kesejahteraan dan Pelayanan Masyarakat di Kabupaten Jayapura’. Beberapa paslon secara khusus menawarkan program penanganan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani. Paslon lain ditambah dengan wawancara Jubi.

Berikut pandangan dan program yang ditawarkan kelima paslon untuk penanganan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan sedikit menyinggung pengelolaan Danau Sentani. Paslon diurutkan berdasarkan nomor urut.
1. Ted Yones Mokay-Pardi
Ted Yones mengatakan pada 2019 terjadi banjir bandang yang luar biasa pada sebagian besar wilayah Kabupaten Jayapura dan itu adalah peristiwa yang tidak bisa dilupakan.
“Cycloop saat ini sudah menjadi ancaman bagi kita semua, faktor terjadinya bencana saat itu disebabkan oleh cuaca, terjadinya intensitas curah hujan yang sangat tinggi, tetapi juga adanya pembabatan hutan yang terus terjadi selama ini,” ujarnya.
Oleh sebab itu, kata Yones, rencana strategis ia dan Pardi ke depan adalah mengeluarkan seluruh masyarakat lokal yang saat ini mendiami Cagar Alam Pegunungan Cycloop.
“Tentunya untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan koordinasi dan komunikasi yang intens dengan semua pihak agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, kata Yones, secara aturan tidak boleh ada aktivitas masyarakat di dalamnya selain untuk kepentingan edukasi dan penelitian.
Sedangkan Danau Sentani, kata Yones, memiliki potensi wisata yang sangat unik dan menarik. Danau Sentani dipastikan akan menghasilkan pendapatan daerah yang sangat besar dari sektor pariwisata.
“Sebagai mantan Kepala Dinas Pariwisata, kami telah menyusun RIPPDA Pariwisata Kabupaten Jayapura untuk 15 tahun mendatang, tentunya dengan melibatkan masyarakat lokal di setiap kampung yang ada di pesisir Danau Sentani, termasuk menyediakan fasilitas penunjang layanan yang baik sehingga dapat menarik kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri bisa berkunjung ke daerah ini,” katanya.
2. Yunus Wonda-Haris Yoku
Yunus Wonda menyebutkan Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan Danau Sentani sangat penting bagi kelangsungan hidup seluruh masyarakat di Kabupaten Jayapura.
Untuk pengelolaan Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, kata Wonda, dilakukan secara bersama oleh pemilik hak ulayat, masyarakat yang mendiami kawasan, dan Pemkab Jayapura.
“Bersama melakukan pengawasan terhadap seluruh aktivitas yang dapat merugikan keberlangsungan hidup hayati di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, juga seluruh kehidupan manusia yang tinggal di bawah, di kaki Pegunungan Cycloop,” katanya.
Kegiatannya. Lanjut Wonda, tidak hanya sosialisasi dan imbauan, tetapi juga sikap tegas dari Pemkab Jayapura terhadap fungsi regulasi yang ditetapkan.
“Ini harus juga berjalan, artinya tidak ada kompromi bagi mereka yang merusak Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop,” ujarnya.

Seladangkan untuk Danau Sentani, lanjut Wonda, danau terbesar di Papua ini memiliki potensi ikan air tawar yang sangat luar biasa. Juga tempat atau kampung-kampung di pesisirnya bisa difungsikan sebagai destinasi wisata.
Ia dan pasangannya menawarkan program pemberdayaan masyarakat dengan bantuan fasilitas pengelolaan alat tangkap ikan dan juga modal usaha.
“Pemerintah daerah berkewajiban mencari pasar dan investor yang bisa menampung hasil tangkap dari masyarakat,” kata Wonda.
3. Jan Jap Ormuserai-Asrin Rantetasak
Pasangan Jan Jap Ormuserai-Asrin Rantetasak menawarkan program pagar hidup yang akan dikerjakan di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.
“Program pagar hidup ini merupakan upaya bersama seluruh masyarakat di Kabupaten Jayapura. Artinya, dalam proses nanti melibatkan semua pihak dan khususnya masyarakat lokal di sepanjang kawasan cagar alam, kata Ormuserai kepada Jubi di Sentani, Senin (18/11/2024).
Program pagar hidup adalah secara bersama melakukan penanaman pohon di sepanjang batas kawasan cagar alam atau di kaki Pegunungan Cycloop, dari pasir dua Kota Jayapura hingga wilayah Depapre.
