• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Mengenang aksi lompat pagar di Kedubes Amerika (2/3)

May 25, 2022
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
aksi lompat pagar

Thomas Ch Syufi – Jubi/Dok Pribadi

0
SHARES
17
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

 

Oleh: Thomas Ch Syufi*

Aksi lompat pagar di Kedutaan Besar Amerika  Serikat di Jakarta, dilakukan aktivis saat digelarnya  KTT APEC atau Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik(Asia-Pacific Economic Coorperation), 15-16 November 1994 di Bogor, Jawa Barat,

Timor Leste memang harus merdeka, karena Indonesia selama 24 tahun terlalu mensimplikasi persoalan di Timor Leste. Padahal secara faktual, pemerintah Indonesia telah mengetahui bahwa masalah Timor Leste sudah menjadi sorotan masyarakat internasional, termasuk di berbagai forum resmi, seperti Komisi HAM PBB, Parlemen Eropa, Inter-Parliamentary Union (IPU), dan Majelis Umum PBB.

Presiden BJ Habibie mempertahankan pilihannya dengan menjatuhkan referendum kepada Timor Timur sebagai jalan terbaik. Menurut Habibie, negosiasi masalah Timor Leste di New York (PBB) sudah selling-off, sudah melewati rambu-rambu. Keputusan itu juga diambil karena atas keyakinan Habibie dan bisikan Badan Intelijen Negara (BIN) bahwa pihak prointegrasi akan menang nanti.

Namun, semua keyakinan itu sirna. Hasil jajak pendapat terjadi di luar dugaan. Timor Leste kemudian merdeka.

Itulah konsekuensi yang harus diterima oleh Indonesia, setelah kelompok pro-kemerdekaan memenangkan jajak pendapat di Timor Leste, karena Indonesia lalai dan tidak mau menyelesaikan persoalan Timor Leste melalui jalan dialog seperti tawaran Portugal tahun 1986-1987. Indonesia juga bersikap antagonistis; ingin agar persoalan Timor Leste segera diselesaikan.

BERITATERKAIT

Presiden Timor Leste akhiri kunjungan kenegaraan bersejarah di PNG

Australia Pererat Kerja Sama Pembangunan dengan Indonesia dan Timor-Leste

Timor Leste dikecam karena menangkap aktivis saat kunjungan Paus

Kerja sama China dan Timor Leste ingin capai tiga tujuan

Namun di sisi lain, Indonesia sendiri tidak mau menerima proposal Portugal yang mengusulkan akses atas kunjungan pejabat asing ke Timor Leste, seperti pejabat PBB dan misi parlemen yang mewakili semua partai politik dalam parlemen Portugal (diikutsertakan wartawan asing).

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Portugal juga mengusulkan agar Jose Ramos-Horta (aktivis Fretilin di luar negeri) diizinkan berkunjung ke Timor Leste untuk memantau situasi dan bertemu dengan para pemimpin Fretilin, agar ia dapat memberikan kontribusi ke arah penyelesaikan.

Sebelumnya, pada 30 April 1987, Sekjen PBB, Javier Perez de Quellar (1920-2020) asal Peru, berkunjung ke Portugal, untuk mengadakan pembicaraan dengan Presiden Portugal Mario Soares dan Menteri Luar Negeri Jaime Gama. Dari hasil pembicaraan tersebut, Portugal menghendaki Sekjen PBB memediasi atau menaungi perundingan langsung Indonesia-Portugal, untuk menyelesaikan masalah Timor Leste.

Namun, semua hasrat yang disampaikan oleh Portugal, yang masih sebagai penguasa sah secara hukum internasional atas Timor Leste itu, tidak digubris oleh Jakarta.

Mengapa Indonesia tidak mau berdialog? Tentu ada dua alasan yang mendasari itu.

Pertama, pemerintah Indonesia merasa telah memperoleh sebuah kemenangan di KTT Gerakan Non-Blok (GNB) ke-7 di New Delhi, India, 7-12 Maret 1983. Di forum itu terjadi pertarungan sengit antara diplomat Indonesia dan Portugal, serta masing-masing dengan negara sahabat dan pendukungnya tentang status Timor Leste dalam komunike yang akan dilahirkan.

