• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Minat pendidikan dan peradaban Papua

February 9, 2023
in Opini
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: - Editor:
Pendidikan

Siswa-siswi Sekolah Dasar saat mengikuti pentas seni budaya di Kantor Wali Kota Jayapura - Jubi/Ramah

0
SHARES
49
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Boban Abdurazzaq Sanggei

Dalam membentuk sebuah peradaban tentu yang diharapkan adalah kemajuan, baik ilmu pengetahuan, kesenian, kehidupan sosial, maupun kepandaian menulis. Dari kemajuan dapat menciptakan kerukunan dan ketenangan, sehingga dapat membangun sarana-sarana untuk kepentingan kolektif.

Bisa dikatakan peradaban merupakan karya atau produk yang diciptakan oleh masyarakat di sebuah wilayah, seperti karya kebudayaan dan keilmuan. Faktor keilmuan inilah yang melahirkan aktivitas sosial, politik, ekonomi dan aktivitas kultur lainnya.

Kerja-kerja keintelektualan dan keilmuan dari anggota masyarakat menjadi faktor lahir, tumbuh dan berkembangnya sebuah peradaban. Sejarawan, filsuf dan penulis buku “The Story of Civilization” Will Durrant mengatakan bahwa rukun peradaban terbagi menjadi empat, yaitu, pertama, tatanan ekonomi; kedua, tatanan politik yang mana organisasi politik berbentuk negara; ketiga, tradisi moral nilai-nilai kebaikan, serta keburukan yang dianut dan dipatuhi oleh masyarakat tersebut; dan keempat, upaya-upaya ilmiah dan upaya untuk mengembangkan kebudayaan.

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Jika kita melihat pembahasan di atas dan merujuk pada pernyataan Will Durrant, semua hal ini dapat dibangun jika masyarakat dapat berpikir dan memiliki ilmu pengetahuan dengan membaca dan belajar melalui pendidikan.

Namun, pendidikan seperti apa yang mampu membahas segala aspek dalam masyarakat? Hanya satu yaitu pada perguruan tinggi atau universitas.

Pembahasan kali ini tentunya kita dapat meneropong lebih jauh terkait permasalahan di Papua yang secara politik, ekonomi, pendidikan dan sosial masih jauh dari kata well done. Mengapa? Karena dari masing-masing subpokok tersebut belum ada titik yang menjadi ‘corak’ Papua itu sendiri. Dan tentunya permasalahan pendidikan di Papua menjadi sebuah polemik yang tidak ada habisnya di tataran akademisi.

BERITATERKAIT

PTM dan gizi buruk memengaruhi anak di Kepulauan Solomon

Pemkab Jayapura rehabilitasi dan bangun 19 sekolah untuk pemerataan pendidikan

Hasil riset di Kampung Endokisi: Negara absen menjawab persoalan pendidikan

Masyarakat Kampung Bengguin Progo minta akses jalan, perumahan, dan air bersih 

Banyak dosen bahkan mahasiswa yang sering berdebat tentang arah pendidikan orang Papua. Namun di satu sisi, permasalahan ini tidak bisa selesai hanya sebatas diskusi atau berdebat di ranah akademik. Harus ada langkah konkret untuk menyelesaikan masalah tersebut.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Jika kita membaca beberapa artikel di internet, banyak anak Papua yang berminat mengikuti tes masuk TNI/Polri dari jalur otonomi khusus (otsus). Tidak heran jika mereka sangat tertarik untuk menjadi aparat keamanan, karena pola pikir mereka yang cenderung menganggap aparat keamanan sebagai profesi yang keren dan gaji tinggi.

Kita tidak bisa mempermasalahkan ketertarikan mereka terhadap profesi tersebut. Namun, kita dapat mengambil hipotesis bahwa ketertarikan pemuda/i Papua pada ranah akademik sudah hilang.

Dalam beberapa tahun terakhir banyak rekrutmen di lembaga TNI/Polri yang dikhususkan untuk orang Papua menggunakan dana otsus. Dilansir dari Surabayatribunnews.com tanggal 25 Oktober 2021, sekitar 1.000 pemuda asli Papua resmi menjadi TNI AD dengan pangkat bintara. Anehnya kuota ini terus melonjak sampai sekarang, bahkan pada pangkat tamtama kuota perekrutannya lebih gila, yaitu sekitar 2.000 orang yang direkrut secara bertahap dari Februari 2022. Pola ini juga diterapkan pada perekrutan bintara polisi, baik bintara polisi tugas umum, maupun bintara brimob.