Pagar hidup ini, katanya, akan menjadi tanda atau batas aktivitas manusia, yang melakukan aktivitas di dalam kawasan cagar alam atau melewati batas pagar hidup tersebut berarti melanggar hukum.
“Imbauan dan sosialisasi akan terus dilakukan dan juga ada pembentukan regulasi baru selain undang-undang lingkungan hidup yang sudah ditetapkan,” kata Ormusera.
4. Yohanes Manangsang-Daniel Mebri
Yohanes Manangsang mengatakan Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop sudah seharusnya menjadi perhatian serius bersama.
“Pegunungan Cycloop tidak hanya sebagai sumber mata air yang memberikan kehidupan bagi masyarakat yang mendiami Kabupaten Jayapura, tetapi juga menyediakan pasokan udara yang segar, karena ada banyak pepohonan yang tumbuh dan hidup di sana,” ujarnya.
Kebiasaan buruk sebagian masyarakat yang sering melakukan penebangan untuk lahan berkebun, kata Manangsang, pastinya dapat disampaikan melalui pendekatan secara kekeluargaan dan itu mesti dilakukan secara rutin dalam setiap sosialisasi secara massal dengan melibatkan banyak pihak.
“Tidak bisa hanya melalui pemerintah dan regulasi, serta aparat penegak hukum untuk memaksa kehendak. Perlu ada pesan kemanusiaan yang disampaikan sehingga setiap orang yang hidup dan tinggal di Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop bisa mengerti dan memahami dengan baik sehingga langkah penyelamatan, pelestarian, dan reboisasi akan terus berlanjut sebagai aktivitas rutin masyarakat kita secara sadar,” ujarnya.
5. Alpius Toam-Giri Wijayantoro
Alpius Toam mengaku sangat berkewajiban mengurus lingkungan hidup di Kabupaten Jayapura.
“Pengalaman banjir bandang pada 16 Maret 2019 menjadi pengalaman yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Ada banyak fakta menarik di sana, dari kurangnya pengawasan hingga kurangnya pemahaman yang baik dari kita semua yang tinggal di bawah kaki Pegunungan Cycloop,” katanya.
Menurut Toam aturan serta undang-undang yang mendasarinya harusnya dipertegas. Kemudian fungsi dari kawasan cagar alam perlu disosialisasi secara rutin kepada masyarakat. Lalu pendekatan secara kekeluargaan dengan pihak terkait wajib dilakukan.
“Agar segala bentuk aktivitas yang berlangsung di kawasan itu tidak lagi dilakukan,” ujarnya.
Apa yang sudah dan sedang dilakukan Pemkab Jayapura?
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura Abdul Rahman Basri mengatakan pihaknya saat ini terus melakukan pengawasan terhadap seluruh aktivitas masyarakat yang tinggal di garis batas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, termasuk di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Sedangkan untuk pesisir Danau Sentani, kata Basri, pihaknya juga telah memasang alat deteksi air danau yang sedang dalam kondisi tercemar atau mengalami hal yang tidak biasa.
“Pasca banjir bandang, tiga tahun terakhir ini kami terus melakukan pengawasan terhadap seluruh aktivitas masyarakat di Cagar Alam Pegunungan Cycloop, soal regulasi dan aturan sudah kami sosialisasi, termasuk menyampaikan status daerah ini sebagai daerah rawan bencana secara permanen,” ujarnya.
Ia menjelaskan panjang kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop sekitar 36 km yang membentang dari barat ke timur. Pegunungan Cycloop yang dikenal sebagai ‘Benteng Perkasi’ terdiri dari beberapa lapisan gunung yang berjejer jika dilihat dari depan, selatan ke utara.
Gunung-gunung itu antara lain Gunung Dafonsoro (ketinggian 1.580 Mdpl), Gunung Butefon (1.450 Mdpl), Gunung Robhong (1.970 Mdpl), Gunung Haelufoi (1.960 Mdpl), Gunung Rafeni (1.700 Mdpl), dan Gunung Adumama (1.560 Mdpl).
Pegunungan Cycloop ditetapkan sebagai Cagar Alam (CA) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 56/Kpts/Um/1/1978 pada 26 Januari 1978 dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 365/Kpts-II/1987 pada 18 November 1987 dengan luas 22.500 ha.
Sedangkan Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.360 ha berada pada ketinggian 75 mdpl. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post