Sorong, Jubi – Sebanyak 50 penyandang disabilitas mengikuti workshop pembuatan mahkota khas Papua sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan ekonomi. Kegiatan bertajuk “Inklusi dan Budaya Bertumbuh dari Tanah Papua” ini digelar di Sekretariat Belantara Papua, di Kota Sorong, Papua Barat Daya, Rabu (14/1/2026).
Para peserta penyandang disabilitas tampak antusias merangkai bahan-bahan alami seperti bulu ayam, kulit kayu, hingga kerang laut menjadi mahkota. Meski membutuhkan penyesuaian teknis, mereka semangat belajar dalam menempelkan setiap detail aksesoris sesuai kreativitas masing-masing.
Narasumber dari Mahkota Kreatif, Novelia Kewetary, menjelaskan bahwa proses pelatihan difokuskan pada pemanfaatan bahan tradisional agar peserta tetap dekat dengan akar budaya mereka.
“Walaupun mereka memiliki keterbatasan, minat belajarnya tinggi. Mengingat permintaan mahkota selalu meningkat setiap ada perayaan, kami berharap ini menjadi peluang ekonomi baru bagi mereka,” ujar Novelia.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Perwakilan BICARA Foundation, Zusana Tutuhatunewa, mengatakan bahwa rangkaian pesta budaya ini bertujuan untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas adalah bagian aktif dari masyarakat adat yang turut menjaga warisan budaya.
“Kami ingin teman-teman disabilitas terlibat aktif dan tidak sekadar menjadi penonton. Selain workshop mahkota, ada juga kelas literasi penulisan esai, kelas Bahasa Isyarat (Bisindo), hingga panggung hiburan,” jelas Zusana.
Ia berharap output dari kegiatan ini adalah lahirnya kelompok disabilitas yang mandiri secara ekonomi melalui sektor seni dan budaya.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Provinsi Papua Barat Daya, Anance Nauw. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek pembangunan.
“Budaya Papua mengajarkan bahwa semua orang memiliki tempat di dalam ‘Honai Kehidupan’. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Inilah semangat inklusi,” ujar Anance.
Anance memaparkan komitmen pemerintah melalui langkah nyata legislasi. Ia menyebutkan bahwa Perda Disabilitas telah ditetapkan dalam sidang paripurna pada Desember lalu dan kini sedang memasuki tahap sosialisasi.
“Pemerintah berkomitmen mendorong kebijakan yang ramah disabilitas, baik di bidang pendidikan, ekonomi kreatif, maupun ruang publik. Budaya harus menjadi milik semua orang tanpa terkecuali,” tutupnya.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Hijau Mandiri Papua dan Yayasan Bingkai Cerita Rakyat (BICARA Foundation), dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI. (*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!



















Discussion about this post