Hal ini aneh menurut penulis, karena penetapan kuota sebanyak itu pada setiap pangkat akan membuat pemuda-pemudi Papua dari tahun ke tahun lebih memprioritaskan untuk mendaftar sebagai aparat keamanan dibanding melanjutkan pendidikan di universitas.

Hal ini terlihat dari sedikitnya kuota afirmasi pendidikan tinggi (ADIK) dan afirmasi pendidikan menengah (ADEM) tahun 2022 di Provinsi Papua sebesar 850 orang. Itu pun dibagi lagi sehingga ADIK mendapat kuota sebesar 500 orang dan ADEM mendapat 350 orang, sedangkan di Provinsi Papua Barat dibatasi 400 orang.

Hemat penulis hal ini merupakan masalah yang sangat besar, karena pemuda-pemudi Papua ini jika kita ibaratkan sebagai pelari estafet, mereka sedang menunggu tongkat dari para orang tua. Dalam artian mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin Papua selanjutnya.

Jika kebanyakan dari mereka digiring untuk mengikuti pendidikan yang kaku, dibatasi hierarki, dan manut perintah atasan, maka peradaban Papua tidak akan pernah terbentuk. Karena dalam membangun sebuah peradaban tentunya dibutuhkan para pemikir atau cendekiawan yang kritis, kreatif, aktif dan inovatif, untuk menentukan kemana arah Papua akan bergerak.

Di sisi lain, Papua belum mempunyai sosok inspiratif yang ideal dalam bidang pendidikan atau pemerintahan–yang memperjuangkan hidup manusia-manusia Papua pada konteks HAM dalam sebuah negara. Karena cara itulah yang mampu meningkatkan minat pendidikan pemuda-pemudi Papua.

Sangat disayangkan jika pola pikir pemuda-pemudi Papua hari ini berfokus tentang mendapatkan profesi yang dianggap keren dan gaji tinggi. Akan tetapi, mereka lupa bahwa banyak siasat dari pemerintah pusat dan investor yang sedang mengeruk habis sumber daya alam Papua.

Salah satu contoh yang sudah terjadi diceritakan oleh I Ngurah Suryawan dalam bukunya “Papua Versus Papua”. Ia sempat berdiskusi dengan empat orang Arguni tentang saudara mereka di Aroba, Tufoi, Furwata dan Tanah Merah, Kabupaten Teluk Bintuni yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kaimana. Mereka mengatakan bahwa hutan-hutan yang terbentang dari Aroba, Tufoi sampai Teluk Arguni Atas sudah habis ditebang karena masuknya perusahaan kayu dan kelapa sawit.

Untuk mencegah hal-hal tersebut terjadi secara masif, maka dibutuhkan pemuda-pemudi Papua yang sadar dan mampu menyadarkan masyarakat di pedalaman, tentang keharusan menjaga tanah yang telah diturunkan dari nenek moyang orang Papua.

Dari permasalahan di atas penulis ingin menekankan pada pemerintah, bahwa akar permasalahan ini dari tingkat buta huruf anak di kampung masih sangat tinggi. Bagi anak-anak asli Papua yang belum tahu membaca hal ini merupakan masalah yang besar.

Pada suatu waktu penulis mengikuti program pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Kaimana, dengan menjadi tenaga pengajar di kampung. Banyak murid kelas 4-6 Sekolah Dasar yang belum bisa membaca. Jika pun bisa mereka sebatas masih mengeja. Anehnya kampung itu bukan daerah terisolir.

Dalam pandangan penulis mereka memiliki semangat belajar yang tinggi. Namun, ada satu fasilitas yang tidak terpenuhi, yaitu perpustakaan dan buku-buku bacaan. Hal ini yang mengakibatkan tingginya angka putus sekolah. Mengapa? Karena ketidaktahuan membaca membuat mereka minder ketika masuk di tingkat pendidikan selanjutnya. Dengan tidak bisa membaca mereka sering menjadi bahan ejekan dan membuat mereka malu, sehingga berdampak pada mental dan percaya diri mereka. Hal tersebut menghasilkan redupnya minat pendidikan bagi anak-anak Papua, yang akan berimbas pada masa depan mereka dan tanah Papua.

