Jayapura, Jubi – Puluhan turis asal Australia baru saja mendarat di Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak, pada Minggu (28/9/2025). Pesawat maskapai Airnoth dari Australia mendarat mulus di bandara peninggalan Perang Dunia II itu, membawa 46 wisatawan asal Australia dan Inggris.
Tak hanya itu, sebelumnya Bupati Biak Numfor, Markus Oktovianus Mansnembra, telah bertemu dengan Duta Besar Papua Nugini di Jakarta untuk membahas rencana pembukaan rute penerbangan internasional dari Port Moresby menuju Manila melalui Biak.
“Hampir sebulan lalu kami sudah bertemu dengan Dubes dan manajemen Air Niugini. Rencananya rute penerbangan Biak–Jakarta–Singapura–Manila, lalu kembali ke Biak,” ujar Mansnembra, putra mantan Bupati Biak Numfor Kol (Pol) Amandus Mansnembra, sebagaimana dilansir Jubi.id dari laman rri.co.id/daerah.
Mansnembra menegaskan, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor terus berupaya memperluas konektivitas penerbangan internasional dengan menggandeng sejumlah maskapai asing. Upaya ini diharapkan mampu mendukung pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Spenyel Rumainum, konsultan bisnis wisata asal Jayapura, membenarkan pertemuan antara Bupati Biak Numfor dan Dubes PNG untuk Indonesia, Brian K Amini. Ia mengatakan, Amini yang pernah menjabat Konsul PNG di Jayapura memahami potensi wisata Biak dan wilayah sekitarnya.
“Semua ini masih tahap negosiasi. Jika sudah ada kepastian, kami akan menyampaikan kepada publik. Kami sudah melakukan pertemuan dengan Dubes PNG bersama tim dari Bupati Biak Numfor,” kata Rumainum yang juga konsultan ekowisata untuk PNG dan Papua.
General Manager Bandara Frans Kaisiepo PT Angkasa Pura Indonesia, Iwan Sanusi, menambahkan pihaknya juga tengah menjajaki pembukaan rute internasional lain dengan jarak tempuh dua hingga lima jam penerbangan. Di antaranya Papua Nugini dan Timor Leste (sekitar 2 jam), Filipina, Malaysia Timur, dan Cairns–Australia (3 jam), serta Singapura, Hong Kong, dan Okinawa–Jepang (5 jam).
Sejarah Panjang Bandara Frans Kaisiepo
Solomon Air dan Bomber Rusia
Bandara Frans Kaisiepo kerap menjadi titik singgah penerbangan internasional. Maskapai pemerintah Kepulauan Solomon, Solomon Air, pernah mendarat darurat di Biak karena kehabisan bahan bakar pada 31 Januari 2021. Tahun sebelumnya, 28 September 2020, maskapai yang sama singgah di Biak saat mengangkut puluhan tenaga kerja Indonesia dari Honiara menuju Manila.

Pada 5 Desember 2017, ribuan warga Biak berbondong-bondong ke bandara untuk menyaksikan pendaratan pesawat pengebom strategis Rusia, Tu-95 MS, yang terbang langsung dari Vladivostok ke Biak. Dua pesawat pengebom itu didampingi dua pesawat angkut militer Il-76 MD.
Garuda: Biak–Honolulu–Los Angeles
Pada era 1987–1990-an, Garuda Indonesia Airways (GIA) pernah menjadikan Biak sebagai titik transit dalam rute penerbangan Jakarta–Denpasar–Biak–Honolulu–Los Angeles.
Pesawat Garuda berangkat dari Jakarta pukul 14.00 WIB, tiba di Denpasar pukul 17.00 WITA, transit 45 menit di Bandara Ngurah Rai, lalu tiba di Biak pukul 22.00 WIT. Dari Biak, pesawat melanjutkan penerbangan ke Honolulu dan tiba pukul 07.00 pagi sebelum menuju Los Angeles.
Namun, layanan tersebut ditutup seiring berhentinya penerbangan trans-Pasifik Garuda dan terbengkalainya hotel berbintang lima di Marauw yang kini tinggal puing.
Era KLM dan Qantas di Masa Kolonial Belanda
Sejak masa pemerintahan Belanda di wilayah Nederlands Nieuw Guinea, Biak sudah menjadi simpul jalur penerbangan internasional. Dalam buku Belanda di Irian Jaya: Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945–1962 karya Pim Schoorl, Frits Sollewijn Gelpke menulis bahwa Bandara Mokmer (nama lama Bandara Frans Kaisiepo) menjadi lokasi transit utama penerbangan KLM dari Schiphol–Amsterdam menuju Sydney melalui Manila hingga ke Tokyo dan Amerika Serikat.

Pada 1959, maskapai KLM mengganti pesawat Lockheed L-1049 Super Constellation dengan jet DC-8, sehingga landasan pacu Bandara Mokmer diperpanjang untuk menyesuaikan kebutuhan pesawat jet modern. Qantas dari Australia juga menjadikan Biak sebagai titik transit rute Sydney–Biak–Manila–Tokyo–Honolulu–Los Angeles.
Kini, pemerintah pusat dan daerah kembali mengupayakan pembukaan rute internasional dengan harapan mengembalikan kejayaan Biak sebagai simpul jalur udara Pasifik. Wacana ini diharapkan bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan langkah nyata yang bisa diwujudkan di era Presiden Prabowo Subianto.
Akankah Bandara Frans Kaisiepo kembali menjadi gerbang Indonesia di Pasifik? Waktu yang akan menjawab. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




Discussion about this post