Sorong, Jubi – Warga Kampung Benawa 2 dan Bubuko di Distrik Kokoda Utara, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya, kembali terendam banjir Kamis (18/9/2025). Banjir sudah puluhan tahun menghantui wilayah mereka. Aliran Sungai Tirokoy yang mati sejak tahun 2000 membuat air hujan terjebak di tengah hutan sagu tanpa saluran keluar, sementara masyarakat menilai pemerintah daerah tak kunjung hadir memberi solusi.
Kemarin hujan mulai sore, sampai malam, sampai pagi, kampung kami langsung tergenang air. Tidak ada sungai untuk air keluar, jadi air terperangkap di tengah hutan,” ujar Ismail Reboga, Ketua Baperkamp Bubuko saat dihubungi Jubi, Sabtu (20/9/2025).
Ia menuturkan peristiwa banjir sudah terjadi cukup lama. “Setiap kali hujan, kampung Benawa 2 dan Bubuko langsung kebanjiran. Rumah-rumah warga kena semua, bahkan gereja juga terendam,” katanya
Kondisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Penyebabnya, aliran sungai yang dulunya menjadi jalur keluar air kini tertutup oleh rumput, daun bawang, pohon sagu, dan berbagai tumbuhan lain.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kami ini di tengah dusun sagu. Sungai ada, tapi sudah tertutup sejak tahun 2000. Dulu waktu saya masih SD, kami masih bisa bolak-balik naik kole-kole sampai ke Kokoda. Tapi sekarang kali itu sudah mati,” jelas Ismail.
Masyarakat sendiri tidak mampu menyewa alat berat untuk memberbaiki aliran sungai mati tersebut karena cukup panjang. Ia meminta pemerintah untuk membuat kanal, atau saluran drainase untuk mengeluarka air dari kampung mereka.
“Kami minta pemerintah tolong bantu bikin kanal dari Kokoda sampai Kampung Nebes. Kalau tidak, dua kampung ini akan tenggelam terus,” keluhnya.
Ismail menggambarkan betapa berat kehidupan warga di sana dan Kami seperti burung di sarang. Hanya dengar bunyi pesawat lewat, tapi hidup kami tetap susah. Kantin-kantin tidak bisa jalan, mesin 15 PK atau 40 PK pun tidak bisa. Kami terkepung banjir dan tidak ada perhatian pemerintah,
Ismail mengatakan sudah berulang kali menyampaikan kepada pemerintah dan wakil rakyat mengenai permasalahan mereka. “Dua periode kami pilih mantap bupati Samsudin anggiluli dua priode tidak ada hasil apa-apa. Terus kami pilih lagi Ibu Kerenak, juga tidak ada perubahan. Gubernur pun begitu. Kami pemilihan aman, tapi pemerintah tidak pernah kasih perhatian,” katanya.
Ia menegaskan bahwa jumlah penduduk yang terdampak tidak sedikit, jumlahnya mencapai ribuan jiwa. “Benawa 2 lebih dari dua ribu jiwa, Bubuko sekitar seribu lebih. Kalau digabung, bisa sampai enam ribu sampai delapan ribu orang yang menderita banjir,” ungkapnya.

Menurutnya, banjir ini bukan hanya soal rumah warga, tetapi juga mengancam fasilitas umum. Rumah warga rusak, tapi yang paling parah gereja-gereja terendam. Gereja itu pusat kehidupan rohani kami, tapi air masuk sampai ke dalam. Ada foto dan video yang sudah kami kirimkan, bukti nyata bahwa kami tidak bisa lagi diam dan Ismail menyindir keras pemerintah daerah yang tidak pernah turun langsung ke lokasi. “Pemerintah Sorong Selatan harus buka mata. Jangan hanya duduk di kantor, lihat sendiri kondisi kami. Kalau hujan satu malam saja, kampung kami sudah tenggelam. Itu artinya darurat,” tegasnya.
Ia menambahkan, lokasi kampung mereka memang jauh dari jalur transportasi. Untuk ke sungai terdekat, mereka harus tempuh tiga kilometer di Kolbaran, cukup jauh, dan jalurnya pun sulit.
“Kami ini bagian dari Papua Barat Daya. Jangan karena kami tinggal di tengah hutan, suara kami tidak penting. Kalau pemilihan, pemerintah datang ambil suara, tapi setelah itu lupa,” sindirnya.(*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua


















Discussion about this post