Akhirnya, Indonesia sukses melobi India sebagai Ketua GNB sekaligus tuan rumah KTT GNB untuk tidak mengeluarkan pernyataan tentang Timor Leste. Pemerintah Indonesia juga merasa tidak penting lagi berdialog dengan Portugal, tetapi melanjutkan perjuangan di Majelis Umum PBB.

Pemerintah Indonesia berekspektasi agar MU PBB akan menghapus persoalan Timor Leste dari agenda PBB. Itu akan memperoleh dukungan sangat besar dari negara-negara anggota PBB, sehingga dapat dicapai penyelesaian konflik Timor Leste, yang dapat diterima masyarakat internasional, termasuk sebagai solusi terhormat bagi Portugal;

Kedua, pemerintah Indonesia tidak meladeni keinginan Portugal untuk berdialog langsung tentang status politik Timor Leste, yang dimediasi oleh PBB, karena dikhawatirkan bahwa Fretilin sebagai organisasi perjuangan pembebasan rakyat Timor Leste akan diakui PBB sebagai wadah resmi.

Hal ini akan merepotkan posisi Indonesia dalam percaturan politik global, karena Indonesia telah menuduh dan menstigmatisasi Fretilin sebagai organisasi ilegal, gerakan separatis, prokomunis, dan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).

Bila Fretilin diakui PBB, maka pemerintah Indonesia dan Fretilin akan memiliki derajat yang setara; sama-sama sebagai subjek hukum internasional, hingga mendapat penghormatan dan perlakuan yang sama juga di panggung internasional. Itu akan merugikan Indonesia secara politik.

Akan tetapi, semua langkah yang ditempuh Indonesia seperti simalakama. Membuka dialog sama dengan membuka segala borok tentang invasi militer Indonesia yang berekses pada pelanggaran HAM di Bumi Lorosae.

Sebaliknya, tidak membuka keran dialog pun kebenaran yang terkubur di atas tumpukan kebohongan itu, akan berubah menjadi “kanker ganas” yang merusak seluruh tubuh Republik jika Indonesia berani menerima proposal Portugal, untuk mengizinkan para pejabat PBB atau Parlemen Portugal berkunjung ke Timor Leste.

Juga termasuk mengindahkan saran dari Nelson Mandela pada medio 1990-an. Untuk mengakhiri konflik Timor Leste, Indonesia hanya bisa berdialog dengan pemimpin politik rakyat Timor Leste, yaitu Xanana Gusmao (yang dipenjara di LP Cipinang, Jakarta), tentu akan mengikis segala kecurigaan dan kekhawatiran masyarakat internasional terhadap Indonesia atas Timor Leste.

Namun, sikap Indonesia yang tak pernah terbuka itulah yang mengundang reaksi dan tekanan internasional makin keras tentang masalah Timor Leste melalui referendum 30 Agustus 1999.

Selain itu, terjadi distorsi antara fakta di lapangan dengan laporan yang diterima oleh para diplomat Indonesia, yang terus berjuang dengan gigih di forum PBB untuk mempertahankan Timor Leste dalam NKRI.

Diplomat Indonesia ternyata tidak mampu mengalahkan Jose Ramos-Horta, aktivis Fretilin di luar negeri yang gencar melakukan kampanye anti-Indonesia tentang invasi militer Indonesia dan pelanggaran HAM di Timor Leste. Diplomat Indonesia juga tidak mampu melawan opini publik yang telah dibangun Portugal dan negara-negara sekutunya tentang pelanggaran HAM di Timor Leste. (Bersambung). (*)

Penulis adalah Koordinator Papuan Observatory for Human Rights (POHR) dan Advokat muda Papua

 

 

Continue Reading
Tags: aksi lompat pagarKedubes AmerikaopiniTimor Leste
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Sarmi

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
dana abadi

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026

Discussion about this post

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara