Nabire, Jubi — Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa meminta para bupati delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah agar dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah di berbagai sektor untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan masyarakat.
Kedelapan bupati kabupaten di Provinsi Papua Tengah itu yakni Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai, Intan Jaya, Puncak, Mimika, dan Puncak Jaya.
Gubernur Meki Nawipa menyampaikan hal itu dalam sambutan mewakili menteri dalam negeri saat melantik bupati dan wakil bupati Kabupaten Puncak dan Kabupaten Mimika di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Bandara Lama Nabire, Selasa (25/3/2025).
Pasangan kepala daerah hasil Pilkada 2024 untuk periode 2025-2030 yang dilantik Gubernur Meki adalah Elvis Tabuni dan Naftali Akawal sebagai bupati dan wakil bupati Puncak serta Johannes Rettob dan Emanuel Kemong sebagai bupati dan wakil bupati Mimika.
“Semua orang sedang melihat Papua Tengah ini mau ke mana, kalau Bapa sekalian tidak bekerja maksimal, sayang lima tahun hanya lima malam. Kita tidak akan dikenang oleh siapa pun. Maka dari itu kepentingan generasi masa depan harus diutamakan. Tolong bantu, tolong bantu… Papua Tengah tidak boleh jalan, kita harus terbang,” ujar Nawipa disambut tepuk tangan meriah.
Mengutip sambutan Presiden Prabowo Subianto pada pelantikan kepala daerah secara serentak 20 Februari 2025, Meki mengingatkan agar kepala daerah Kabupaten Puncak dan Kabuaten Mimika yang dilantik bekerja mengutamakan kepentingan rakyat.
“Saudara dipilih oleh rakyat, maka Saudara adalah pelayan rakyat, Saudara adalah abdi rakyat. Saudara harus membela kepentingan rakyat, Saudara harus menjaga kepentingan rakyat kita, Saudara harus berjuang untuk perbaikan hidup mereka. Itu adalah tugas kita sebagai bupati dan wakil bupati,” kata mantan Bupati Paniai terebut.
Sembilan pesan penting
Gubernur Meki Nawipa mengatakan kepemimpinan daerah di Papua Tengah memiliki tantangan dan peluang yang unik, mengingat keberagaman budaya, geografis, dan kebutuhan masyarakat. Karena itu dalam sambutannya, ia menekankan sembilan hal penting yang harus diperhatikan bupati dan wakil bupati Puncak dan Mimika, serta enam bupati lainnya di Papua Tengah.
“Pertama, penghormatan terhadap kearifan lokal. Dalam setiap kebijakan hormati adat istiadat dan nilai-nilai masyarakat setempat. Libatkan tokoh adat dan pemuka masyarakat dalam proses pengambilan keputusan,” katanya.
Kedua, lanjut Nawipa, peningkatan kualitas pendidikan. Prioritaskan pembangunan sekolah, program pendidikan, dan pelatihan keterampilan, terutama di daerah terpencil, agar generasi muda Papua memiliki akses pendidikan yang lebih baik.
“Di Puncak kalau ada konflik perlu koordinasi. Masa depan anak-anak tidak boleh jadi korban hanya karena kepentingan makan dan minum. Kita harus buat yang terbaik baik bagi negeri ini,” ujar mantan penerbang itu.
Ketiga, lanjut Nawipa, pembangunan infrastruktur dasar. Fokus pada pembangunan jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, dan sarana komunikasi untuk meningkatkan konektivitas dan kesejahteraan masyarakat.
“Khusus untuk Puncak, saya lihat jalan di Ilaga diaspal belum sampai di kantor. Listrik juga belum ada, saya sudah pernah ke sana. Puskesmas juga tidak jalan 24 jam, jam 5 sudah tutup. Pak Elvis, Tuhan mau Bapa terpilih untuk mengubah negeri di atas awan supaya menjadi negeri yang cerah esok hari,” katanya.
Keempat, Pemberdayaan Ekonomi. Pemda harus mendukung usaha lokal, seperti pertanian, perikanan, dan kerajinan tangan, agar masyarakat lebih mandiri secara ekonomi.
“Pak John, masyarakat Amungme dan Kamoro masih menanti. Saya melihat masyarakat masih antre di Kantor Pos terima Rp200 ribu sebulan. Hari ini Tuhan pilih walaupun tantangan besar, Tuhan mau Bapak mengubah, melanjutkan apa yang sudah dilakukan untuk sejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Kelima, kata Nawipa, peningkatan layanan kesehatan. Pastikan fasilitas kesehatan tersedia di setiap wilayah, dengan tenaga medis yang cukup dan berkualitas.
“Kita sudah bicara kolobarosi Papua Tengah dan Pemkab Mimika akan menjadi leading sector untuk tolong saudara kita di gunung,” katanya.
Keenam, keberlanjutan dan pelestarian alam. Tetap menjaga keanekaragaman hayati Papua dengan menerapkan kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan.
Ketujuh, transparansi dan akuntabilitas. Pastikan setiap kebijakan dan pengelolaan anggaran daerah dilakukan dengan transparan untuk membangun kepercayaan masyarakat.
“Kita punya uang banyak juga kita tidak bisa buat apa-apa. No Corruption. Hitam-hitam, putih-putih. Uang banyak juga susah, uang tidak banyak juga susah. Tetapi apa yang ada pada kita, itu yang kita jadikan untuk membangun masyarakat. Jangan pernah bermimpi menjadi orang kaya karena kita bukan keturunan orang kaya,” ujarnya.
Kedelapan, penanganan konflik secara bijak. Gunakan pendekatan dialog dan damai untuk menyelesaikan konflik, serta menjaga stabilitas keamanan di daerah.
Kesembilan, lanjut Nawipa, komitmen terhadap otonomi khusus. Manfaatkan dana otonomi khusus untuk program-program yang langsung berdampak pada kesejahteraan Orang Asli Papua.
“Semoga nasihat ini dapat menjadi panduan dalam memajukan Papua secara berkelanjutan dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Kepemimpinan itu tak ada yang kekal. Hari ini kita punya, lusa orang lain punya. Jadi gunakan hari ini yang kita punya untuk tolong rakyat kita,” ujar Meki Nawipa. (*)




Discussion about this post