Jayapura, Jubi — Sejak pendidikan guru pertama dimulai di Miei, Teluk Wondama, pada 25 Oktober 1925, banyak lahir tokoh pendidikan yang berperan penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Tanah Papua. Jejak mereka tidak terlepas dari sejarah masuknya Injil di Rasiei pada 4 Mei 1866, yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah Teluk Wondama.
Dua guru muda pertama lulusan Sekolah Guru Miei yang melanjutkan studi ke Laha, Ambon, Maluku, pada 1937 adalah Guru Willem Rumainum dan Guru Elisa Hendrik Ayamiseba. Setelah menyelesaikan studi, Willem Rumainum mengajar di Ransiki, sementara Elisa Hendrik Ayamiseba bertugas di Serui.
Guru Elisa Hendrik Ayamiseba, kelahiran Yende di Pulau Roon, Teluk Wondama, adalah ayah dari Dr. Daniel Ayamiseba, dokter pertama asal Tanah Papua yang kini menetap di Michigan, Amerika Serikat.
“Thom Wospakrik dan Elisa Hendrik Ayamiseba merupakan murid kesayangan Dr. I.S. Kijne selama pendidikan di Miei. Anak-anak mereka pun banyak yang sukses, seperti Dr. Daan Ayamiseba, Dr. Hans J. Wospakrik (fisikawan Indonesia), Ir. F.A. Wospakrik (mantan Rektor Universitas Cenderawasih), dan Otto Wospakrik (dosen FISIP Uncen),” ujar Th. Wolas Krenak, mantan anggota Majelis Rakyat Papua Barat, kepada Jubi pekan lalu di Jayapura.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Menurutnya, para lulusan Sekolah Guru Miei tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi guru jemaat, yang memimpin ibadah di berbagai kampung. Salah satu tokoh penting adalah Guru Willem Inuri, yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Irian Barat pada era 1970-an.
Prof. Dr. Ir. Jacob Manusawai, M.H. – Rektor Unipa dari Teluk Wondama

Lahir di Sorong pada 6 Oktober 1958, Prof. Jacob Manusawai menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, lalu melanjutkan studi Diploma IV di Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Cenderawasih (Uncen) Manokwari, lulus pada 1982.
Ia meraih gelar Magister Hukum di Universitas Hasanuddin (2005) dan Doktor Kehutanan di Universitas Mulawarman, Samarinda (2014). Sejak 1989, ia menjadi dosen di Universitas Negeri Papua (Unipa), dan sempat menjabat Kepala Bapedalda Provinsi Papua Barat.
Sebagai ilmuwan, ia menulis berbagai publikasi internasional, antara lain:
- Portrait of Community Mapping Stages Through Zoning System on Management of Teluk Cenderawasih National Park (Tigerpaper, 2011)
- Non-Woody Species Plant of Papuan Island Forest: A Sustainable Source of Food for the Local Communities (Indian Journal of Traditional Knowledge, 2012)
Ia menjabat sebagai Rektor Unipa periode 2015–2019, dan tetap aktif sebagai dosen hingga wafat pada 15 Agustus 2024 di usia 66 tahun di RSUD Papua Barat, Manokwari.
Fransina Yoteni, M.Pd., Ph.D. – Dosen STFT I.S. Kijne

Lahir dan besar di Manokwari, Fransina Yoteni menempuh pendidikan di STFT I.S. Kijne dan melanjutkan studi hingga meraih gelar doktor di bidang pendidikan. Ia kini menjadi dosen tetap dan pengajar pascasarjana di STFT I.S. Kijne, Abepura.
Ia mengajar beberapa mata kuliah seperti Kepemimpinan Transformatif, Metodologi Penelitian, dan Manajemen Pendidikan. Karya ilmiahnya terbit di berbagai jurnal internasional, di antaranya:
- Virtual Learning During the COVID-19 Pandemic: A Disruptive Technology in Higher Education in Indonesia (2021)
- Constraints Experienced by West Papua Higher Educational Managers (Silliman University, Filipina)
- MURAI: Jurnal Papua Teologi Kontekstual (2019)
Wilhelm Mambor – Guru Muda dan Peraih Kalpataru

Lahir di Waresawomi, 6 Juli 1938, Wilhelm Mambor adalah lulusan angkatan keempat Sekolah Guru Miei. Ia mulai mengajar di usia 15 tahun dan bertugas di Inanwatan serta Teminabuan, Sorong Selatan, sejak 1956 hingga pensiun pada 1994.
Selain menjadi guru dan kepala sekolah, ia pernah menjabat Ketua PGRI Kecamatan Teminabuan dan aktif di Partai Kristen Indonesia (Parkindo).
Paska pensiun, Wilhelm Mambor menekuni konservasi satwa langka dan flora Papua, hingga meraih Penghargaan Kalpataru. Ia menangkarkan burung mambruk, nuri, kakatua, maleo, dan kasuari, serta mengembangkan tanaman hias dan kebun pinang serta salak di lahan dua hektare miliknya.
“Saya ingin keluarga saya mencintai alam dan melanjutkan pekerjaan ini,” ujarnya.
Guru Gayus Youmaki – Murid Wospakrik dan Koibur

Gayus Youmaki, kini berusia 84 tahun, merupakan lulusan Sekolah Guru Miei dan ODO Serui, tempat ia diajar langsung oleh Th. Wospakrik dan Karel Koibur.
Sejak 1962, ia mengajar di SD YPK Hamadi dan SD YPK Paulus Dok V, Jayapura. Ia pernah menjadi Kepala Sekolah SD YPK Paulus Dok V (1965–1974), dengan murid-murid yang kemudian sukses di berbagai bidang, termasuk penyanyi era 1970-an, Denok Wahyudi, istri mantan Menlu RI Hasan Wirayuda.
Ia juga melanjutkan studi di Fakultas Ilmu Pendidikan Uncen dengan dukungan Th. Wospakrik yang kala itu menjabat Ketua PUS YPK. Kini, Gayus menikmati masa pensiun di Jayapura.
Dr. Karel Phil Erari – Pendeta dan Teolog Lingkungan

Dr. Karel Phil Erari, pendeta GKI di Tanah Papua, dikenal luas sebagai teolog dan aktivis kemanusiaan. Ia pernah menjabat Sekretaris Sinode GKI di Tanah Papua, dosen di STFT I.S. Kijne, dan anggota Tim 100 Papua yang bertemu Presiden B.J. Habibie pada 1999.
Ia menulis buku penting Tanah Kita, Hidup Kita: Hubungan Manusia dan Tanah di Irian Jaya sebagai Persoalan Teologis (1999), yang kemudian direvisi menjadi Spirit Ekologi Integral (2018).
“Seluruh alam ini—hutan, sungai, tanah, dan laut—adalah satu kesatuan integral. Jika rusak, maka gereja harus menjawabnya sebagai panggilan iman,” katanya.
Willem Inuri – Dari Guru Miei ke Kepala Dinas Pendidikan Irian Barat

Mendiang Willem Inuri menyelesaikan pendidikan di Sekolah Guru Miei pada usia 18 tahun, tahun 1939. Sebagai murid Dr. I.S. Kijne, ia dikenal bersemangat membangun pendidikan di Tanah Papua.
Ia pernah menjabat Penilik Sekolah Dasar se–Tanah New Guinea, dan pada 17 Oktober 1961 dipercaya menjadi Ketua Komite Nasional Papua (KNP), yang mempersiapkan pembentukan Nieuw Guinea Raad (Dewan Papua).
Setelah integrasi Irian Barat ke Indonesia, ia kembali ke dunia pendidikan dan diangkat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Irian Barat, hingga pensiun di Jayapura. (*)
Tulisan ini disusun untuk mengenang dan menghargai dedikasi para tokoh pendidikan asal Teluk Wondama, yang telah meletakkan fondasi penting bagi lahirnya generasi terdidik di Tanah Papua.
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua



Discussion about this post