Jayapura, Jubi – Pada usia 74 tahun, Laua Vanua, salah satu pelopor terakhir penari Tovi, naik panggung untuk pertunjukan terakhirnya. Tarian ini biasanya para penari harus berjalan di atas batang kelapa, tapi ini tak berlaku bagi paitua (bapak tua) Vanua, karena sudah tak kuat lagi bergerak dan bergoyang. Demikian dikutip jubi.id dari laman internet tvwan.com.pg, Sabtu (5/4/2025).
Meskipun ia tidak lagi berjalan di atas batang kelapa, kehadirannya sendiri mengundang rasa hormat yang dalam. Dengan setiap langkah terukur dan gerakan berirama, ia menghidupkan tarian yang telah dibawanya selama beberapa dekade.
Perjalanan Laua Vanua dengan Tari Tradisional Tovi adalah salah satu sejarah dan kehormatan. Pada 16 September 1975, tepat dengan kemerdekaan Papua Nugini. Ia menjadi salah satu penari yang tampil di Pembukaan Parlemen Papua Nugini, yang menandai kemerdekaan negara yang baru berusia 50 tahun itu.

Tiga tahun sebelumnya, pada 1972, ia memamerkan tarian Tovi di Festival Hiri Moale, di mana Hanenamo Ura Varo dinobatkan sebagai Ratu Hiri pertama untuk Abau, tepat sebelum PNG memperoleh kemerdekaan.
Warisannya tidak hanya dalam penampilannya tetapi juga dalam generasi penari yang telah diilhaminya. Laua melangkah mundur sekarang di usia tuanya, kisahnya selamanya terjalin dalam jalinan tradisi Tovi.
Tarian Tovi berasal dari Masyarakat Mailu, tarian ini dipentaskan di atas batang kelapa dan permukaan tanah. Diiringi dengan tabuhan kundu (tifa) yang bertalu talu disertai hentakan gerakan kaki di tanah dan sambil berjalan di atas batang kelapa.
Pertunjukan tarian ini diakhiri dengan menggoyangkan seekor babi besar yang merupakan sebuah ritual melambangkan hubungan tarian tersebut dengan pelatihan prajurit suku Mailu dari orang orang Moapa di Provinsi Tengah, Papua Nugini. (*)

Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!