Jayapura, Jubi – Jepang mendarat di Biak hampir bersamaan dengan wilayah lainnya di Tanah Papua, terutama di Hollandia pada 19 April 1942. Selanjutnya Jepang berkuasa di Biak dan Pulau Numfor secara bersamaan.
Tak heran kalau pada 1943 warga di Biak sudah melakukan perlawanan terhadap pendudukan militer Jepang di sana. Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan Gerakan Koreri di Biak, sebab selama hadirnya militer Jepang, kerja paksa pun berlaku. Rakyat Biak menjadi budak, mereka dipukuli dan dianiaya.
“Ya, memang tentara Jepang sangat kejam, ada beberapa warga yang saya selamatkan meskipun waktu itu mereka sudah harus dibunuh,” kenang mendiang Guru TS Wospakrik kepada jubi.id beberapa waktu lalu.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Ayah kandung fisikawan Papua Dr Hans Wospakrik itu menuturkan, dia menjadi mandor Jepang pada zaman perang karena dijanjikan akan sekolah dokter. “Siapa yang tak tergiur dengan janji itu yang tak pernah kunjung tiba,“ katanya.
Bersama saudaranya dari Kampung Samber di Biak, guru J Boekorsjom, juga menjadi mandor di Lapangan Terbang Mokmer, sekarang Bandara Frans Kaisiepo di Kampung Ambroben, Biak Timur.
Peristiwa Gerakan Koreri menjelang Perang Dunia Kedua sudah dimulai, terutama dengan tokoh pergerakan utamanya Angganeta Menufandu sejak 1938. Kemudian pada 1942 muncul pemimpin Gerakan Koreri lainnya di Biak. Para pemimpin Koreri itu adalah Stefanus Simopiaref, Mangginomi, Sangaji Namber, Steven Daman, dan Korinus Birmori.

Antropolog Universitas Cendrawasih Jayapura, mendiang Dr Enos H Rumansara, MA pernah menjelaskan tentang ideologi Gerakan Koreri. Ada tokoh mitologi yang dijanjikan akan datang bernama Manarmakeri.
Tokoh mitologi itu mendasari keyakinan tradisional mereka tentang harapan hidup yang lebih baik. Namun, dia kini memang belum hadir di tengah pengikutnya.
”Manarmakeri dipercaya sedang berada di arah barat. Namun, dia telah berjanji bahwa pada tujuh generasi kemudian ia akan datang membawa Dunia Koreri (dunia yang sejahtera) kepada para pengikutnya.
Arnold Mampioper dalam makalahnya berjudul “Mitologi dan Pengharapan Masyarakat Biak Numfor” di STT GKI IS Kijne, Jayapura pada 1976 menyebutkan Gerakan Koreri sebenarnya menjadi bagian dari pergerakan suatu masyarakat untuk menuju perubahan baru yang bercampur dengan semangat mitologi Manarmakeri dan pengetahuan baru dalam masyarakat saat itu.
“Namun intinya adalah perubahan baru dari keadaan yang susah menjadi lebih baik,” tulisnya
Lebih lanjut ia menulis, peristiwa itu berlanjut di Kampung Manswam di Biak. Di sana berkumpul seluruh keret dan klen, karena percaya akan datang Manarmakeri, sang juru selamat membawa kesejahteraan.
“Warga dari berbagai keret berkumpul sesuai marga dan melakukan ‘wor’ menanti datangnya Manarmaker ke Kampung Manswam,” katanya menjelaskan keyakinan Gerakan Koreri waktu itu. “Misalnya dari klen bermarga Yarangga, berkumpul jadi satu dalam upacara wor dalam budaya Suku Byak. Begitu pula dengan marga-marga lainnya di seputar Kampung Manswam.
Peristiwa gerakan Koreri yang berpusat di Kampung Manswam ini bersamaan dengan pembangunan landasan pacu pesawat tempur Jepang di Mokmer, Burokub, dan Sorido. Akibat kerja paksa dan kekejaman yang dirasakan muncul pula gerakan perlawanan melalui Gerakan Koreri yang menanti kedatangan Mesiah, tokoh mitologi orang Byak, Manarmakeri.
Saat itu, warga tengah khusuk melakukan ‘wor’ atau upacara penyembahan kepada Manseren Manggundi di Kampung Manswam. Tentara Amerika Serikat di bawah komando Jenderal Besar Douglas Mac Arthur dengan kekuatan militer Sekutu menghancurkan kekuatan Jepang di Biak, termasuk warga setempat. Menurut cerita orang tua zaman itu, banyak yang meninggal saat terjadinya pengeboman di Biak ketika pesta adat wor tengah dilakukan untuk menanti kedatangan Mesiah.
Bukan hanya itu, General Robert L Eichelberger dalam bukunya yang berjudul “Our Jungle Road to Tokyo” (1961) menulis tentang kisah penyerbuan tentara Amerika Serikat ke pertahanan Jepang di gua Binsari yang sekarang dikenal dengan sebutan Gua Jepang di Kampung Samofa, Biak Kota.
Dalam goa itu tinggal Kolonel Naoyuki Kuzume yang memimpin 3.000 tentara Jepang. Mereka mati dan dibakar hidup-hidup oleh serangan udara akibat ratusan barel berisi bensin jatuh dari udara hingga masuk ke dalam goa-goa itu.

