Jayapura, Jubi – Konferensi Wali Gereja Papua Nugini dan Kepulauan Solomon (CBCPNG dan SI) pada Kamis (20/6/2024) menjadi tuan rumah Hari Pengungsi Sedunia.
Acara yang diperingati di Kantor Utama CBCP PNG dan SI di Port Moresby dihadiri perwakilan Imigrasi PNG, Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, dan pengungsi lama dari Papua Barat (West Papua) di Papua New Guinea (PNG).
Steven Paniu, Petugas Perlindungan Senior Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Pengungsi dalam sambutannya mengatakan pentingnya Hari Pengungsi Sedunia dan menunjukkan jumlah pengungsi di negara Papua Nugini.
“Hari ini adalah Hari Pengungsi Sedunia, saat suara dan gambaran perang dan penderitaan bergema di seluruh dunia,” kata Paniu seperti dikutip Jubi.id dari https://www.postcourier.com.pg pada Jumat (21/6/2024).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Di PNG, kami terus menerima pengungsi atau pencari suaka yang memasuki perbatasannya. PNG saat ini memiliki 13.800 pengungsi dan pencari suaka, kami juga memiliki sekitar 95.000 populasi Internally Displaced Person (IDPs) di PNG,” katanya.

Dia juga menyebutkan ada 11.009 penduduk Papua Barat, yang menurutnya sebagian besar hidup dalam kondisi miskin.
Selain itu, kata dia, kesadaran singkat mengenai peran pengungsi dalam masyarakat dan manfaat pengungsi juga disampaikan pada acara Hari Pengungsi Sedunia 2024 tersebut.
Lima bisnis yang dikelola dan dimiliki masyarakat dari Papua Barat juga diluncurkan dalam perayaan Hari Pengungsi Sedunia di Port Moresby. Bisnisnya meliputi pertanian Cyklop, perusahaan pertanian, layanan pembersihan dan binatu WESPA, dan layanan kayu bakar Makamo, dan layanan komputer Focos.
Sementara itu, data lain menyebutkan ekitar 10.000 warga Papua Barat di Provinsi Barat , Papua Nugini atau PNG memperingati 40 tahun perjalanan perjuangan dan kesulitan mereka hingga saat ini. Minggu ini menandai perayaan 40 tahun sejak mereka tinggal di PNG sejak 1984 hingga 2024.
“Masyarakat Papua Barat di Stasiun Iowara, di Kamp Timur di Distrik North Flay merayakan dengan damai,” demikian dikutip Jubi dari postcourier.com.pg, Selasa (9/4/2024).
Lebih lanjut Post Courier melaporkan anak-anak, pria dan wanita, berkumpul di Stasiun Iowara di Kamp Awin Timur, pinggiran Kampung Drimdamesuk di sepanjang Sungai Fly merayakan hari jadi mereka yang ke-40 tahun.
Para pengungsi dari Papua Barat harus menanti selama 30 tahun untuk menjadi warga Negara PNG. Lebih dari seribu warga Papua Barat di Port Moresby yang tinggal di pemukiman Rainbouw, Hola, dan Wigan baru memperoleh status warga negara Papua New Guinea (PNG). Bahkan hampir semua warga Papua Barat yang sudah menjadi warga negara di PNG harus menunggu hampir 40 tahun.

Pengungsian terbesar orang-orang Papua Barat terjadi pada April 1984. Tercatat sekitar 7.000 ribuan warga mengungsi kala itu. Selanjutnya pada peristiwa 1977 banyak warga Papua Barat melintasi perbatasan di PNG.
Pesan António Guterres, Sekjen PBB
Mengutip https://indonesia.un.org melaporkan dari Sudan hingga Ukraina, dari Timur Tengah hingga Myanmar hingga Republik Demokratik Kongo dan sekitarnya, konflik, kekacauan iklim, dan pergolakan memaksa banyak orang meninggalkan rumah mereka dan menambah penderitaan manusia yang mendalam.
“Angka terbaru menunjukkan bahwa total lebih dari 120 juta orang di seluruh dunia terpaksa mengungsi, termasuk 43,5 juta pengungsi,” kata Sekjen PBB Antonio Gutterer pada Hari Pengungsi Sedunia, 20 Juni 2024.
Ia mengatakan Hari Pengungsi Sedunia adalah tentang menghormati kekuatan dan keberanian mereka dan meningkatkan upaya untuk melindungi dan mendukung pengungsi di setiap langkah perjalanan mereka.
Pengungsi membutuhkan solidaritas global dan kemampuan untuk membangun kembali kehidupan mereka secara bermartabat.
Ketika diberi kesempatan, para pengungsi memberikan kontribusi yang signifikan kepada komunitas tuan rumah mereka, namun mereka memerlukan akses terhadap kesempatan yang sama, pekerjaan, perumahan, dan layanan kesehatan.
Pengungsi muda membutuhkan pendidikan berkualitas untuk mencapai impian mereka.
Dan negara-negara tuan rumah yang bermurah hati, sebagian besar adalah negara-negara berpendapatan rendah atau menengah, membutuhkan dukungan dan sumber daya untuk sepenuhnya memasukkan pengungsi ke dalam masyarakat dan perekonomian.
“Mari kita berjanji untuk menegaskan kembali tanggung jawab kolektif dunia dalam membantu dan menyambut para pengungsi … dalam menegakkan hak asasi manusia mereka termasuk hak untuk mencari suaka … dalam menjaga integritas peraturan perlindungan pengungsi … dan pada akhirnya, dalam menyelesaikan konflik sehingga mereka yang terpaksa meninggalkan komunitasnya bisa pulang ke rumah,” ujarnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

















Discussion about this post