Sentani, Jubi – Ketua Persekutuan Oikumene Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi atau POM-STT se-Jayapura, Yustinus Mirip mengatakan mahasiswa teologi yang ada dalam persekutuan Oikumene itu mesti kritis terhadap persoalan di Tanah Papua. Daya kritis itu penting karena mahasiswa teologi merupakan generasi pemimpin masa depan gereja di Tanah Papua yang akan menggembalakan umat.
”Mahasiswa teologi harus meningkatkan kualitas, menjadi lebih kritis terhadap realistis dalam melihat berbagai macam dinamika persoalan di atas Tanah Papua. Mahasiswa teologi harus berpihak kepada yang lemah seperti teladan Yesus,” kata Mirip di Sentani, Ibu Kota Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (8/3/2025).
Mirip mengatakan para mahasiswa teologi harus menjaga kebersamaan dalam honai POM STT se-Jayapura sebagai ruang untuk membangun solidaritas, kekuatan dan persaudaraan sesama dalam pelayanan dari berbagai STT. “Kami berharap ruang ini sebagai wadah membangun refleksi, evaluasi, dan kesadaran kolektif bersama atas kondisi kehidupan umat Tuhan di Tanah Papua,” katanya.
POM STT se-Jayapura mewadahi para mahasiswa dari berbagi STT di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Mereka antara lain berasal dari STT Walter Post, STT Baptis Papua, STT Seminary, STT GIDI Papua, STT Levinus Rumasen, STAKPN Burere, STFT Fajar Timur, dan STFT GKI Izaak Samuel Kijne. Pada Jumat (7/3/2025), POM STT se-Jayapura menggelar diskusi publik secara daring, mengusung tema “Pandangan Teologis Antropologis dan Eksistensi Injil serta Tantangan Bagi Gereja-Gereja di Papua” yang diikuti puluhan mahasiswi dari berbagai wilayah.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Pembina POM STT Se Jayapura, Wayu Heluka mengatakan bahwa tantangan gereja di Tanah Papua adalah berbagai persoalan secara teologis, ajaran secara internal, maupun dan eksternal. Mahasiswa teologi harus menjadi solusi untuk melihat, mendengar, berbicara, dan bertindak untuk Kebenaran Yesus Kristus.
“Tantangan gereja secara internal seperti persoalan spiritual iman warga gereja, masalah sosial-budaya, masalah pembinaan pemuda, masalah pembinaan kaum wanita, dan lainya. Secara eksternal, ada masalah pelayanan warga jemaat yang di pengungsian, perampasan tanah adat, diskriminasi rasial, masalah pelanggaran HAM [yang] belum selesai,” katanya.
Mahasiswa STFT Izak Samuel Kijne Jayapura, Ukima Kambue mengatakan bahwa eksistensi bangsa Papua secara historis telah hidup berdaulat antara alam semesta dan sesama manusia. Bangsa Papua telah ada sebelum gereja dan pemerintah datang ke Papua.
Menurutnya, konteks kehidupan bangsa Papua secara antropologi sangat berbeda bangsa Melayu atau Indonesia. “Hal itu tampak sangat jelas dalam perjumpaan bangsa Papua pada tahun 1855 adalah indikasi kilas balik rujukan untuk melihat kembali dan membangun eksistensi orang Papua sebagai kesadaran kolektif Papua. Dalam perspektif seperti [itu, kita] sangat membutuhkan peran mahasiswa teologi [untuk] bekerja sama dan kolaboratif untuk mewujudkan Tanah Papua yang damai,” ujarnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



















Discussion about this post