“Ketika kami masuk ke dalam goa itu, banyak bau mayat yang menyengat, rupanya gasoline dan gas telah bekerja dengan baik,” tulisnya.
Tepat 27 Mei 1947, Amerika Serikat dengan strategi lompat katak pimpinan Jenderal Douglash Mac Arthur menaklukkan Biak, termasuk menguasai tiga bandara di Mokmer, Burokub. dan Sorido.
Freeddy Numberi, mantan Gubernur Papua dan mantan Menteri Perikanan dalam bukunya berjudul “Keajaiban Pulau Owi“ menuliskan peristiwa itu. Selanjutnya, tulis Numberi, pada 27 Juni 1944 landasan pacu di Lapangan Terbang Mokmer jatuh ke tangan tentara Sekutu, Amerika Serikat.
Bandara Mokmer langsung menjadi landasan pacu utama bagi pesawat tempur AS di Biak dalam persiapan menuju Tokyo, sebagaimana ditulis Eichelberger dalam “Our Jungle Road to Tokyo” (1961).
Tentara Sekutu membangun fasilitas di Mokmer, termasuk prasarana angkutan udara untuk mobiltas tentara, logistic, dan basis pertahanan. Juga dibangun lapangan terbang di Buroku, sekarang milik TNI AU, Lapangan Terbang Manuhua, dan Lapangan Terbang di Sorido.
Di perkampungan Ambroben dibangun Lapangan Terbang Mokmer, yaitu bekas lapangan terbang Jepang yang diperpanjang dan diperluas dengan ukuran 3.000 meter X 40 meter. Lapangan terbang tersebut dipergunakan RAAF (Royal Australia Air Force) yang bertugas sebagai tentara Sekutu. Pendudukan tentara Sekutu di Biak berakhir menjelang akhir 1946.
Bandara Mokmer Zaman Belanda
Usai perang, wilayah Nieuw Guinea kembali ke Pemerintahan Belanda yang disebut Nederlands Nieuw Guinea. Di Biak pemerintahan dipimpin seorang Hoofd Plaatselijk Bestuur (HPB) atau setingkat bupati sekarang.

“Biak terletak di jalur penerbangan Schiphol Amsterdam ke Sydney, Australia melalui Manila hingga ke Tokyo dan Amerika Serikat,” tulis Frits Sollewijn Gelpke dalam tulisannya berjudul “Biak Pada Awal Abad Jet” yang dirangkum dalam Pim Schoorl, “Belanda di Irian Jaya, Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945-1962”.
Gelpke menulis, selama pertikaian antara Indonesia dan Belanda, Bandara Mokmer menjadi pilihan utama dalam penerbangan dari Schijpol ke Australia, Asia, dan Amerika Serikat.
“Di Biak menjemput dan mengantarkan penumpang sudah menjadi kegiatan sepanjang 24 jam,” tulis Gelpke yang memilih pensiun dan tinggal di Prancis.
Saat itu perusahaan maskapai Kerajaan Belanda, Koninglijke Luchvaart Maatschappij (KLM) membeli pesawat jet DC 8 untuk menggantikan pesawat Super Constellation yang mendarat pada 1959. Akibatnya Bandara Mokmer harus diperpanjang landasan pacunya.
Pesawat jenis DC-8 pertama diluncurkan di Bandara Long Beach, Amerika Serikat pada 9 April 1958 dan terbang pertama kali pada 30 Mei 1958. Setelah sertifikasi Federal Aviation Administration (FAA) pada Agustus 1959, DC-8 mulai beroperasi dengan Delta Air Lines pada 18 September 1958.
Sedangkan pesawat Lockheed L-1049 Super Constellation adalah pesawat Amerika, anggota dari lini pesawat Lockheed Constellation. Pesawat ini dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai Super Connie.
Mengutip https://en.wikipedia.org, L-1049 adalah tanggapan Lockheed terhadap kesuksesan pesawat Douglas DC-6 yang pertama kali terbang pada 1950. Kesibukan Bandara Mokmer di Biak semakin ramai ketika orang-orang Belanda mulai meninggalkan Tanah Papua pada 1962-1963. Hal ini bersamaan dengan hadirnya utusan dari luar, termasuk PBB.

Biak sejak itu dengan bandara internasionalnya menjadi pintu gerbang masuknya penerbangan luar negeri ke Papua. Bahkan Presiden Sukarno mendarat pertama kali di Biak pada 1963 dan selanjutnya ke Kota Baru, sekarang Kota Jayapura.
Pusat penerbangan MNA di Mokmer, Biak
Mengutip https://franskaiseipo-airport.com, Bandar Udara Mokmer di Biak secara resmi diserahterimakan dari UNTEA kepada Pemerintahan Indonesia pada 1 Mei 1963. Dalam masa transasi tersebut dilakukan pembenahan administrasi yang menyangkut organisasi dan operasional.
UNTEA adalah United Nations Temporary Executive Authority, merupakan badan pelaksana sementara PBB yang berada di bawah kekuasaan Sekretaris Jenderal PBB.
Sejak itu, peran Bandara Mokmer sebagai pintu gerbang masuknya penerbangan dari wilayah Indonesia ke Tanah Papua melalui Biak. Terutama setelah hadirnya maskapai milik pemerintah Indonesia bernama Merpati Nusantara Airlines (MNA) yang waktu itu berkantor di Biak.
Lewat majalah Angkasa No. 4 tahun 1972 perusahaan MNA telah mempromosikan rute penerbangan Jakarta ke Biak sebagai pintu gerbang penerbangan ke Irian Jaya.
“MNA mendapat tempat tersendiri di hati penduduk karena sebagai salah satu maskapai yang rutin beroperasi dengan hub (poros) utama di Biak, menghubungkan kota-kota Jayapura dan Merauke, dan dari sana terhubung ke daerah perintis seperti ke Manokwari, Kaimana, Nabire, Mulia, Enarotali, Timika, Tanahmerah, dan Wamena,” demikian pesan dalam iklan Majalah Angkasa.

Memang benar, pada 1977 jika penumpang hendak ke Jakarta harus terbang ke Biak dari Jayapura dengan menggunakan pesawat jenis Foker 27 dan transit di Biak. Selanjutnya naik pesawat balingbaling empat. Waktu itu MNA mengoperasikan pesawat bermesin empat turboprop Vickers Viscount dan Vickers Vanguard.
Sayonara Bandara Internasional Frans Kaisiepo
Pada 25 September 1984 Bandara Mokmer berganti nama menjadi Bandara Udara Frans Kaisiepo Biak. Pergantian nama itu berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM.101/AU.104/phb–1984. Enam tahun kemudian, 1 Januari 1990, Bandara Frans Kaisiepo Biak dikelola Perum Angkasa Pura 1 dengan status sebagai bandara internasional.
Pada 2 April 2024, melalui KM 31/2024, Menteri Perhubungan menurunkan status 17 bandara internasional menjadi bandara domestik di Indonesia. Salah satu adalah Bandara Frans Kaisiepo.
Meski turun status, tentu saja posisi Bandara Frans Kaisiepo tetap strategis karena terletak di Samudera Pasifik, serta berlokasi di garis ekuator. Karena alasan itu pula perusahaan Garuda Indonesia pernah melayani penerbangan internasional sepanjang 1996-1998. Garuda Indonesia membuka route penerbangan ke Amerika Serikat melalui Jakarta-Denpasar-Biak- Honolulu–Los Angeles dengan pesawat berbadan lebar jenis MD-11.
Menurut https://franskaiseipo-airport.com, sebenarnya bandara ini sanggup didarati pesawat sebesar Boeing 747 seri 400. Namun sangat disayangkan rute internasional melintasi Samudra Pasifik ini terhenti karena hantaman krisis ekonomi.
Padahal bandara ini termasuk terpanjang ke empat di Indonesia memiliki run way atau landasan pacu. Pertama Bandara Hang Nadim di Kota Batam dengan panjang runway 4.025 meter dengan kekuatan landasan pacu PCN 85.

Kedua Bandara Kualanamu di Medan dengan panjang runway 3.750 meter. Ketiga Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten dengan runway sepanjang 3.660 meter.
Sedangkan posisi ke empat adalah Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Provinsi Papua terpanjang di Indonesia Timur memiliki runway sepanjang 3.571 meter. Bandara ini juga dibangun di atas litologi batu gamping (limestones) alias batu karang sehingga amat kokoh dan bersifat keras.
Tupolev Rusia singgah di Biak
Pada 5 Desember 2017, jubi.id berangkat dari Jayapura dan singgah di Biak. Ternyata ternyata waktu itu ada pesawat bomber Tupolev Tu-95 MS Angkatan Udara Rusia mendarat di Bandara Internasional Frans Kaisiepo Kehadiran Tupolev Tu-95 merupakan bagian dari misi latihan navigasi jarak jauh Angkatan Udara Rusia. Pesawat ini merupakan jenis pengebom bermesin empat turboprop Kuznetzov, NK-12 M, dan memiliki panjang 46,2 meter dengan lebar sayap 50,10 meter.
Mengutip Izvestia, pesawat yang lepas landas dari lapangan terbang di wilayah Amur itu mampir di Biak, sebuah pulau kecil di sebelah utara pesisir Provinsi Papua, dalam rangka kunjungan internasional.
Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, sebelum sampai di Biak, pesawat Tupolev Tu-95 terlebih dulu melakukan pengisian bahan bakar di atas Samudra Pasifik.
Bukan hanya pesawat Rusia yang pernah singgah di Biak. Pada 22 Mei 2021 pesawat milik maskapai penerbangan dari Kepulauan Solomon singgah di Biak. Waktu itu pesawat Boeing milik Air Solomon hendak ke Manila, tetapi singgah di Biak karena perlu menambah bahan bakar di Bandara Frans Kaisiepo. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post