Dilansir dari TribunPapuaBarat.com, Kapolda Papua Barat, Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga mengatakan, ada beberapa polisi jalur otsus yang tidak bisa membaca. Tapi kenapa mereka diterima menjadi polisi?

Hal ini membuat penulis berhipotesis bahwa ada pola yang dimainkan antara pihak aparat keamanan dengan pemerintah untuk mengumpulkan SDM “berkualitas” yang sebetulnya dapat diasah pada pendidikan. Jadi, intinya ketika murid minder dengan ketidaktahuannya akan membaca, mereka akan memilih profesi yang tidak mengandalkan pengetahuan tersebut, sehingga pada masa-masa itu timbullah keputusasaan dari pribadi mereka.

Pada akhirnya, ada beberapa poin yang dapat diambil:

Pertama, hal yang harus diutamakan dalam membangun peradaban Papua adalah pendidikan. Jangan dulu mengajarkan tentang pengetahuan dasar seperti punuk unta berisikan apa, tetapi fokus pada membuat murid dapat membaca, karena membaca merupakan dasar untuk mengetahui dan memahami seluruh ilmu pengetahuan, serta di satu sisi mereka tidak akan malu dan minder saat melanjutkan pendidikannya;

Kedua, anak-anak dan pemuda-pemudi Papua membutuhkan sosok intelektual yang inspiratif saat mereka sedang menempuh pendidikan, baik sosok aktivis, politisi, atau akademisi yang aktif bersuara dan independen;

Ketiga, pemuda-pemudi Papua harus mampu melihat kondisi Papua hari ini secara kritis, kreatif, aktif dan inovatif dalam menentukan apa yang seharusnya mereka lakukan, untuk mencerahkan peradaban Papua. Hal itu hanya dapat dikembangkan pada tataran universitas. (*)

*Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur

 

 

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Tags: opiniPendidikan
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Dana

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Masyarakat menolak MBG juga merupakan HAM

February 27, 2026

Menagih janji Otsus di Kabupaten Sorong: Mengapa pendidikan menengah masih terjebak formalitas administratif?

February 11, 2026
  • Latest
  • Trending
  • Comments
Paskah

Kaledonia Baru, tradisi Paskah dan tradisi kuliner makan cokelat

April 6, 2026
KONI

Dana belum cair, agenda KONI Papua Barat tertunda

April 6, 2026
Fiji

Kabinet setujui dana darurat untuk warga Fiji di Timur Tengah

April 6, 2026
Paskah

Paskah 2026, Jemaat GKI Paulus hias taman dan libatkan semua rayon

April 6, 2026
Layanan

Berobat tanpa panjar: PIH–NAGL luncurkan layanan Cashless

April 6, 2026
PT Freeport

Peringati kontrak perdana PT Freeport, FIM WP turun aksi

April 6, 2026
Members of the Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua Pania Raya (IPMAPAPARA) Malang study city and the Papua Student Alliance of Kawanua Family (KK) Malang — Courtesy of Jubi

Papuan Student Groups in Malang issue statement on Dogiyai violence

April 6, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
beasiswa

Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

April 2, 2026
persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
ekskavator

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

April 1, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Paskah

Kaledonia Baru, tradisi Paskah dan tradisi kuliner makan cokelat

0
KONI

Dana belum cair, agenda KONI Papua Barat tertunda

0
Fiji

Kabinet setujui dana darurat untuk warga Fiji di Timur Tengah

0
Paskah

Paskah 2026, Jemaat GKI Paulus hias taman dan libatkan semua rayon

0
Layanan

Berobat tanpa panjar: PIH–NAGL luncurkan layanan Cashless

0
PT Freeport

Peringati kontrak perdana PT Freeport, FIM WP turun aksi

0
Members of the Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua Pania Raya (IPMAPAPARA) Malang study city and the Papua Student Alliance of Kawanua Family (KK) Malang — Courtesy of Jubi

Papuan Student Groups in Malang issue statement on Dogiyai violence

0

Trending

  • LNG

    JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara